Pekan Depan Pintu Masuk ke Nias Resmi Disekat, Gubernur Diminta Perhatikan Dampak Ekonomi
Pemprov Sumut saat ini tengah mempersiapkan lokasi isolasi bagi mereka yang terindikasi terpapar Covid-19 di Nias
T R I B U N-M E D A N.Com,MEDAN-Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi sebelumnya mewacanakan akan menutup pintu masuk ke Nias pada Kamis (17/9/2020) kemarin.
Namun, rencana itu batal dilakukan karena berbagai hal.
Edy mengatakan, dia pun mengundur rencana penyekatan hingga pekan depan.
• Bupati Nias Sokhiatulo Laoli Akui Daerahnya Kekurangan APD, Alat Rapid Tes hingga Swab
"Harusnya hari ini dibukalah posko itu, tetapi dengan segala keterbatasannya diundur sampai pekan depan," katanya, saat ditemui di Museum Negeri Medan, Kamis (17/9/2020).
Edy mengatakan, selain berupaya menyekat pintu masuk ke Nias, hal lain yang sangat diperlukan saat ini adalah lokasi isolasi.
Ia mengatakan, langkah ini perlu dilakukan guna meredam penyebaran Covid-19 di wilayah yang dikenal dengan sejumlah objek wisata pantainya itu.
"Mulai hari ini, tempat-tempat isolasi ringan, sedang dan berat tengah dipersiapkan.
Intinya, memisahkan orang sehat dengan yang sakit," kata Edy.
• Dipicu karena Sarang Walet, Tiga Pelaku Pembacokan dan Pembakaran Rumah di Nias Ditangkap
Nantinya, bagi pendatang yang berasal dari luar Kepulauan Nias wajib menunjukkan surat keterangan bebas Covid-19.
"Tidak boleh kita tunda lagi, yang kita sekat pertama adalah lapangan terbang, pemberlakuan penyekatan penumpang harus membawa hasil pemeriksaan swab," katanya.
Kemudian, setelah berada di Kepulauan Nias, pendatang wajib mengikuti aturan, dimana mereka wajib menjalani masa karantina sesuai batas waktu yang telah ditentukan.
"Mengenai penyekatan, nanti akan diberlakukan selama 14 hari," katanya.
• Luhut Panjaitan Respons Permintaan Gubernur Sumut Edy Rahmayadi Tutup Jalur Laut dan Udara ke Nias
Mantan Pangkostrad ini mengatakan, penyekatan tidak hanya berlaku bagi masyarakat luar Nias saja.
Bagi masyarakat asli Nias yang ingin pulang kampung juga diberlakukan aturan serupa.
Artinya, siapa saja yang ingin datang ke Nias, wajib hukumnya mengikuti dan mematuhi protokol kesehatan yang sudah dibuat oleh pemerintah.
"Orang yang berasal dari nias juga kita sekat, kita melakukan rapid tes dan swab sampai mendapatkan hasilnya.
Kita siapkan tempat kepada mereka," katanya.
• 90 Warga Positif Corona, Gubernur Edy Rahmayadi Minta Izin Menko Luhut Tutup Akses Masuk Pulau Nias
Kemudian, sambung Edy, dia juga meminta kepada pemerintah seluruh wilayah Kepulauan Nias untuk tidak mencampurkan pasien terpapar Covid-19 di puskesmas.
Perihal ini dimintakannya agar tidak ada pertambahan jumlah orang terpapar pandemi Covid-19.
"Puskesmas tidak merawat orang yang terpapar Covid-19," tegas Edy.
Disinggung lebih lanjut mengenai kesiapan rumah sakit, mantan Pangdam I/Bukit Barisan ini mengatakan bahwa rumah sakit di Nias hanya memiliki alat pemeriksa TCM, bukan PCR atau swab.
Seiring berjalannya waktu, dia pun sudah mengajukan pengadaan alat PCR kepada pemerintah pusat.
"(alat rapid dan swab) sudah dikirim hari ini," kata Edy.
Adapun alat rapid test yang dikirim ke Nias itu berjumlah 1.875. Dia berharap, setelah alat rapid test ini sampai ke Nias, tenaga medis dan Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan (TGTPP) Covid-19 Nias dapat memanfaatkannya secara baik demi kepentingan masyarakat luas.
