Banjir dan Longsor di Taput

Binur Sianturi, Korban Banjir Taput Belum Bisa Sampaikan Kabar ke Anaknya karena Listrik Padam

Rumahnya berada di antara pemukiman warga yang berada di pinggiran Sungai Aek Puli yang bersumber dari kawasan Sipirok. 

Penulis: Maurits Pardosi | Editor: Randy P.F Hutagaol
TRIBUN MEDAN/MAURITS PARDOSI
BANJIR DI TAPUT - Binur Sianturi (64), seorang bapak yang tinggak di pinggiran Sungai Aek Puli kini hanya bisa meratapi sebagian bangunan rumahnya terbawa arus sungai pada Selasa (25/11/2025). 

TRIBUN-MEDAN.com, TARUTUNG - Binur Sianturi (64), seorang bapak yang tinggak di pinggiran Sungai Aek Puli, Kecamatan Simangamban, Kabupaten Tapanuli Utara, kini hanya bisa meratapi sebagian bangunan rumahnya terbawa arus sungai pada Selasa (25/11/2025).

Sejak banjir bandang tersebut, ia belum bisa menghubungi anaknya karena listrik masih padam. 

Rumahnya berada di antara pemukiman warga yang berada di pinggiran Sungai Aek Puli yang bersumber dari kawasan Sipirok. 

"Pada Selasa (25/11/2025), yang pertama sekali terjadi pohon besar tumbang yang berada pada ujung Jembatan Aek Puli yang lama," terang Binur Sianturi saat berada di pinggiran Sungai Aek Puli, Kamis (27/11/2025).

Sebelum banjir bandang terjadi, pohon tumbang yang berada di sudut jembatan, air mulai naik. Sontak, Binur mengemas barang-barang berharganya dan segera membawanya ke tempat keluarga yang berada dekat kawasan tersebut.

"Setelah tumbang pohon besar itu, aku langsung pergi ke rumah dan membereskan barang-barang berharga dan membawanya ke rumah keluarga terdekat di areal sini," sambungnya.

Usai menempatkan barang-barang berharga di rumah keluarga, ia pergi mengikuti acara adat. Sepulang dari pesta adat, tepat pukul 15.00 WIB, ia sudah melihat banyak orang di pinggiran sungai.

"Sekitar pukul 15.00, saya pulang dari pesta adat dan melihat sudah banyak orang di sini. Air sudah tinggi," terangnya.

Akibat banjir tersebut, lumpur dari sungai memasuki rumah warga. Hingga saat ini, warga sekitar masih membersihkan rumah yang sudah dipenuhi lumpur. 

"Kalau kerusakan tidak terlalu parah dibanding rumah warga lainnya di sekitar sini. Hanya pintu bagian belakang saya yang rusak. Tapi banyak juga rumah yang di sini, termasuk satu rumah yang hanyut," terangnya.

Ia mengakut trauma setelah menyaksikan banjir bandang dari sungai tersebut.

"Masyarakat sekitar sini mana ada yang tahu kapan ada banjir bandang. Yang pasti kita trauma. Masyarakat makin ketakutan setelah air semakin tinggi," lanjutnya.

Ia juga sudah mengungsi di rumah keluarganya selama tiga hari sejak Selasa (25/11/2025)

"Karena kondisi ini, saya akhirnya mengungsi ke rumah keluarga. Sudah tiga hari mengungsi," sambungnya.

Ia juga terhalang menyampaikan info soal kondisinya saat ini karena listrik padam.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved