Tribun Wiki

Sosok Mian Sirait Penyumbang Medali Emas untuk Sumut di Pancasila Cup 2

Atlet Para Taekwondo Sumatera Utara, Mian Sirait berhasil mempersembahkan medali emas pada ajang Kejuaraan Taekwondo Pancasila Cup 2.

Tayang:
TRIBUN MEDAN/ISTIMEWA
MEDALI EMAS - Atlet para taekwondo Sumut Mian Sirait saat meraih medali emas di Kejuaraan Taekwondo Pancasila Cup 2 yang memperebutkan Piala Reda Manthovani. Mian merupakan mantan atlet para atletik yang kini hijrah ke para taekwondo. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Atlet Para Taekwondo Sumatera Utara, Mian Sirait berhasil mempersembahkan medali emas pada ajang Kejuaraan Taekwondo Pancasila Cup 2 yang memperebutkan Piala Reda Manthovani.

Kejuaraan tersebut berlangsung di GOR Ciracas pada 15 hingga 17 Mei 2026 dan diikuti atlet-atlet terbaik dari berbagai daerah di Indonesia.

Mian Sirait sukses meraih medali emas di kelas K41 Under 70 kilogram. Raihan tersebut terasa begitu spesial bagi dirinya karena menjadi medali emas pertamanya di cabang olahraga taekwondo pada level nasional dan membawa Sumut meraih juara umum.

Prestasi ini sekaligus menjadi peningkatan signifikan bagi Mian setelah pada edisi tahun lalu hanya mampu membawa pulang medali perunggu.

“Tahun lalu saya meraih medali perunggu, dan tahun ini bisa meraih medali emas. Ini menjadi medali emas pertama saya di taekwondo untuk level nasional,” ujar Mian kepada Tribun Medan, Rabu (20/5/2026).

Sebelum menekuni para taekwondo, Mian ternyata lebih dulu dikenal sebagai atlet atletik. Ia mengaku telah berkecimpung di cabang olahraga atletik selama kurang lebih 10 tahun dengan spesialisasi nomor lari jarak menengah klasifikasi tunadaksa T46.

Bahkan pada ajang Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) 2024, Mian masih tampil sebagai atlet atletik dan berhasil menyumbangkan dua medali emas serta satu medali perunggu untuk Sumut.

Namun setelah itu, pria kelahiran 14 Juli 1994 itu mulai memikirkan peluang untuk mencoba cabang olahraga lain yang dinilai masih bisa dikombinasikan dengan kemampuan fisik yang dimilikinya.

Menurut Mian, keputusan beralih ke para taekwondo bukan tanpa alasan. Ia merasa dasar fisik yang terbentuk selama menjadi atlet lari sangat membantu saat beradaptasi dengan olahraga bela diri tersebut.

“Ketika di atletik saya sudah terbentuk fisik dan otot kaki yang kuat. Saat pindah ke taekwondo, fisik itu masih bisa dikombinasikan. Jadi di taekwondo saya tinggal belajar teknik dan konsentrasi,” katanya.

Pria berusia 31 tahun itu menjelaskan, sekitar 75 persen kekuatan fisik yang dibutuhkan di atletik ternyata memiliki kesamaan dengan kebutuhan fisik di taekwondo, seperti daya tahan, kecepatan, hingga endurance.

Selain itu, faktor regenerasi di cabang atletik yang semakin ketat juga menjadi salah satu pertimbangannya untuk mencoba tantangan baru di dunia para taekwondo.

“Kalau di atletik semua klasifikasi bermain bersama, sementara di taekwondo ada pembagian kelas seperti 58 kilogram, 63 kilogram, sampai 70 kilogram. Jadi peluang bersaing juga lebih terbuka,” jelasnya.

Meski begitu, proses adaptasi dari atletik ke taekwondo tidak sepenuhnya mudah. Atlet asal Kabupaten Toba ini mengaku tantangan terbesarnya berada pada penguasaan teknik dan mental bertanding.

Pada penampilan pertamanya di ajang nasional para taekwondo, ia mengaku masih mengalami demam panggung dan belum memahami ritme pertandingan kategori kyurogi.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved