TRIBUN WIKI
Apa Itu Bobibos? Apa Kandungannya dan Amankah untuk Mesin?
Bobibos adalah bahan bakar alternatif berbasis biofuel nabati yang dibuat dari jerami padi, limbah pertanian
Ringkasan Berita:
- Bahan Bakar Orisinil Buatan Indonesia Bos (Bobibos) saat ini masih dalam tahap pengujian
- Bobibos diklaim sebagai bahan bakar alternatif yang bersumber dari limbah jerami
- Sejauh ini, belum ada kajian mengenai dampak penggunaan Bobibos terhadap mesin kendaraan
TRIBUN-MEDAN.COM,- Bahan Bakar Orisinil Buatan Indonesia Bos (Bobibos) mulai menarik perhatian publik.
Bobibos adalah bahan bakar alternatif berbasis biofuel nabati yang dibuat dari jerami padi, limbah pertanian melimpah di Indonesia.
Produk ini dikembangkan oleh PT Inti Sinergi Formula sejak 2007 dan resmi diluncurkan pada November 2025 di Bogor, dengan klaim nilai oktan RON 98 yang setara Pertamax Turbo.
Baca juga: Vivo Y31d Pro Jadi Andalan Pekerja Lapangan, Bukan Sekadar Gaya
Bahan baku utamanya, yakni jerami padi diolah melalui proses biokimia canggih, termasuk ekstraksi enzim, fermentasi, dan pemurnian, menghasilkan etanol selulosa generasi kedua.
Dari 1 hektare sawah, bisa diproduksi sekitar 3.000 liter Bobibos, mengurangi pembakaran limbah jerami yang biasa dilakukan petani.
Untuk jenisnya sendiri ada dua, cairan merah untuk mesin diesel (setara solar) dan putih untuk mesin bensin.
Baca juga: Nasib Maling Nekat Lompat ke Sumur Saat Dikejar Warga Sampai Berakhir Dievakuasi Damkar
BBM ini diklaim lebih irit, jarak tempuh lebih jauh, dan emisi rendah karena pembakaran bersih.
Namun, meski diklaim ramah lingkungan, tapi Bobibos masih dalam tahap pengujian oleh pemerintah.
Bagaimana Dampak Jangka Panjangnya?
Pembahasan mengenai Bahan Bakar Orisinil Buatan Indonesia Bos (Bobibos) mulai menarik perhatian, namun ada sejumlah aspek penting yang belum banyak diulas, terutama dari sisi teknis dan dampak jangka panjangnya.
Baca juga: NASIB Mahasiswa Untirta Intip dan Rekam Dosen di Toilet Kampus, Ngaku Sudah Beraksi 5 Kali
Salah satu hal mendasar yang masih menjadi tanda tanya adalah: apa sebenarnya Bobibos secara teknis?
Selama ini, produk ini kerap disebut berbeda dari bahan bakar nabati seperti E5 atau E10, tetapi belum ada penjelasan rinci apakah Bobibos merupakan biofuel campuran, aditif bahan bakar, atau jenis bahan bakar baru yang berdiri sendiri.
Ketidakjelasan ini membuat publik sulit memahami bagaimana cara kerja Bobibos di dalam mesin, termasuk efisiensi energi serta kompatibilitasnya dengan kendaraan yang sudah ada.
Baca juga: Calon Polwan di Jambi Dirudapaksa Oknum Polisi, Ditonton Hingga Disoraki, Hotman Paris Siap Bantu
Ahmad Safrudin, Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbel (KPBB), mengatakan belum jelas terkait kandungan Bobibos.
Sebab, inisiatornya belum memberikan informasi detail.
"Tapi, sekilas itu bioetanol, yang disebut sebagai bensin, dan biodiesel, yang disebut sebagai solar," ujar pria yang akrab disapa Puput itu, dikutip dari Kompas.com.
Baca juga: Kejati Sumut Pastikan Penyebab Kajari Karo Danke Rajaguguk Dicopot Sanksi Kasus Amsal Sitepu
"Tapi, saya enggak tahu realitasnya dicampur BBM fosil atau tidak, kita belum tahu. Karena sekali lagi, inisiator tidak menyampaikan detail," kata Puput.
Selain itu, minimnya informasi teknis juga berdampak pada sulitnya membandingkan Bobibos dengan bahan bakar lain yang sudah lebih dulu digunakan secara luas.
Tanpa data yang jelas, klaim keunggulan seperti lebih hemat atau lebih ramah lingkungan masih bersifat umum dan belum bisa diuji secara objektif.
Baca juga: Akhirnya DPR Tanggapi Anak Wanita Usia 15 Tahun Jadi Tersangka Usai Bela Ayahnya Dipukuli
Padahal, untuk bisa diterima pasar, sebuah bahan bakar harus memiliki kejelasan komposisi dan standar performa yang terukur.
Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Cuk Supriyadi Ali Nandar, menduga produk perantara Bobibos adalah etanol.
"Kami belum melakukan diskusi langsung dengan tim Bobibos, namun menurut informasi dari media yang kami dapatkan bahwa Bobibos di produksi menggunakan bahan baku jerami," ujar Cuk Supriyadi, Sabtu (15/11/2025) dikutip dari Kompas.com.
