TRIBUN WIKI
Rahasia Konstruksi Rumah Adat Batak Toba, Berdiri Kokoh Tanpa Pondasi dan Sarat Makna Filosofis
Suku Batak Toba memiliki rumah adayang disebut sebagai Ruma Bolon. Rumah tersebut mengandung filosofi yang tinggi.
TRIBUN-MEDAN.COM,- Rumah adat Batak Toba atau Ruma Bolon bukan sekadar tempat tinggal, tetapi juga menjadi simbol identitas, warisan budaya, sekaligus kebanggaan masyarakat Batak Toba.
Hingga kini, keberadaan rumah adat masih dianggap sebagai kekayaan yang tak ternilai karena mencerminkan nilai-nilai kehidupan, filosofi, serta kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.
Di balik bentuknya yang megah, Ruma Bolon memiliki teknik pembangunan yang unik. Rumah ini mampu berdiri kokoh tanpa menggunakan pondasi seperti rumah modern.
Baca juga: Daftar Makanan Khas Batak Toba Halal yang Bikin Penikmatnya Ketagihan
Tidak hanya itu, setiap bagian bangunan, mulai dari tiang, dinding, tangga, hingga ukiran, memiliki nama dan makna tersendiri yang berkaitan erat dengan adat serta pandangan hidup masyarakat Batak.
Penjelasan mengenai struktur dan filosofi rumah adat Batak Toba ini disampaikan berdasarkan hasil wawancara Harian Tribun Medan dengan Sintong Sihombing, mahasiswa Teknik Arsitektur Institut Teknologi Medan (ITM) asal Kabupaten Samosir yang telah melakukan penelitian di sejumlah wilayah mengenai arsitektur tradisional Batak Toba.
Pembangunan Rumah Bolon Diawali dengan Ritual Adat
Sebelum proses pembangunan dimulai, keluarga pemilik rumah terlebih dahulu menggelar prosesi adat mangontang tukkang, yaitu upacara memanggil para tukang sekaligus mempersiapkan kebutuhan pembangunan.
Baca juga: Pelesiran ke Huta Siallagan hingga Tomok, Belajar Budaya dan Sejarah Batak Toba lewat Souvenir
Pada tahap ini, pemilik rumah juga mulai mengumpulkan berbagai material bangunan yang berasal dari hutan.
Selanjutnya, dilakukan proses martuhil, yakni pemahatan pada tiang dan seluruh komponen kayu yang akan menjadi struktur utama bangunan.
Setelah seluruh bagian selesai dipersiapkan, masyarakat sekampung bergotong royong mendirikan rumah melalui ritual palolohon, yang menjadi penanda dimulainya pembangunan Ruma Bolon.
Baca juga: Profil dan Biodata Olivia Pardede, Penyanyi Berdarah Batak Toba yang Tampil di Hadapan Jokowi
Dalam proses tersebut, dipasang rassang atau kaki-kaki rumah di sisi kanan dan kiri, kemudian dilanjutkan pemasangan sumban, yaitu kayu penutup pada bagian atas tiang.
Setelah struktur utama berdiri, tangga rumah dipasang tepat di bagian depan, berada di tengah badan rumah sebagai akses masuk utama.
Berdiri Tanpa Pondasi, Kokoh Berkat Teknik Tradisional
Salah satu keunikan rumah adat Batak Toba adalah tidak menggunakan pondasi yang ditanam ke dalam tanah seperti bangunan modern.
Seluruh kaki rumah hanya bertumpu di atas batu-batu besar yang menjadi alas setelah konstruksi selesai didirikan.
Baca juga: Kumpulan Ucapan Natal dalam Bahasa Batak Toba, Pakpak, Karo, Mandailing dan Simalungun
Meski demikian, teknik konstruksi tradisional ini terbukti mampu membuat rumah tetap kokoh bahkan tahan terhadap guncangan gempa.
Keunikan lainnya, seluruh sambungan kayu tidak menggunakan paku. Sebagai gantinya, masyarakat Batak memanfaatkan tali ijuk yang diikat melalui lubang-lubang pada kayu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/rumah-adat-batak-toba-atau-rumah-bolon.jpg)