Putus Asa Luka Caesar Tak Kunjung Sembuh, Ibu Rumah Tangga Gantung Diri di Simalungun
Seorang ibu tumah tangga (IRT) ditemukan tewas dengan cara bunuh diri di kediamannya, Kecamatan Panombean Pane, Kabupaten Simalungun,
Penulis: Alija Magribi | Editor: Juang Naibaho
Terpisah, Ephorus GKPS Simalungun Pdt Rumanja Purba mengatakan bahwa maraknya aksi bunuh diri dalam delapan hari terakhir adalah sebuah fenomena individualistik dalam era modern, sehingga tumbuh masyarakat yang rapuh.
Ia menuturkan ada empat poin yang harus dipahami masyarakat dalam berkehidupan sosial.
Pertama, biasanya seseorang cenderung bunuh diri akibat depresi, tidak mampu mengatasi pikiran.
"Kedua, menurut saya, banyak seseorang yang hidup di tengah masyarakat tidak mendapatkan rasa saling dukung. Dukungan sosial tipis," ujarnya.
Kemudian, ketiga, Pdt Rumanja Purba mengatakan ada fenomena individualistik pada diri masyarakat yang masing-masing hanya menuntut kebutuhan dirinya saja.
Mereka tak peduli dengan saudara dan kerabat di sekitarnya.
Kemudian terakhir, keempat, keimanan masyarakat dengan Tuhan yang tidak tegak lurus dengan kenyataan hidup.
"Mereka beragama hanya pada Tuhan, tidak mau berhubungan baik dengan sesamanya. Maka dari ini, kita perlu sadar untuk mendukung dan mendengar di antara kita," katanya.
(tri bun-medan.com/Alija Magribi)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/bunuh-diri-di-simalungun.jpg)