35 Persen Masyarakat Acuh Terhadap Penyakit Ginjal, Perokok Aktif dan Penderita Obesitas Waspada
Ia juga menambahkan bahwa pasien yang sudah memasuki stadium lima penyakit ginjal harus mengikuti terapi pengganti ginjal.
TRIBUN-MEDAN.com - Peringatan Hari Ginjal Sedunia yang jatuh pada Minggu kedua bulan Maret menjadi suatu kampanye hidup sehat untuk mencegah penyakit ginjal.
Dalam mengampanyekan hal ini, Indonesia Kidney Care Club (IKCC) mengadakan Zoom Conference bertajuk Living Well With Kidney Desease pada Sabtu (20/3/2021) lalu yang didukung oleh Nephrisol, Fitbar, Entrasol, Confidence, E-Care, Prodia, Elvasense dan disiarkan langsung melalui sosial Media Tribun Medan.
Turut mengundang dua narasumber yaitu dr. Alwi Thamrin Nasution, Sp.PD-KGH dan dr. Fitri Nur Malini, S.Sp.GK, masyarakat diajak untuk mengenali tanda-tanda ginjal sudah mengalami penurunan fungsi.
dr. Alwi blak-blakan mengungkapkan bahwa banyak masyarakat yang tak sadar bahwa fungsi ginjal sudah mengalami penurunan. Hal ini lantaran penyakit gangguan ginjal memiliki 5 stadium.
"Kita bicara mengenai penyakit ginjal itu ada lima tahapan. Stadium itu kita lihat fungsi ginjal dalam membersihkan jantung. Stadium 1 itu ginjal masih 90 persen ke atas fungsi, kemudian stadium dua berkisar antara 60 sampai 90 persen, stadium 3 30 sampai 60 persen, stadium 4, 15 sampai 30 persen, dan stadium akhir dengan fungsi ginjal yang hanya mencapai 15 persen," ungkap Alwi, Sabtu (20/3/2021).
"Stadium 1 hingga 4 keluhan hampir tidak ada. Baru muncul kerusakan ginjal 90 persen ke atas. Makanya banyak orang tak sadar punya penyakit ginjal. Cuci darah dimulai pada stadium kelima," lanjutnya.
Minimnya pengetahuan akan kerusakan ginjal ini, Alwi menuturkan bahwa 35 persen penderita yang diagnosis penyakit ginjal tidak paham mengenai penanganannya.
"Dari data didapat 35 persen pasien diagnosis tidak mengerti penyakit ginjal. Sehingga merasa kalau penyakit ginjal itu masa berakhir hidupnya, padahal tidak. Dengan konservatif, pola hidup sama dengan orang normal cuma hanya pembatasan protein dan garam," ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa pasien yang sudah memasuki stadium lima penyakit ginjal harus mengikuti terapi pengganti ginjal.
"Kalau sudah stadium 5 masuk ke terapi pengganti ginjal. Pasien diharapkan mengikuti aturan jadwal dialisis. Jangan ditunda-tunda dan ikut juga aturan diet. Kita tidak mengizinkan pasien minum banyak agar mengurangi berat badan," tuturnya.
Senada dengan Alwi, dr. Fitri juga menuturkan bahwa protein dan mineral wajib dipantau oleh seseorang yang terkena gangguan fungsi ginjal.
"Kalau untuk pasien ginjal sebenarnya kebutuhan karbohidrat dan lemak masih seperti orang normal. Tapi yang perlu diperhatikan yaitu protein dan mineral. Untuk protein pasien sebelum cuci darah harus dibawah orang normal yang biasa 0,8 gr. Kalau pasien gagal ginjal kebutuhannya di bawah normal 0,6 gr," ujarnya.
"Pasien ginjal itu berhak memiliki kualitas hidup yang baik. Yaitu selain pengobatan dia harus menerima nutrisi yang tepat, itu akan pertahankan fungsi tubuh dan organ lain," tambah Fitri.
Namun, masyarakat wajib mengetahui tanda-tanda gangguan fungsi ginjal seperti riwayat penyakit hipertensi, perokok, obesitas, atau penyakit tua.
"Jadi setalah kita tahu punya faktor atau tidak. Maka yang kita lakukan adalah kalau kita penderita hipertensi kontrol, Kita yang rajin screening 3 hingga 6 bulan sekali lewat urin dan darah. Olahraga yang teratur dan minum air putih yang cukup min 2 liter per hari. Stop merokok dan hindari obat-obatan. Kita harus konsumsi makanan sehat dan pertahankan berat secara ideal," jelas Alwi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/ikcc-gelar-zoom-conference-bertajuk-living-well-with-kidney.jpg)