Catatan Sepak Bola
Cerita dari Doha, Menit 91, Tiga Puluh Dua Tahun Lalu
Pertandingan di Al-Ahli Stadium, Doha, Qatar, 28 Oktober 1993, tinggal bersisa kurang lebih satu menit. Jepang unggul 2-1 atas Irak.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: Randy P.F Hutagaol
PERTANDINGAN di Al-Ahli Stadium, Doha, Qatar, 28 Oktober 1993, tinggal bersisa kurang lebih satu menit. Jepang unggul 2-1 atas Irak. Hari itu, enam kontestan fase akhir kualifikasi Piala Dunia 1994 zona Asia menggelar laga secara bersamaan. Di laga lain, Arab Saudi melawan Iran, dan Korea Selatan terlibat duel dengan tetangganya, Korea Utara.
Sebelum laga komposisi klasemen seperti ini: Jepang memuncaki klasemen dengan torehan lima poin, disusul Saudi juga dengan lima poin tapi kalah dalam agregat gol, dan tiga tim; Korea Selatan, Irak, dan Iran sama-sama mengoleksi empat poin. Ada pun Korea Selatan yang hanya memiliki dua poin terpuruk di dasar klasemen.
FIFA kala itu masih memberlakukan sistem poin 2-1-0; dua poin untuk kemenangan, satu untu imbang dan tim yang kalah tidak mendapatkan poin. Selain di Al-Ahly Stadium, pertandingan juga dimainkan di Qatar SC Stadium dan Khalifa International Stadium.
Menit 90, skor masih 2-1 di Al-Ahly. Di waktu hampir bersamaan, Javad Manafi mencetak gol untuk Iran, tapi Saudi masih unggul 4-3. Sementara di Qatar SC Stadium, pertandingan yang ketat dan sengit di babak pertama, berubah 180 derajat di paruh kedua. Korea Selatan mencetak tiga gol lewat Ko Jeong-woon di menit 49, Hwang Sun-hong di menit 53, dan Ha Seok-ju di menit 75.
Klasemen belum berubah. Jepang masih di puncak dengan tujuh poin, Saudi mengekor di belakangnya juga dengan tujuh poin, dan Korea Selatan di peringkat tiga dengan enam poin. Maka di Jepang, dari Osaka sampai Yokohama, dari Kumamoto, ke Sapporo, ke Kyoto sampai Tokyo, jutaan orang berdiri dengan teriak-teriak yang tertahan. Sebagian berpelukan. Ada juga yang menutup wajah dengan gestur harap-harap cemas. Tinggal hitungan detik, dan wasit Serge Muhmenthaler dari Swiss sudah mulai melirik jam di pergelangan tangannya, dan Jepang di ambang sejarah lolos untuk kali pertama ke piala dunia.
Namun sepak bola adalah permainan nasib yang paling mendekati realitas kehidupan yang serba tak terprediksi. Irak melancarkan serangan terakhir yang hampir-hampir merupakan sisa harapan sekadar. Bola dilambungkan dan terjadi kemelut lalu menyentuh pemain Jepang sebelum bergulir ke luar lapangan. Menit 91 menuju 92, wasit memberi Irak sepak pojok. Bola tidak dilambungkan, tapi disodorkan pendek ke sisi lapangan untuk kemudian dilepas sebagai umpan silang. Jaffar Omran Salman melompat mendahului pemain-pemain Jepang. Sentuhan tipisnya membuat bola berubah arah dan bersarang di sudut kiri gawang.
Para pemain Jepang langsung jatuh terkapar di lapangan. Skor 2-2, dan mereka tahu, tidak ada lagi waktu untuk melesakkan gol tambahan. Di Jepang, di hampir semua sudutnya, persiapan untuk meledakkan kebahagiaan pupus jadi jerit tangis. Ledakan pindah ke Seoul, juga ke kota-kota lain di Korea Selatan.
Klasemen berubah. Saudi naik ke puncak, sedangkan Korea Selatan menggeser Jepang lantaran keunggulan selisih gol, dan esoknya, koran-koran di kedua negara, menurunkan headline yang kontras. Korea Selatan menyebut peristiwa ini ‘Doha-ui gijeok’ atau ‘Miracle in Doha’. Keajaiban yang sungguh-sungguh ajaib. Sebaliknya di Jepang, mereka menuliskannya sebagai ‘Daha no higeki’, sebuah tragedi.