Baca juga: Kepala BGN Bantah Anggaran Motor Listrik Rp 1,1 T, Dadan: Rp 897 M, Sisanya Dikembalikan ke Negara
"Kami memang pernah melaksanakan kajian bahan bakar dari Jerami dengan produk akhir berupa bioetanol. Kami pun menduga bahwa produk Bobibos ini produk perantaranya adalah etanol yang mungkin diolah lebih lanjut menjadi biogasoline atau biohidrokarbon diesel, hal ini yang harus kami pastikan," imbuh dia.
Di sisi lain, aspek yang juga jarang dibahas adalah dampak jangka panjang penggunaan Bobibos terhadap mesin kendaraan.
Sebagian besar pemberitaan masih berfokus pada manfaat jangka pendek, seperti efisiensi bahan bakar atau performa awal.
Baca juga: Usai Gagal Negosiasi, Presiden AS Donald Trump Minta Iran Tak Kembangkan Nuklir
Namun, belum ada kajian mendalam mengenai bagaimana pengaruhnya setelah digunakan dalam jangka waktu lama, misalnya setelah ribuan kilometer pemakaian.
Pertanyaan seperti potensi munculnya kerak, pengaruh terhadap injektor, hingga kondisi ruang bakar masih belum terjawab dengan jelas.
Padahal, dalam dunia otomotif, daya tahan mesin menjadi faktor krusial dalam menentukan apakah suatu bahan bakar layak digunakan secara luas.
Baca juga: DJI Osmo Pocket 4 Bukan Kamera Saku Biasa, Kurangi Ketergantungan Micro SD
Banyak inovasi bahan bakar alternatif yang awalnya terlihat menjanjikan, namun justru menimbulkan masalah setelah penggunaan jangka panjang.
Oleh karena itu, uji coba berkelanjutan dan transparansi data menjadi hal yang sangat penting untuk memastikan keamanan serta keandalan Bobibos.
Tanpa hal tersebut, kepercayaan publik terhadap produk ini akan sulit terbentuk.
Baca juga: Kronologi Lengkap Rombongan Foto-foto di Tikungan Sitinjau Lauik, Kapolres Solok Dalami Pelanggaran
Founder Bobibos, Iklas Thamrin, mengatakan bahan bakar yang dikembangkan tidak mengandung campuran bensin fosil. Ia menyebut Bobibos diklaim berbasis 100 persen minyak nabati.
Menurut dia, perbedaan ini menjadi poin penting dalam pembahasan dengan pemerintah. Dalam audiensi bersama Ditjen Migas Kementerian ESDM, disepakati akan ada pertemuan lanjutan untuk membahas aspek teknis, termasuk penyamaan persepsi terkait klasifikasi bahan bakar tersebut.
Langkah ini dinilai krusial karena akan menentukan standar pengujian hingga regulasi yang akan digunakan. Proses tersebut juga melibatkan pihak teknis, termasuk Direktorat Teknik dan Lingkungan Migas serta LEMIGAS.
Baca juga: Jembatan Cangar Viral, Ada Pemuda Akhiri Hidup, Kisah Mistis pun Menyeruak
Bahan Bakar Alternatif
Secara keseluruhan, Bobibos memang menawarkan potensi sebagai bahan bakar alternatif buatan Indonesia yang inovatif.
Namun, masih ada pekerjaan besar yang perlu dilakukan, terutama dalam hal transparansi teknis dan pengujian jangka panjang.
Kedua aspek ini menjadi kunci utama untuk menjawab keraguan publik sekaligus memperkuat posisi Bobibos di tengah persaingan bahan bakar yang sudah mapan.
Dengan semakin meningkatnya minat terhadap energi alternatif, peluang Bobibos untuk berkembang sebenarnya cukup terbuka.
Namun, agar tidak sekadar menjadi wacana, diperlukan pembuktian nyata melalui data teknis yang jelas dan hasil uji lapangan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Jika hal ini dapat dipenuhi, bukan tidak mungkin Bobibos akan menjadi salah satu inovasi energi yang benar-benar memberikan dampak besar di masa depan.
Direktur PT Inti Sinergi Formula, Randy F. Firdaus, mengatakan parameter pengujian akan ditentukan oleh tim teknis yang dibentuk bersama Kementerian ESDM.
Namun, secara umum, pengujian tidak akan jauh berbeda dari skema yang digunakan pada program bahan bakar nabati sebelumnya.
“Yang diukur biasanya konsumsi bahan bakar, emisi, dan performa mesin. Pengujiannya juga dilakukan di berbagai kondisi jalan,” kata Randy.
Ia menambahkan, pihaknya terbuka mengikuti seluruh ketentuan yang berlaku, termasuk dalam hal perizinan jika nantinya produk dinyatakan layak.
Menurut dia, pengujian menjadi tahap penting untuk membuktikan klaim sekaligus memastikan keamanan penggunaan di masyarakat.
Ke depan, hasil dari proses teknis ini akan menjadi dasar untuk menentukan apakah Bobibos dapat diposisikan sebagai alternatif bahan bakar baru di Indonesia, di luar skema campuran seperti yang selama ini diterapkan.(tribun-medan.com)
Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News
Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter dan WA Channel
Berita viral lainnya di Tribun Medan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/produk-Bobibos.jpg)