BUMD Pangan Sumut Ditargetkan Terbentuk pada 2020, untuk Tekan Tingkat Inflasi

Tingkat inflasi yang tinggi di antara bulan April hingga Juli disumbang oleh inflasi bahan makanan.

Tribun Medan/Natalin Sinaga
Wakil Gubernur (Wagub) Sumatera Utara (Sumut) Musa Rajekshah dan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumut Wiwiek Sisto Widayat ketika menghadiri Rapat Koordinasi Wilayah Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Provinsi se-Sumatera di Ruang Rapat Lantai IX, KPW Bank Indonesia, Jalan Balai Kota, Medan, Rabu (18/9/2019). 

Menurutnya selama ini memang dari pemantauan pemerintah itu peran fungsinya tidak sampai ke bawah atau ke pengontrol harga pasar. Untuk itu Pemprovsu sudah mempersiapkan pembentukan BUMD Pangan yang akan direalisasikan pada 2020 mendatang

Keberadaan BUMD pangan ini nantinya bisa membeli hasil-hasil pertanian. Kemudian disimpan dan juga memasarkannya kembali. Dengan cara ini harga pasar itu bisa diikuti.

BUMD Pangan nantinya akan mengikuti pasar dan berperan andil jika selama ini hanya memantau tapi mulai waktu dekat ikut berperan serta. Mudah-mudahan hal ini ke depannya segera menjadi lebih membaik.

"Dengan demikian kita juga bisa menggerakkan dan membangkitkan potensi dari pada pertanian kita. Dengan demikian bisa membangkitkan kesejahteraan bagi para petani yang selama ini harga dari petani rendah, sementara harga di pasar tinggi. Akibatnya petani tidak menikmatinya.

Harapan kita ke depan petani sejahtera harga pasar bisa kita kontrol dan masyarakat juga mendapatkan harga yang lebih baik," jelas Musa.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumut Wiwiek Sisto Widayat mengatakan, secara keseluruhan Sumut ini yang membawa inflasi Sumatera secara keseluruhan. Isunya adalah semua produksi pangan di Sumatera itu tidak bisa memenuhi kebutuhan pangan masyarakatnya itu sendiri.

"Saya kira kita akan mencari solusinya apa yang bisa kita sepakati dalam diskusi ini. Bagaimana inflasi itu bisa rendah. Kita akan mencari solusinya apa yang bisa kita lakukan yang bisa kita sepakati baik jangka panjang maupun jangka pendek," katanya.

Ia menjelaskan inflasi yang tinggi dapat berdampak pada daya beli masyarakat akan menurun. Kemudian inflasi yang tinggi juga berdampak pada dunia usaha.

"Makanya kita mengharapkan inflasi itu dapat rendah ataupun stabil, agar korporasi dapat mengambil keputusan yang lebih dengan kondisi investasi yang lebih baik tergantung daerahnya," ucapnya.

Dalam diskusi ini, ia berharap adanya solusi menjaga daya saing dalam perencanaan daerah. Menurut Wiwiek hal ini untuk menjaga agar investor terus dapat masuk untuk berinvestasi. "Menjaga daya saing suatu perencanaan daerah, ini sangat jelas dimana bila suatu harga tinggi akan sulit investor masuk. Makanya kita harus menjaga ini," katanya. (nat/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved