IRONI Laeli Atik Supriyatin, Cerdas Alumni UI, Pelakor hingga Pencabut Nyawa Rinaldi Harley Wismanu

Faldo Maldini: aku tracking-tracking melihat grup whatsapp, eh memang iya. Laeli Atik Supriyatin pernah jadi project officer Pemilu BEM UI 2014.

Editor: Tariden Turnip
TRIBUNNEWS/HERUDIN
IRONI Laeli Atik Supriyatin, Cerdas Alumni UI, Pelakor hingga Pencabut Nyawa Rinaldi Harley Wismanu. Tersangka Laeli Atik Supriyatin dan Djumadil Al Fajri diperlihatkan saat konferensi pers pengungkapan mutilasi, di Mapolda Metro Jaya, Kamis (17/9/2020). 

Bahkan, Laeli tercatat pernah bekerja di sebuah perusahaan besar terkemuka.

"Pernah bekerja di satu perusahaan besar juga. Selama kuliah ini anak pintar," terang Yusri Yunus saat rekonstruksi kasus pada Jumat (18/9).

Kendati demikian, Yusri enggan mengungkap detail perusahaan Laeli bekerja itu.

Lebih lanjut, Yusri Yunus menuturkan sosok Laeli yang merupakan sarjana lulusan universitas negeri terkemuka di Depok, Jawa Barat.

"Ada satu temuan baru. Pertama identitas keseharian pelaku. Tersangka L adalah seorang sarjana dari salah satu universitas terkenal di Jakarta, dia sarjana MIPA," papar Yusri Yunus.

Menurut Yusri, Laeli Atik itu merupakan mahasiswi berprestasi selama kuliahnya.

Bahkan, Laeli disebut-sebut pernah mengikuti olimpiade tingkat provinsi.

"Selama kuliah ini anak pintar. Pernah ikut olimpiade kimia tingkat provinsi dan sering mengajar mahasiswa," ujar Yusri Yunus.

Meski Yusri tidak tegas menyebut nama almamater Laeli Atik Supriyatin, mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UI, Faldo Maldini mengakui  Laeli alumni Fakultas MIPA Universitas Indonesia.

Faldo Maldini mengaku, bahwa nama Laeli tak asing di telinganya hingga akhirnya ingatannya kembali segar setelah mengetahui pemberitaan tersebut.

“Familiar lagi pas kemarin dibahas itu, perasaan aku pernah denger deh, aku tracking-tracking melihat grup whatsapp, eh memang iya. Dia pernah jadi project officer Pemilu BEM UI 2014,” ujar Faldo Maldini dikonfirmasi wartawan, Jumat (18/9/2020).

Tak habis pikir, Faldo yang kini berstatus sebagai politikus dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) ini menilai bahwa banyak faktor yang dapat membuat seseorang melakukan perbuatan keji.

“Kalau menurut aku faktornya banyak bukan cuma intelektual, ada faktor keluarga, ekonomi, lingkungan juga bisa. Memang kampus kan tempat orang dididik secara akademik dan non akademik, tapi after kampus life itu kan setiap orang punya dunia sendiri. Jadi menurut aku faktornya banyak, enggak bisa dipukul rata karena anak UI tapi ternyata begini- begini, enggak bisa gitu juga menurut aku,” kata Faldo.

Lanjut Faldo,ia pribadi sangat terkejut saat pertama kali mendengar kabar tersebut.

Bahkan, ia sempat bertanya pada teman-temannya semasa kuliah.

Sumber: Tribun Jakarta
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved