Hidup Mbah Sarani, Kelaparan Makan Kapuk, Terkadang Merangkak & Telanjang Minta Makan ke Luar Rumah
saat hanya ada air dan air yg ada di sebelah kasurnya ' saking laparnya mbah sampai memakan kapuk dari bantal dan kasur sebagai pengganjal perutnya.
#ya Allah smg dgn postingan ini , byk yg peduli, si mbah bisa makan layak setiap Hari. sehat trs nggih mbah, di Hari tuanya ....Amin yarroballamin
Sedih ya allah liat mbah sarani yg hidup sebatang kara tanpa anak dan istri
Kisah Mbah Sarani juga diunggah di akun facebook milik Sopia Imaliawati yang bekerja di Wedding Organizer.
Kisah lain
Kisah Kakek 80 Tahun Bertahan Hidup di Gubuk Reyot, Makan dari Belas Kasihan Tetangga
Miris sekali nasib Parno, kakek 80 tahun warga Desa Sugih Waras, Kabupaten Magetan, Jawa Timur.
Ia terpaksa tinggal di sebuah gubuk bambu yang sudah lapuk, reyot dan hampir roboh lima tahun terakhir.
Tidak ada bantuan apapun dari pemerintah desanya, bahkan beras miskin sekalipun. Untuk makan minum, ia mengandalkan belas kasihan tetangganya.
Kepada Kompas.com, Parno mengaku sudah lima tahun menempati gubuk reyotnya tersebut.
Sebelumnya ia tinggal dan tidur di sebuah gardu pos ronda.
"Enggak enak sama warga kalau tinggal di pos ronda, makanya saya buat gubuk ini. Sudah lima tahun gubuknya, makanya bambunya mulai lapuk,” ujarnya, Rabu (21/08/2019).
Sejumlah tiang bambu tampak ditambahkan pada tiang bambu utama agar bangunan yang beratap asbes bantun dari warga tersebut tidak ambruk.
Gubuk yang dihuni oleh Parno sudah tidak layak lagi untuk dihuni karena dinding bambu dipasang jarang jarang sehingga angin dan air hujan dengan leluasa masuk ke dalam rumah .
Dia mengaku menghuni gubuk tersebut setelah istri yang dinikahinya minta cerai cerai darinya. Perekonomian menjadi alasan pernikahannya kandas.
Sejak muda Parno hanya mampu bekerja sebagi buruh tanam tebu atau mencari kayu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/mbah-sarani-hidup-sebatang-kara-di-serang1.jpg)