Begitulah tragedi menyapukan kesedihan. Namun empat tahun berselang ternyata ada Jepang di Prancis. FIFA memberlakukan mekanisme baru; Asia mendapatkan jatah 3 ½ tiket (tiga lolos langsung + satu playoff melawan wakil zona Oseania) dan mereka masuk lewat fase kualifikasi ketiga. Jepang menekuk Iran 3-2.
Dalam level yang hampir sama, Indonesia juga mengalami tragedi ini. Setelah sekian lama hanya menjadi lelucon, tim kalahan dan pecundang, sepanjang dua tahun terakhir Indonesia menunjukkan sepak terjang yang tidak bisa dipandang sekadar sebagai kebetulan. Berkat program naturalisasi yang lebih terarah dan terukur, Indonesia melejit menjadi kekuatan baru di Asia Tenggara. Kekuatan yang menunjukkan potensi besar untuk benar-benar bersaing di Asia. Puncaknya, Indonesia lolos ke putaran empat kualifikasi, hanya berjarak 2 x 90 menit dari Piala Dunia 2026.
Euforia melesat-lesat. Harapan dilambungkan tinggi-tinggi menembus batas mimpi. Persis Jepang di tahun 1993 itu, Piala Dunia 2026 akan jadi pengalaman pertama Indonesia –walau pada dasarnya, atas nama Dutch East Indies atawa Hindia-Belanda, pernah “berpartisipasi” di Piala Dunia 1938. Namun kita pun kemudian sama-sama tahu, betapa 2 x 90 menit itu, dua pertandingan di Saudi Arabia, berkesudahan dengan kekalahan.
Pertanyaannya, mampukah Indonesia bangkit seperti Jepang dan lolos ke Piala Dunia 2030? Jepang memang dikenal tahan banting. Mereka pernah hancur, secara fisik dan mental, oleh bom atom yang dijatuhkan Amerika Serikat ke Kota Hiroshima dan Nagasaki. Sebanyak 140 ribu orang menemui ajal di Hiroshima dan tak kurang 74 ribu lainnya di Nagasaki.
Mereka juga berkali-kali dihantam tsunami, gelombang raksasa yang datang pascagempa. Di abad modern, terbesar melanda Tohoku, kota pantai di bagian utara Pulau Honshu. Lebih dari 19 ribu orang meninggal dunia.
Dalam hal ini Indonesia sungguh tak kalah merana. Bencana alam terjadi nyaris sepanjang tahun. Bahkan banyak di antaranya yang tercatat sebagai bencana dengan jumlah korban paling banyak di dunia. Pun peristiwa-peristiwa politik. Indonesia memang belum pernah kejatuhan bom atom, tapi gonjang-ganjing 1965 atau reformasi 1998, nyaris meluluhlantakkan negeri ini jadi remah-remah.
Namun toh Indonesia selamat. Walau harus kerap melangkah tertatih, terpincang-pincang, Indonesia masih ada sampai sekarang. Jadi mestinya, dari sisi mental, Indonesia tidak lebih lemah dari Jepang.
Apakah ini akan membuat Indonesia bisa mengikuti pencapaian Jepang? Belum tentu. Terlalu banyak absurditas di sini. Terlalu banyak anomali. Terlalu banyak perkara-perkara yang bersifat nisbiah di satu sisi dan remang-remang di sisi yang lain. Segala sesuatu, seringkali, tak berwujud seterang tampaknya.
Setelah Tragedi Doha, Jepang berbenah. Mereka tidak memulainya dari nol. Dengan kata lain, tidak merombak total program-program yang sudah dijalankan dan mengantarkan mereka ke titik yang berjarak satu menit ke Piala Dunia 1994. Dengan pola pikir yang tidak “diruwet-ruwetkan”, mereka mengevaluasi dan mengganti program yang dianggap gagal, dan sebaliknya, mempertahankan program yang lain, meneruskan dengan perbaikan di sana-sini, hingga menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Patrick-Kluivert-disambut-petinggi-PSSI_Pelatih-Kepala-Timnas-Indonesia_.jpg)