Katanya, pemeriksaan terhadap masyarakat yang mungkin saja pernah melakukan kontak erat dengan pasien positif Covid-19,
atau yang patut diduga sudah terpapar perlu dilakukan secepat mungkin dalam rangka menekan penyebaran corona semakin luas.
Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Pemprov Sumut Alwi Mujahit mengatakan, alat swab yang dikirim ke Nias itu memiliki kelebihan tersendiri, khususnya menyangkut akurasi.
"Jadi alat ini lebih tepat akurasinya, bukan berarti kita tidak pakai yang lain, kita juga sediakan, untuk melakukan pemeriksaan bagi warga yang diduga terpapar," jelasnya.
Dirinya beharap, 1.875 alat rapid ini dapat mencukupi sementara pemeriksaan kepada warga di Kepulauan Nias, demi antisipasi pencegahan penyebaran wabah.
Sebagaimana diketahui, beberapa waktu terakhir angka kasus positif Covid-19 di Nias menanjak secara signifikan.
Sejumlah pihak menilai, kenaikan angka corona di Nias tak terlepas dari adanya pendatang, atau warga Nias yang pulang kampung setelah berkunjung dari kota transmisi Covid-19.
Berdasarkan informasi terakhir, jumlah kasus positif di Nias mencapai 106 orang.
• TANGGAPAN LION Air, Gubernur Edy Rahmayadi Usul Hentikan Sementara Penerbangan ke Nias
Perhatikan Masalah Ekonomi
Anggota DPRD Sumut Daerah Pemilihan (Dapil) Nias Pendeta Berkat Laoly meminta pemerintah daerah memperhatikan perekonomian masyarakat jika ingin melakukan penyekatan terhadap Kepulauan Nias.
Kemudian, Berkat meminta pemda benar-benar memastikan ketersediaan bahan pangan selama penyekatan.
• Selain Mengisolasi Pulau Nias, Edy Rahmayadi Juga Akan Menutup Tempat Hiburan Malam di 3 Daerah Ini
"Yang harus diperhatikan pemerintah Sumut adalah langkah bijak untuk melindungi kepentingan masyarakat umum.
Perekonomian, bagaimana hidupnya, bahan pangan, dan bagaimana perhatian kepada masyarakat," kata Berkat.
Kemudian, Berkat juga berharap Pemprov Sumut bisa membantu menyediakan alat pemeriksa dengan metode PCR di Kepulauan Nias.
Sebab, kata Berkat, rumah sakit yang ada di Nias masih berkapasitas Tes Cepat Molekuler (TCM).
"Pemerintah harus menyediakan alat kesehatan, terutama alat swab PCR.
Saat ini yang ada di kepulauan Nias TCM.
Dan tidak mampu untuk memeriksakan masyarakat yang ada di sana," ungkapnya.
• Bunuh dan Cabuli Bocah Perempuan 8 Tahun di Riau, MH (24) Kabur ke Nias, Berhasil Ditangkap Polisi
Selanjutnya, ia meminta kepada Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi untuk segera mengirimkan tenaga kesehatan profesional ke Kepulauan Nias, agar dapat memeriksakan warga yang berstatus Orang Tanpa Gejala (OTG).
Sementara itu, anggota DPRD Sumut lainnya dari Dapil Nias Thomas Dachi menolak kebijakan Gubernur Edy Rahmayadi.
"Mohon dikaji ulang, kalau akses transportasi itu ditutup dari dan ke Nias, bisa mati ekonomi masyarakat di sana. Saya tidak setuju itu," ujarnya.
• HUT Ke-75 RI, PLN UIW Sumut Resmikan Listrik di Tujuh Desa di Nias
Politisi dari Gerinda ini mengatakan, langkah yang paling tepat untuk mencegah penyebaran Covid-19 dengan memperketat protokol kesehatan masyarakat sebagaimana yang dilakukan di daerah lain, termasuk di Kota Medan.
Ditambahkan Thomas, Nias belum bisa hidup secara mandiri, karena masih tergantung dengan daerah sekitarnya terkait kebutuhan pokok hidup mereka.(wen)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/tito-di-nias.jpg)