Catatan Sepak Bola
Welcome, John, Kuat-kuatkan Jantung . . .
SETELAH sekian bulan terombang-ambing dalam ketidakjelasan, Tim Nasional Indonesia akhirnya punya pelatih baru. John Herdman.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: Randy P.F Hutagaol
SETELAH sekian bulan terombang-ambing dalam ketidakjelasan, Tim Nasional Indonesia akhirnya punya pelatih baru. PSSI memutuskan untuk mempekerjakan John Herdman, pelatih berkebangsaan Inggris.
Jatuhnya pilihan terhadap John Herdman menarik. Pertama, ia "memenangkan persaingan" dengan tak kurang sembilan kandidat. Termasuk, konon, Giovanni van Bronckhorst, pelatih berkebangsaan Belanda yang sebelumnya disebut-sebut sebagai calon terkuat. Van Bronckhorst adalah legenda De Oranje, dan dia memiliki garis keturunan puak Indonesia yang kental. Jika mengacu pada kriteria sebelumnya: reputasi kelas dunia dan komunikasi yang bakal lancar lantaran sebagian besar pemain Tim Nasional Indonesia memiliki darah campuran Belanda, maka tak pelak dia yang berada di jajaran terdepan.
Namun PSSI memilih John Herdman. Bukan van Bronckhorst atau nama-nama lain yang sebelumnya beredar seperti Jesus Casas, Paulo Bento, bahkan Shin Tae-yong, mantan pelatih Tim Nasional Indonesia kesayangan (sebagian besar) suporter. Para anggota Executive Committee atau Exco PSSI, memilihnya dengan suara bulat.
Ini poin menarik kedua. John dipilih Exco [lewat proses rekrutmen yang panjang], bukan lagi penunjukan langsung Ketua Umum Erick Thohir --mekanisme yang melahirkan kisah legendaris; wawancara di Hari Natal, dan Patrick Kluivert satu-satunya kandidat yang datang.
Pertanyaannya, kenapa kali ini Exco yang lebih berperan? Apakah lantaran kekecewaan atas pilihan Erick Thohir yang buruk? Atau bentuk ketidakpercayaan? Seperti di perusahaan, direktur, atau katakanlah CEO, merupakan pucuk pimpinan tertinggi. Namun kinerja mereka diawasi ketat dewan direksi, yang sewaktu-waktu, jika dianggap melenceng, tak berkesesuaian dengan visi dan misi perusahaan, dapat meluruskan atau bahkan memberhentikan.
Apakah seperti itu? Kita tidak tahu. PSSI, para Exco, bekerja dengan cara-cara yang sama elusif dengan misteri hilangnya Kota Atlantis.
Pastinya, John Herdman sudah dipilih dan dia harus menguatkan jantung untuk menghadapi beragam bentuk kejutan yang barangkali belum pernah dihadapinya kala melatih di Selandia Baru dan Kanada, dua negara dengan tingkat kedamaian tertinggi di dunia.
Berdasarkan Global Piece Indeks tahun 2025, penilaian kedamaian yang diukur dengan 23 indikator antara lain jumlah dan durasi konflik internal dan tingkat kriminalitas yang terjadi di tengah masyarakat, Selandia Baru berada di posisi tiga dan Kanada di posisi 14. Posisi yang tidak terlalu jauh berubah sejak tahun 2020. Indonesia? Peringkat 49, diapit Uruguay dan Namibia.
Di lain sisi, berangkat dari Digital Civility Index, atau Tingkat Keberadaban Digital, yang dirilis Microsoft, Indonesia berada di posisi teratas dalam kategori negara yang pengguna internetnya, wa bil khusus dalam hal ini media sosial, paling tidak beradab di Asia Tenggara. Di Indonesia, di media sosial entah itu Facebook, Instagram, X, atau TikTok, orang-orang merayakan kebebasan untuk mengejek, mencaci, dan memaki siapa saja. Dari sesama orang-orang biasa yang bukan sesiapa, sampai artis, pejabat, sampai kepala negara. Tak kecuali pelatih sepak bola.
Kluivert digempur habis-habisan. Pun Indra Sjafri dan Gerald Vanenburg. Pelatih tolol! Pelatih goblok! Pelatih miskin taktik! Shin Tae-yong, Nova Ardianto, juga tak luput. Hantaman melejit membabi buta dari segenap penjuru mata angin manakala Tim Nasional Indonesia dibekap kekalahan. Bahkan caci dan maki ini sudah datang sebelum laga berakhir.
