TRIBUN WIKI
Hari Bumi 22 April 2026 dan Kemunculan Masalah Sosial Green Fatigue
Hari Bumi kerap diperingati tiap tanggal 22 April. Namun peringatan Hari Bumi sering memunculkan masalah sosiak green fatigue.
Penulis: Array A Argus | Editor: Array A Argus
Ringkasan Berita:
- 22 April merupakan peringatan Hari Bumi yang diadakan dengan berbagai kegiatan, seperti menanam pohon dan edukasi lingkungan
- Tujuan utama dari peringatan ini adalah untuk meningkatkan kesadaran tentang pelestarian lingkungan hidup dan planet Bumi
- Di tengah peringatan Hari Bumi, muncul masalah sosial green fatigue, kondisi ketika seseorang merasa lelah, jenuh, bahkan kehilangan motivasi untuk peduli terhadap isu lingkungan
TRIBUN-MEDAN.COM,- Hari Bumi kerap diperingati tiap tanggal 22 April.
Pada tahun 2026, tema yang diusung pada Hari Bumi adalah "Our Power, Our Planet" (Kekuatan Kita, Planet Kita).
Tema ini menekankan peran kolektif masyarakat, aksi nyata individu, dan komunitas dalam menjaga keberlanjutan lingkungan, serta berfokus pada percepatan transisi ke energi bersih dan peningkatan akuntabilitas kerusakan lingkungan.
Baca juga: Apa Itu SnapBoost, Aplikasi yang Viral Disebut Investasi Bodong?
Namun, di saat yang lain melakukan peringatan Hari Bumi, muncul masalah sosial yang namanya green fatigue.
Apa itu green fatigue?
Green fatigue adalah masalah sosial dan psikologis, yang menggambarkan kelelahan emosional yang dirasakan individu atau masyarakat akibat paparan berulang kampanye lingkungan, berita krisis iklim, atau tuntutan gaya hidup "hijau" yang terasa overwhelming dan kurang impactful.
Baca juga: Apa Itu Bobibos? Apa Kandungannya dan Amankah untuk Mesin?
Sebagai masalah, green fatigue menghambat partisipasi publik dalam aksi berkelanjutan karena memicu apatis, sinisme, dan regresi ke kebiasaan tidak ramah lingkungan, mirip efek digital fatigue atau ESG fatigue di Indonesia.
Penyebab Green Fatigue
Penyebab green fatigue cukup beragam.
Salah satunya adalah pendekatan kampanye yang terlalu menekankan ancaman dan bencana tanpa memberikan solusi yang praktis.
Baca juga: Apa Itu Siklon Narelle dan Dampaknya Terhadap Indonesia yang Picu Fenomena Langit Merah di Australia
Selain itu, tuntutan untuk selalu hidup “sempurna” dalam gaya hidup ramah lingkungan juga bisa terasa membebani.
Tidak semua orang mampu langsung beralih ke pola hidup tanpa sampah atau sepenuhnya berkelanjutan.
Ketika ekspektasi terlalu tinggi, masyarakat justru merasa usaha kecil mereka tidak berarti.
Agar masyarakat tidak jenuh dan tetap mau menjaga lingkungan, pendekatan kampanye perlu diubah menjadi lebih realistis dan inklusif.
Baca juga: Apa Itu PT ATIC Tbk? Ignasius Jonan Mundur dari Jabatan Presiden Komisaris
Pesan yang disampaikan sebaiknya menekankan bahwa perubahan kecil tetap memiliki dampak besar jika dilakukan secara konsisten.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/22042024_AKSI-HARI-BUMI_ABDAN-SYAKURO-5.jpg)