KNKT Rilis Investigasi Jatuhnya Pesawat Lion Air 737 Max, Dipicu Masalah Teknis dan Desain Pesawat
KNKT menyimpulkan sejumlah masalah mekanis dan desain berkontribusi pada jatuhnya pesawat Lion Air 737 MAX pada 29 Oktober lalu.
Boeing mengatakan akan mendesain ulang sistem anti-stall tersebut agar bisa mengandalkan lebih dari satu sensor dan untuk membantu mengurangi beban kerja pilot.
Boeing mengakui kesalahan pada perangkat keras
Otoritas pengatur lalu lintas di Jakarta melaporkan kehilangan kontak dengan pesawat Lion Air JT610 setelah pesawat naas itu mengudara selama 13 menit usai lepas landas menuju Pangkal Pinang pada 29 Oktober 2018.
Pesawat yang sama dilaporkan juga mengalami serangkaian masalah serupa di ruang kemudi sejak 26 Oktober 2018, dan ini memicu keputusan untuk mengubah sensor angle-of-attack sebelum pesawat itu melakukan penerbangan kedua dari Denpasar ke Jakarta.
Selama penerbangan malam hari yang mematikan itu, instrument "Stick shaker' di pesawat itu membuat gagang kemudi yang dikendalikan pilot bergetar, dan mengirim peringatan terjadi stal atau pesawat kehilangan daya angkat selama 13 menit pesawat itu mengudara.
Hal ini didasarkan pada keyakinan peneliti kalau telah terjadi kesalahan data mengenai sudut posisi pesawat ketika mengudara.
Sudut itu menjadi parameter utama dalam sebuah penerbangan dimana posisinya harus tetap cukup tajam untuk mempertahankan daya angkat pesawat dan menghindari stal aerodinamis.
Sistem anti-stal pada pesawat Lion Air JT610 dilaporkan berulang kali mendorong hidung pesawat ke bawah.
Pasca kecelakaan ini Boeing menuai kecaman luas karena terus menekankan kejadian ini pada faktor pengendalian pesawat oleh pilot dan perawatan pesawat dalam sejumlah responnya ke publik menyikapi laporan pendahuluan dari kecelakaan ini.
Komentar Boeing ini juga memicu perselisihan yang sengit dengan pendiri Lion Air, Rusdi Kirana.
Tetapi sejak itu Boeing mengaku system MCAS dan sensor mereka yang bermasalah turut berkontribusi dalam kecelakaan dan meminta maaf atas nyawa yang hilang tanpa mengakui bertanggung jawab secara formal.
Informasi dari kuasa hukum Lion Air di AS menyebutkan bulan lalu pihak Boeing baru saja membayarkan klaim pertama yang berasal dari kecelakaan Lion Air.
Tiga sumber lain mengatakan kepada Reuters bahwa keluarga mereka yang teewas akan menerima dana kompensasi setidaknya masing-masing sebesar $AS 1,2 juta setara hampir Rp 17 miliar.
Pabrikan Boeing menghadapi hampir 100 tuntutan hukum atas kecelakaan yang menimpa Ethiopian Airlines pada 10 Maret, yang menewaskan 157 orang yang berada dalam penerbangan dari Addis Ababa ke Nairobi. (abc news indonesia)
KNKT Rilis Investigasi Jatuhnya Pesawat Lion Air 737 Max, Dipicu Masalah Teknis dan Desain Pesawat
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/puing-lion-air1.jpg)