Namun ini belum seberapa. John Herdman harus menyiapkan jantung untuk perkara yang lebih mencekam, intervensi dari "orang-orang dalam". Satu anekdot beredar, bahwa Shin Tae-yong sesungguhnya bukan tidak bisa berbahasa Inggris. Meski tak fasih untuk melafalkannya secara canggih macam Maudy Ayunda atau Cinta Laura, dia bisa, tapi memang memilih untuk pura-pura tidak bisa. Alasannya? Agar bisa mengelak, pura-pura tak paham, ketika intervensi itu datang. Dia tidak bisa berbahasa Indonesia dan mereka yang coba melakukan intervensi tidak bisa berbahasa Korea. Klop sudah. Dan Kluivert, sial sebenar-benarnya sial, tidak bisa melakukan kepura-puraan yang sama. Para "orang dalam" itu, yang punya kepentingan sendiri-sendiri atas Tim Nasional Indonesia, tahu betul dia menguasai bahasa Inggris dengan sangat baik. Jadi memang, terhadap Kluivert, tidak ada masalah "komunikasi".
Kluivert, juga asistennya Alex Pastoor, telah bicara secara terbuka dalam sejumlah podcast yang ditayangkan dari Belanda. Mereka bilang Indonesia "terlalu berisik". Langsung maupun tak langsung, terlalu banyak yang ikut campur tangan. Termasuk dalam hal-hal berkenaan teknis yang mestinya jadi hak prerogatif pelatih. Kluivert menyebut, ada pemain yang sesungguhnya tak pantas berada dalam skuad tapi dipaksakan masuk. Kluivert menggunakan diksi 'dipaksakan', karena memang menurutnya ada yang kasak-kusuk menginginkan pemain tersebut mengenakan seragam tim nasional.
Lebih konyol lagi, ada pula yang mendesak-desak pelatih menerapkan pola bermain tertentu. Empat bek sejajar, disebut lebih cocok ketimbang tiga bek tengah. Satu di antara alasannya, tim nasional punya stok bek yang melimpah. Pola empat bek membuat banyak pemain "menganggur". Alasan lain, lagi-lagi bertitik tolak dari Tim Nasional Belanda dan akar sepak bola para pemain keturunan. Kluivert "mendengar" desakan ini, dan kita tahu, hancur lebur. Indonesia gagal lolos ke Piala Dunia lewat cara paling hambar; kalah dua kali di putaran empat kualifikasi, dengan permainan yang sama sekali jauh dari memukau.
John Herdman, seperti juga Shin Tae-yong, favorit dengan pola terapan tiga bek tengah. Entah 3-4-3 entah 3-4-1-2, yang bertransformasi menjadi 5-3-2 atau malah 5-4-1 saat diserang. Di tangannya, Tim Nasional Wanita Selandia Baru, Kanada, serta Tim Nasional Kanada yang lolos ke Piala Dunia 2022, bermain sama baiknya dengan garis pertahanan rendah maupun tinggi. Dengan kata lain, John Herdman tidak alergi dengan permainan bertahan yang rapat, bahkan parkir bus.
Tentu saja tidak ada yang salah dengan pola permainan bertahan. Cattenacio, sistem pertahanan gerendel yang diciptakan Carl Rappan dan disempurnakan Helenio Herrara, diakui sebagai satu di antara sistem terhebat dalam sepak bola. Rappan, pada tahun 1931, bermain dengan pola 1-3-3-3: satu libero, tiga bek tengah, tiga gelandang yang dua di antaranya juga bertanggung jawab menjaga pertahanan, serta tiga penyerang yang sekaligus juga berfungsi sebagai gelandang yang bergerak bebas. Ia menamai temuan ini 'Verrou', yang dalam Bahasa Perancis berarti 'gerendel' atau 'gembok besar'. Rappan menerapkan 'Verrou' saat melatih Servette dan Grasshopper, dan membawa klub-klub ini menjuarai Liga Swiss enam kali (Servette satu kali dan Grasshopper lima kali)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Pelatih-Kepala-Tim-Nasional-Indonesia-John-Herdman_PSSI.jpg)