TRIBUN WIKI

Pelesiran ke Huta Siallagan hingga Tomok, Belajar Budaya dan Sejarah Batak Toba lewat Souvenir

Huta Siallagan menjadi destinasi yang kerap dikunjungi wisatawan di kala berkunjung ke Kabupaten Samosir.

Tayang:
TRIBUN MEDAN/HO
Seorang pedagang sekaligus pengrajin di Huta Siallagan beberapa waktu lalu. Gibson sedang menjelaskan makna Boraspati sambil memegang Gondang Hasapi. 

TRIBUN-MEDAN.COM, SAMOSIR - Huta Siallagan menjadi destinasi yang kerap dikunjungi wisatawan di kala berkunjung ke Kabupaten Samosir.

Memiliki daya tarik bangunan bersejarah serta pagelaran seni di dalamnya, tak heran banyak wisatawan lokal maupun mancanegara tertarik untuk berkunjung dan mengikuti berbagai kegiatan budaya disini.

Melihat peluang tersebut, masyarakat setempat memanfaatkan momentum ini untuk mengais pundi-pundi rezeki sekaligus memperkenalkan budaya Batak Toba melalui souvenir yang dijajakan.

Seperti halnya Gibson Sinurat, satu di antara pengrajin sekaligus pedagang souvenir di Huta Siallagan yang terletak di Desa Siallagan Pinda Raya, Simanindo, Samosir, Sumatera Utara.

Melalui kios Huta Siallagan, Gibson menjajakan berbagai jenis souvenir khas Batak Toba yang memiliki sejarah menarik di dalamnya sambil memainkan alat musik tradisional, gondang hasapi.

“Gondang hasapi ini biasa digunakan untuk pesta adat Batak bersamaan dengan seruling, sarune bolon dan yang lainnya,” jelas Gibson sambil memegang gondang hasapi.

Diketahui, gondang hasapi terdiri dari hasapi ende (sejenis gitar kecil dua senar), garantung (gambang kayu), sulim (suling bambu berselaput kertas getar), sarune etek (sejenis klarinet), dan hesek.

Gondang hasapi kerap digunakan masyarakat Batak Toba untuk perayaan yang bersifat ritual, misalnya melayani orang kesurupan, mengobati orang sakit, menjauhkan roh jahat, dan lain sebagainya.

Selain alat musik tradisional, terdapat pula tongkat tunggal panaluan yang kerap terlihat di rumah adat Batak Toba.

“Jadi zaman dulu kan belum ada agama, masih percaya pada roh-roh. Nah kepercayaan mereka, tunggal panaluan ini bisa menjadi media komunikasi antar-manusia dengan roh halus, misalnya untuk meminta hujan,” ucapnya.

Tongkat yang memiliki panjang sekitar 150-200 meter ini terbuat dari kayu tada-tada. Terdapat ritual sesajen, pangurason dan berpuasa dalam proses pengerjaannya. Beberapa orang percaya, jika memiliki tongkat ini mereka akan memiliki kekuatan, kekuasaan, dan ditakuti. Tak heran, yang biasanya memiliki tunggal panaluan adalah seorang dukun.

Pernak-pernik ikonik Batak Toba lainnya adalah Aksara Batak (buku Batak). Gibson menjelaskan, semua kekuatan maupun kelemahan orang Batak zaman dahulu terdapat di Aksara Batak.

“Inilah buku Batak, jadi gunanya zaman dulu sebagai tempat dituliskannya kekuatan sampai kelemahan orang Batak, ada juga catatan mengenai obat-obatan di sini. Dan ini terbuat dari kulit kayu,” jelasnya sambil memegang Aksara Batak.

Tak berhenti di situ. Souvenir selanjutnya yang ditunjukkan Gibson kepada tim Tribun Medan ialah boraspati, yang merupakan filosofi orang Batak yang melambangkan persahabatan.

“Ini adalah filosofi orang Batak, namanya boraspati yang melambangkan persahabatan orang Batak,” jelas Gibson.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved