KNKT Rilis Investigasi Jatuhnya Pesawat Lion Air 737 Max, Dipicu Masalah Teknis dan Desain Pesawat

KNKT menyimpulkan sejumlah masalah mekanis dan desain berkontribusi pada jatuhnya pesawat Lion Air 737 MAX pada 29 Oktober lalu.

Editor: Tariden Turnip
AP: Achmad Ibrahim
KNKT Rilis Investigasi Jatuhnya Pesawat Lion Air 737 Max, Dipicu Masalah Teknis dan Desain Pesawat . Penyidik KNKT memeriksa puing Lion Air 737 Max yang jatuh di perairan Karawang Jawa Barat, 30 Oktober 2018. 

KNKT Rilis Investigasi Jatuhnya Pesawat Lion Air 737 Max, Dipicu Masalah Teknis dan Desain Pesawat

KOMITE Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mempresentasikan garis besar penyebab jatuhnya pesawat Lion Air 737 MAX pada 29 Oktober lalu pada keluarga korban, Rabu (23/10/2019).

Hal ini dilakukan KNKT menjelang rilis laporan akhir Jumat (25/10/2019).

KNKT menyimpulkan sejumlah masalah mekanis dan desain berkontribusi pada jatuhnya pesawat Lion Air 737 MAX pada 29 Oktober lalu.

Faktor-faktor yang memicu jatuhnya pesawat Boeing 737 seri MAX itu termasuk didalamnya adalah asumsi yang salah tentang bagaimana cara kerja dari perangkat anti-stall - yang disebut Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS) - dan bagaimana pilot menyikapinya.

Presentasi itu juga menunjukkan hal lain yang turut berkontribusi adalah kurangnya dokumentasi tentang bagaimana sistem MCAS akan berperilaku dalam skenario kecelakaan - termasuk pengaktifan perangkat "stick shaker" yang memperingatkan pilot jika pesawat akan kehilangan daya angkat (stal) yang berbahaya.

Sementara faktor lain yang juga turut berkontribusi adalah "kurangnya" komunikasi antar kru penerbangan dan kontrol manual terhadap pesawat , akibat peringatan berulang dan juga gangguan yang terjadi di kokpit.

Laporan itu menyebut kurangnya komunikasi ini sebelumnya telah 'teridentifikasi selama pelatihan", namun KNKT tidak merinci lebih jauh hal tersebut.

Pejabat KNKT, Nurcahyo Utomo, mengatakan Lion Air JT 610 tidak laik terbang dan mendesak Lion Air untuk melakukan perbaikan atas budaya keselamatan.
Pejabat KNKT, Nurcahyo Utomo, mengatakan Lion Air JT 610 tidak laik terbang dan mendesak Lion Air untuk melakukan perbaikan atas budaya keselamatan. (BBC INDONESIA)

Ketergantungan pada sensor angle-of-attack tunggal membuat sistem MCAS lebih rentan terhadap kegagalan, sedangkan sensor angle-of-attack tunggal yang terdapat pada pesawat yang jatuh itu diketahui telah salah dikalibrasi selama perbaikan yang dilakukan sebelumnya.

Seorang juru bicara Boeing menolak mengomentari pemaparan KNKT ini, dengan mengatakan: "Karena laporan itu belum secara resmi dirilis oleh pihak berwenang, masih terlalu dini bagi kita untuk mengomentari isinya."

Perwakilan Lion Air juga menolak berkomentar.

Pesawat Boeing 737 MAX dilarang mengudara di seluruh dunia setelah kecelakaan mematikan kedua terjadi di Ethiopia pada Maret 2019.

Sementara pabrikan Boeing di AS hingga kini masih berada di bawah tekanan untuk menjelaskan apa yang mereka ketahui tentang serangkaian masalah pada pesawat seri 737 MAX sebelum pesawat itu diluncurkan secara komersil.

Ini terutama setelah beredarnya laporan Reuters yang berisi keterangan seorang mantan pilot yang menguji pesawat itu yang menggambarkan perilaku perangkat lunak MCAS yang tidak menentu pada pesawat Boeing 737 MAX .

Dikatakan pengujian dilakukan dua tahun sebelum pesawat mereka yang dioperasikan oleh Lion Air Indonesia mengalami kecelakaan.

Boeing mengatakan akan mendesain ulang sistem anti-stall tersebut agar bisa mengandalkan lebih dari satu sensor dan untuk membantu mengurangi beban kerja pilot.

Boeing mengakui kesalahan pada perangkat keras
Otoritas pengatur lalu lintas di Jakarta melaporkan kehilangan kontak dengan pesawat Lion Air JT610 setelah pesawat naas itu mengudara selama 13 menit usai lepas landas menuju Pangkal Pinang pada 29 Oktober 2018.

Pesawat yang sama dilaporkan juga mengalami serangkaian masalah serupa di ruang kemudi sejak 26 Oktober 2018, dan ini memicu keputusan untuk mengubah sensor angle-of-attack sebelum pesawat itu melakukan penerbangan kedua dari Denpasar ke Jakarta.

Selama penerbangan malam hari yang mematikan itu, instrument "Stick shaker' di pesawat itu membuat gagang kemudi yang dikendalikan pilot bergetar, dan mengirim peringatan terjadi stal atau pesawat kehilangan daya angkat selama 13 menit pesawat itu mengudara.

Proses penyelaman yang dilalukan petugas guna menemukan black box dan badan pesawat Lion Air JT 610 di perairan Karawang, Rabu (31/10/2018).
Proses penyelaman yang dilalukan petugas guna menemukan black box dan badan pesawat Lion Air JT 610 di perairan Karawang, Rabu (31/10/2018). (KOMPAS.com/Ardito Ramadhan D)

Hal ini didasarkan pada keyakinan peneliti kalau telah terjadi kesalahan data mengenai sudut posisi pesawat ketika mengudara.

Sudut itu menjadi parameter utama dalam sebuah penerbangan dimana posisinya harus tetap cukup tajam untuk mempertahankan daya angkat pesawat dan menghindari stal aerodinamis.

Sistem anti-stal pada pesawat Lion Air JT610 dilaporkan berulang kali mendorong hidung pesawat ke bawah.

Pasca kecelakaan ini Boeing menuai kecaman luas karena terus menekankan kejadian ini pada faktor pengendalian pesawat oleh pilot dan perawatan pesawat dalam sejumlah responnya ke publik menyikapi laporan pendahuluan dari kecelakaan ini.

Komentar Boeing ini juga memicu perselisihan yang sengit dengan pendiri Lion Air, Rusdi Kirana.

Tetapi sejak itu Boeing mengaku system MCAS dan sensor mereka yang bermasalah turut berkontribusi dalam kecelakaan dan meminta maaf atas nyawa yang hilang tanpa mengakui bertanggung jawab secara formal.

Informasi dari kuasa hukum Lion Air di AS menyebutkan bulan lalu pihak Boeing baru saja membayarkan klaim pertama yang berasal dari kecelakaan Lion Air.

Tiga sumber lain mengatakan kepada Reuters bahwa keluarga mereka yang teewas akan menerima dana kompensasi setidaknya masing-masing sebesar $AS 1,2 juta setara hampir Rp 17 miliar.

Pabrikan Boeing menghadapi hampir 100 tuntutan hukum atas kecelakaan yang menimpa Ethiopian Airlines pada 10 Maret, yang menewaskan 157 orang yang berada dalam penerbangan dari Addis Ababa ke Nairobi. (abc news indonesia)

KNKT Rilis Investigasi Jatuhnya Pesawat Lion Air 737 Max, Dipicu Masalah Teknis dan Desain Pesawat

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved