Hidup Mbah Sarani, Kelaparan Makan Kapuk, Terkadang Merangkak & Telanjang Minta Makan ke Luar Rumah

saat hanya ada air dan air yg ada di sebelah kasurnya ' saking laparnya mbah sampai memakan kapuk dari bantal dan kasur sebagai pengganjal perutnya.

IG: Yuni.Rusmini
Mbah Sarani hidup sebatang kara di Serang, Banten hanya bergantung pada belas kasih para tetangga 

"Dari dulu kerja saya hanya buruh tani atau jual bambu, atau bantu bantu warga dengan upah seikhlasnya,” imbuhnya.

Sempat Heboh 4 Tahun Lalu, Terjawab Adegan Sinetron Hello Kitty Direbus, Penjelasan Penulis Skrip

Kemiskinan juga membuat hubungan antara dirinya dengan mantan istri dan kedua anaknya tuyut memburuk.

Parno mengaku tak bisa berharap banyak agar hubungannya dengan kedua anaknya berjalan baik.

“Saya tidak berani berharap banyak karena takutnya nanti ana anak tidak berkenan dengan saya karen asaya tidak punya apa-apa,” katanya.

Meski sering terpapar hujan dan angin, Parno mengaku tetap nekat bertahan di gubuknya tersebut karena tidak mau merepotkan orang lain.

Satu satunya perabot hanya dipan kayu yang sekelilinganya diberi kelambu yang warnanya sudah pudar.

“Takut juga kalau roboh pas hujan angin. Ini bocor semua, saya hanya bertahan di pojokan dipan itu,” ucapnya.

Tak ada perabotan sama sekali di dapur yang menyatu dengan kamar tidur, satu-satunya kamar yang ada di gubuk Parno.

Dapur yang di tutup kain seadanya karena dinding bambu yang dipasang jarang-jarang hanya terdapat sampah plastik bekas yang berserakan.

Parno mengaku memang tidak memasak karena tidak mempunyai uang untuk membeli peralatan dapur.

Untuk makan sehari-hari Parno lebih banyak diberi oleh tetangganya yang iba dengan nasibnya.

"Makan dikasih sama tetangga, saya sering bantu bantu di situ nyetak bata. Tidak enak kalau dikasih makan terus,” katanya.

Sehari hari kalau tidak membantu tetangganya membuat bata Parno bekerja serabutan.

Kadang bekerja sebagai buruh tanam tebu, kadang bekerja membelah kayu, yang paling sering adalah mencari bambu untuk dijual keliling desa.

“Kadang tiga hari tidak ada pembeli bambu. Kalau ada paling untungnya hanya Rp 25.000,” ucapnya.

Sumber: Kompas.com
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved