Rizki Rahman Takut Hilang kalau Nekat Mencari Ikan, Sepekan Tak Melaut Karena Kabut Asap
Saya sudah tidak melaut selama seminggu. Awal-awalnya masih berani, cuma makin lama takut karena jarak pandang dan tak memiliki alat navigasi modern
Rizki Rahman Takut Hilang kalau Nekat Mencari Ikan, Sepekan Tak Melaut Karena Kabut Asap
TRIBUN-MEDAN.com- Rizki Rahman Takut Hilang kalau Nekat Mencari Ikan, Sepekan Tak Melaut Karena Kabut Asap.
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Provinsi Riau, Jambi, dan sekitarnya menyebabkan nelayan di Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, takut untuk melaut.
Salah seorang nelayan asal Pandan, Rizki Rahman (35) mengatakan, nelayan di sana sudah lebih dari sepekan tidak melaut, karena kabut asap yang melanda wilayah tersebut.
Sebagian besar nelayan merupakan nelayan tradisional yang tidak memiliki alat navigasi yang memadai. Kabut asap yang tebal ini, membuat mereka takut nyasar.
"Saya sudah tidak melaut selama seminggu. Awal-awalnya masih berani, cuma makin lama takut karena jarak pandang dan tak memiliki alat navigasi modern," kata Rizki, Rabu (18/9/2019) malam.
"Seminggu ini kegiatan paling hanya benar-benarin jaring dan kapal. Penghasilan menurun jauh. Karena hari-harinya kita melaut, punya penghasilan," sambungnya.
Baca: BEDA Oppo A9 2020, Oppo A5 2020 dan Oppo Reno2, Bandingkan Harga & Spesifikasi Ponsel September
Baca: Balita Tewas Dalam Insiden Baku Tembak KKB Papua Versus TNI-Polri, Total Korban 3 Tewas dan 4 Luka
Baca: Polisi Tak Tega Tilang Zakir Mamon Setiap Gelar Razia, Padahal Tak Pernah Pakai Helm, Kenapa Ya?
Rizki menjelaskan nelayan di sana bisa saja melaut hingga ke tengah. Tapi, yang di khawatirkan adalah jarak panjang yang semakin terbatas dan tak bisa pulang ke darat.
Nelayan bisa nyasar, atau bahkan bisa sampai ke Samudera Hindia.
Ketakutan ini berasalan. Pada tahun-tahun sebelumnya, dengan kondisi udara yang sama, banyak pelaut yang tersesat. Terlebih saat ini mulai memasuki musim penghujan.
Baca: Pemko Medan Gelar Pelatihan Terkait Pengelolaan Dana Kelurahan
Baca: Putrinya Genap Berusia Sebulan, Evi Masamba Gelar Acara Aqiqahan untuk Sang Anak
Baca: Link Live Streaming Man United vs Astana, Siaran Langsung Kamis (19/9/2019) dan Jumat (20/9/2019)
Kadang hujan datang disertai angin kencang sehingga gelombang laut cukup tinggi. Sebagain besar nelayan hanya menggunakan perahu kecil untuk melaut dan menangkap ikan.
Akibat tak melaut lebih dari sepekan, penghasilan nelayan menjadi berkurang. Mereka hanya berani menangkap ikan di tepian, dengan hasil tangkapan yang tak banyak.
Kalau tetap dipaksakan melaut ke tengah akan bahayakan diri sendiri.
Baca: Nikita Willy Bagikan Momen saat Liburan ke Afrika, Terkenang Keseruan Bermain dengan Anak-anak Himba
Baca: Rosa Meldianti Beberkan Biaya Perawatan Wajah dalam Sebulan, Keluarkan Biaya Hingga Rp 10 Juta
“Tak apa-apa saat ini penghasilan berkurang. Daripada nekat ke tengah laut, nyasar dan tenggelam. Risikonya lebih besar,” tutur nelayan yang memiliki dua orang anak tersebut.
Rizki menerangkan memang tidak semuanya berhenti melaut. Ada yang tetap mencari ikan, dikarenakan memiliki fasilitas navigasi kapal yang canggih (modern).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/transportasi-kampung-nelayan.jpg)