Nasib Timor Leste, Jadi Korban Strategi Jebakan Utang China, Bumi Lorosae Mitra Murahan Tiongkok
Cara untuk 'membeli' negara-negara yang akan dijadikan bagian dari jalur sutra tersebut adalah dengan memberi mereka utang untuk membangun negara mere
Namun kerjasama persahabatan itu rupanya lebih menguntungkan China, dengan impor yang lebih murah bagi mereka serta tempat lapang untuk para penduduk China yang sudah melebihi batas.
Saat invasi Indonesia terjadi pada 1975, diestimasi ada 20 ribu etnis China tinggal di Timor Leste, terutama di ibu kotanya, tapi saat kependudukan tersebut banyak yang pindah ke Australia, Filipina atau kembali ke China.
Tahun 2002, hanya ada 2000-3000 warga China yang tinggal di Timor Leste, dan kondisi antara komunitas lokal dan komunitas China menjadi tegang.
Penulis artikel bernama David Hutt, berbicara kepada warga China yang memiliki toko perangkat keras di Dili hampir 10 tahun tapi jarang bersosialisasi dengan warga Timor Leste dan memilih bergaul dengan komunitas China.
Di Kota Maubisse, ada segelintir teknisi China yang bekerja di proyek perkembangan lokal, mengatakan "aku tidak suka negara ini, aku ingin pulang".
Rekan Timor Leste dari penulis mengatakan ia hanya berbicara kepada warga China saat makan di restoran China di Dili.
Warga Timor Leste sering curiga dan kadang yakin jika China, terutama ekspat yang baru-baru saja masuk, hanya mencari keuntungan di Timor Leste.
Banyak ahli yang kemudian masih meragukan kebaikan China akan terus mengucur ketika minyak Timor Leste sudah habis, perlu diragukan juga bagaimana Timor Leste akan membayar utang mereka.
(*/ tribunmedan.id)
Artikel ini telah tayang di pos-kupang.com dengan judul Ribuan Tenaga Kerja China Dilepas ke Timor Leste, Bumi Lorosae Jadi Mitra Murahan Negeri Tirai Bambu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/702730340.jpg)