Aliansi Mahasiswa Peduli Danau Toba Minta Gubernur Edy Jelaskan Konsep Wisata Halal di Danau Toba
Terhadap gubernur kita ingin meminta klarifikasi maksud dari pernyataannya soal wisata halal
Penulis: M.Andimaz Kahfi |
"Kita jelas menolak konsep wisata halal karena jika ini yang digadang-gadang dan dikaji terus. takutnya akan menimbulkan perpecahan," pungkas Rico.
Sebelumnya, soal wacana wisata halal, Asisten Administrasi Umum dan Aset Sekretariat Daerah Provinsi Sumut, Muhammad Fitriyus mengatakan bahwa ada salah tafsir soal penjelasan pak gubernur.
Ada rekan-rekan dari luar menilai pernyataan yang dilontarkan gubernur Sumut mau buat wisata syariah dan halal.
Baca: Inilah Pengakuan Mardi (45) yang Spontan Membunuh Eko (15), Anaknya yang Masih Duduk di Bangku SMP
"Terkadang kalau kita tidak tahu istilah dan tujuan serta untuk apa sih yang dikatakan halal itu, seolah tujuannya jadi berbeda. Sehingga apa yang diinformasikan gubernur seolah semua mau diislamkan, dan tidak boleh memasak masakan yang lain," kata Fitriyus, Sabtu (31/8/2019).
Sementara itu, Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Sumatera Utara, Ria Nofida Telaumbanua mengatakan bahwa gubernur punya wacana pembangunan prioritas di Sumut No 5 adalah pariwisata. Itu sejalan dengan prioritas nasional.
Karena Presiden menyampaikan ingin menjadi kawasan Danau Toba sebagai Bali kedua. Jadi bukan hanya kabupaten dan provinsi, tapi nasional juga ikut membantu bagaimana untuk pembangunan kawasan Danau Toba kedepan. Supaya benar-benar menjadi destinasi pariwisata yang membanggakan.
"Ada tiga konsep pariwisata yang harus disiapkan. Atraksi, amenitas dan aksesibilitas. Atraksi di Danau Toba sudah hebat. Ada mulai dari budaya, alam, ulos dan flora fauna. Dari segi atraksi itu sudah memenuhi. Kedua dari amenitas, pengunjung harus dibuat nyaman. Seperti ada restoran. Kan lucu kalau kita datang ke tempat wisata tidak ada tempat makan. Toilet umum dan rest area dan tempat ibadah. Karena kita membawa value ke Danau Toba. Sebab pengunjung dari semua agama, baik muslim dan non muslim serta agama lain. Ini salah satu hal yang harus dipersiapkan dengan matang," kata Ria Nofida.
"Tempat juga patut disediakan, supaya memudahkan pengunjung untuk beribadah. Misalnya ada wisatawan dia muslim. Jadi tidak ada menyinggung apapun. Jadi yang dipikirkan Pak Gubernur itu luar biasa sebenarnya. Supaya kita bisa menghandle wisatawan yang dari negara muslim dan non muslim," sambungnya.
Ria Nofida mencontohkan, misalnya ada wisatawan vegetarian. Itu tentu membutuhkan tempat restoran yang khusus vegetarian.
Nah itu tentu harus diimbau kepada masyarakat disana, kalau ada restoran vegetarian tentu akan memudahkan dan membuat nyaman wisatawan yang memakan makanan khusus vegetarian.
Untuk aksesibilitas, apakah gampang menuju Danau Toba. Nah, hal ini tentu harus dipikirkan. Salah satu akses gampang ke Danau Toba itu adalah membuat Jalan Tol.
Yang tadinya 4 jam akses kesana dan sekarang telah berkurang 1,5 jam. Lalu membuat Bandara Silangit, yang tentunya memudahkan wisatawan.
"Itu akan kita terapkan di program yang akan datang. Mari kita buat di daerah yang tidak ada pola itu menjadi ada. Seperti akses jalan setapak dan kebersihan, sehingga membuat nyaman. Termasuk tempat ibadah yang nantinya akan disampaikan kepada pemerintah setempat. Karena mereka tentu lebih bijaksana menyediakan konsep tersebut. Hal itu yang disampaikan gubernur dan tidak lebih," tuturnya.
Menambahi pernyataan Kadis Pariwisata, Fitriyus mengatakan bahwa target untuk menjadikan pariwisata Danau Toba jadi destinasi dunia, bukan hanya dari satu agama.
Kalau boleh jujur direct yang paling banyak, direct penerbangan dari negara Malaysia ke Danau Toba.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/aliansi-mahasiswa-peduli-danau-toba-dan-paguyuban-marga-batak-se-kampus-unika-santo-thomas.jpg)