TRIBUN WIKI
Tikus Kota Vs Tikus Sawah, Mana yang Lebih Berbahaya? Ini Perbedaannya Menurut Penelitian
Perbandingan tikus kota vs tikus sawah terletak pada pola hidup dan habitatnya. Bahkan, tikus kota sering membawa penyakit.
TRIBUN-MEDAN.COM,- Belakangan ini pembahasan tentang tikus kembali ramai setelah meningkatnya perhatian publik terhadap hantavirus, penyakit yang diketahui berkaitan dengan hewan pengerat.
Banyak orang mulai khawatir terhadap keberadaan tikus di sekitar lingkungan rumah maupun area pertanian.
Namun, tidak semua tikus memiliki karakter, habitat, dan tingkat risiko penyakit yang sama.
Dalam dunia kesehatan dan penelitian, tikus kota dan tikus sawah ternyata memiliki perbedaan cukup besar.
Baca juga: Daftar Bahan Dapur Alami yang Tidak Disukai Tikus Penyebar Hantavirus
Tikus kota umumnya hidup di lingkungan padat penduduk seperti selokan, pasar, gudang, hingga permukiman.
Sementara tikus sawah lebih sering ditemukan di area persawahan, ladang, dan lahan pertanian.
Meski sama-sama termasuk hewan pengerat, keduanya membawa risiko yang berbeda terhadap manusia.
Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa jenis penyakit yang dibawa dapat dipengaruhi habitat dan pola hidup tikus tersebut.
Baca juga: Mengenal Tyto Alba, Burung Hantu Pengendali Tikus yang Viral Ditembak Mati Warga Belu
Menurut penelitian dalam jurnal Scientific Reports tahun 2022, tikus yang hidup dekat manusia memiliki potensi lebih besar membawa patogen seperti Leptospira dan hantavirus karena intensitas kontak dengan lingkungan manusia jauh lebih tinggi.
Sementara penelitian lain di Indonesia menemukan bahwa tikus pemukiman menjadi reservoir utama leptospirosis di wilayah padat penduduk dengan sanitasi buruk.
Tikus Kota: Dekat dengan Manusia dan Lebih Berisiko Sebarkan Penyakit
Tikus kota biasanya berasal dari jenis seperti Rattus norvegicus atau tikus got dan Rattus tanezumi yang sering hidup di rumah maupun pasar.
Baca juga: Viral Burung Hantu Tyto Alba Ditembak Mati, Ada Berapa Spesies di Indonesia?
Menurut laporan Nature, habitat mereka sangat dekat dengan aktivitas manusia, mulai dari saluran air, tempat sampah, restoran, hingga gudang makanan.
Karena hidup di area lembap dan kotor, tikus kota lebih sering dikaitkan dengan penyebaran penyakit seperti leptospirosis, salmonella, hingga hantavirus.
Penelitian di Singapura dan Indonesia menunjukkan tikus perkotaan terbukti membawa bakteri Leptospira dan virus hantavirus dalam jumlah signifikan.
Baca juga: Prabowo Beli 1.000 Burung Hantu untuk Bantu Petani Majalengka Basmi Hama Tikus
Selain risiko penyakit, tikus kota juga dikenal lebih agresif dalam mencari makan dan berkembang biak.
Mereka mampu bertahan di lingkungan ekstrem serta cepat beradaptasi dengan racun maupun perangkap.
Penelitian pemetaan infestasi tikus di Asia Tenggara bahkan menyebut kawasan perkotaan dengan curah hujan tinggi dan sanitasi buruk menjadi lokasi paling rawan penyebaran penyakit akibat tikus.
Karena itu, tikus kota sering dianggap lebih berbahaya bagi kesehatan manusia dibanding tikus sawah.
Baca juga: Buah Mengkudu Jadi Andalan Petani Usir Hama Tikus di Sawah, Begini Cara Menggunakannya
Tikus Sawah: Ancaman Besar bagi Pertanian dan Ketahanan Pangan
Berbeda dengan tikus kota, tikus sawah lebih banyak hidup di area pertanian dan jarang masuk ke pemukiman padat.
Jenis ini dikenal sebagai hama utama tanaman padi karena mampu merusak hasil panen dalam jumlah besar.
Tikus sawah biasanya aktif pada malam hari dan berkembang biak sangat cepat saat musim tanam tiba.
Kerugian akibat serangan tikus sawah tidak sedikit karena dapat menyebabkan gagal panen di berbagai daerah pertanian.
Baca juga: Tips Mengusir Tikus, Mulai dari Pakai Garam Hingga Buah Mengkudu dan Jangkrik
Jurnal Online Poltekkes Semarang menyebutkan, bahwa meski dianggap lebih “alami”, tikus sawah tetap dapat membawa penyakit tertentu.
Namun, risiko penularannya kepada manusia dinilai lebih rendah dibanding tikus kota karena interaksi langsung dengan manusia tidak terlalu intens.
Dalam beberapa penelitian tentang leptospirosis di Indonesia, tikus yang paling banyak ditemukan membawa bakteri penyebab penyakit justru berasal dari area pemukiman dan pasar, bukan area sawah.
Meski begitu, petani tetap disarankan memakai pelindung saat bekerja di sawah untuk menghindari kontak dengan urin tikus yang berpotensi terkontaminasi bakteri.
Mana yang Lebih Berbahaya?
Jika dilihat dari dampaknya terhadap kesehatan manusia, tikus kota cenderung lebih berbahaya karena hidup sangat dekat dengan aktivitas sehari-hari manusia dan memiliki peluang lebih besar menyebarkan penyakit zoonosis.
Sementara tikus sawah lebih banyak menimbulkan kerugian ekonomi di sektor pertanian.
Karena itu, pengendalian tikus di lingkungan rumah dan pasar menjadi langkah penting untuk mencegah penyebaran penyakit seperti leptospirosis dan hantavirus yang kini mulai mendapat perhatian luas.(tribun-medan.com)
Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News
Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter dan WA Channel
Berita viral lainnya di Tribun Medan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/tikus-atau-pengerat.jpg)