Aliansi Mahasiswa Peduli Danau Toba Minta Gubernur Edy Jelaskan Konsep Wisata Halal di Danau Toba
Terhadap gubernur kita ingin meminta klarifikasi maksud dari pernyataannya soal wisata halal
Penulis: M.Andimaz Kahfi |
"Kami terakhir empat bulan yang lalu, justru mohon maaf. Inilah salah satu kendala. Wisatawan itu bilang, mereka terkendala tempat ibadah. Tentu akan sangat dibutuhkan tur gaet, yang mengingatkan waktu ibadah serta ibadah. Karena dimana-mana pasti seperti itu," ujarnya.
Seperti di Pineng ada penjual makanan yang muslim dan halal, dan seperti di Thailand, kata halal bukan bermaksud mengislamkan. Justru untuk memberikan kemudahan kepada siapapun yang datang.
Fitriyus mencontohkan, bahwa beberapa waktu yang lalu ia pergi ke suatu tempat di Kota Medan. Tempatnya bagus dan layak untuk menjadi referensi.
Namun, karena saat ingin menjalankan ibadah salat tidak ada Musala di tempat tersebut, Fitriyus lalu menjadi tidak nyaman. Karena Musalanya tidak ada.
"Kalau seandainya itu ada tempat salat, tentu saya akan merekomendasikan tempat itu. Tapi karena tidak ada tempat untuk menjalankan ibadah, estetika yang dimiliki menjadi kurang," sebutnya.
Fitriyus menjelaskan bahwa hal itulah yang mungkin melatarbelakangi gubernur berniat untuk membuat tempat wisata ada label (halal), agar memudahkan dan membuat wisatawan menjadi nyaman saat berkunjung, sehingga kedepan Danau Toba bisa menjadi destinasi dunia. Bukan dikotomi semua nanti di daerah tersebut harus diislamkan, bukan seperti itu.
"Saya pribadi mengakui agak susah memang untuk mencari makanan halal disana. Padahal turis luar dari negeri Jiran Malaysia dan Singapura yang banyak datang," jelas Fitriyus.
(mak/tribun-medan.com )
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/aliansi-mahasiswa-peduli-danau-toba-dan-paguyuban-marga-batak-se-kampus-unika-santo-thomas.jpg)