Sumut Terkini

Kisah Penyintas Banjir di Huntara: Dari Pengungsian hingga Menyambut Lebaran dengan Semangat Baru

Senyum dibalik dinding Huntara, penyintas banjir kenang tinggal di pengungsian dan sambut lebaran dengan semangat baru.

Penulis: Anisa Rahmadani | Editor: Tria Rizki

Senyum Dibalik Dinding Huntara, Penyintas Banjir Kenang Tinggal di Pengungsian dan Sambut Lebaran dengan Semangat Baru

TRIBUN-MEDAN.COM,MEDAN - Lantunan ayat suci Al-Quran membelah kesunyian diwaktu fajar di Desa Napa, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan

Diantara deretan dinding semi permanen Hunian Sementara (Huntara) lantunan ayat suci Al-Quran menjadi alarm spritual yang memanggil para penyintas banjir untuk terjaga. 

Pantauan Tribun Medan, Senin (9/3/2026). Satu per satu pintu terbuka, pemandangan hangat terlihat saat satu per satu penyintas banjir mengetuk pintu tetangga, untuk memastikan tidak ada satupun jiwa yang melewatkan sahur.

Di Huntara ini, sekat dinding mungkin cukup tipis tapi ikatan kekeluargaannya justru cukup tebal. Tak peduli, masih sedarah atau tidak, bagi mereka seluruh korban bencana adalah keluarganya. 

"Etek, masidung sahur (Kak sahur)," ucap seorang penyintas banjir dengan pemilik Huntara Blok 3 Nomor A12 ini sambil melangkah menuju ke Masjid Huntara untuk makan sahur dan salat subuh berjamaah. 

Bagi penyintas banjir, Ramadan tahun ini cukup terasa berbeda dan sulit dilalui meski mereka sudah tinggal di Huntara.

Bagi mereka, jika dulu alamat rumah pribadinya ditandai hanya dengan cat warna hingga nomor cantik di depan rumah, kini identitas mereka tertuang dalam tulisan nama pemilik dan daftar anggota keluarga yang tertempel di dinding, lengkap dengan lambang Kementerian Pekerjaan Umum (PU) sebagai penanda kepemilikan negara.

Ruang gerak pun menyusut drastis. Tak ada lagi ruang tamu luas atau meja makan terpisah. Hidup mereka kini terangkum dalam satu petak ruangan yang diisi dua kasur, dua lemari, dan satu kipas angin yang setia mengusir gerah.

Urusan privasi pun menjadi tantangan. Fasilitas Mandi Cuci Kakus (MCK) yang dulunya tersedia di setiap rumah, kini harus berbagi. Satu kamar mandi pria dan satu wanita disediakan untuk setiap sepuluh kamar. 

Meski begitu, Huntara ini dirancang layaknya kompleks terpadu lengkap dengan sisi taman di setiap blok, area bermain anak, lapangan bola, musholla, hingga aula.

Meski fasilitas Huntara tergolong sangat layak, nurani para penyintas tak bisa berbohong. Baginya, rumah lama yang lenyap disapu banjir dan longsor pada November lalu tetaplah istana paling nyaman yang pernah mereka miliki.. 

Hal itu diceritakan penyintas banjir Kartini Sihombing (62) dengan mata berkaca-kaca ia mengenang perjalanannya pasca bencana hingga akhirnya ia sampai di Huntara

"Mulai hari Sabtu kemarin kami di sini atau puasa ke 17. Pertama kali lihat ini, pastinya bersyukur, senang dan tenang. Karena tidak perlu lagi mengontrak," jelasnya kepada Tribun Medan,Senin (9/3/2026)

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved