Sumut Terkini
Perjalan Bupati Gus Irawan ke Kampung Tuti Daulay, Ibu Hamil Ditandu 30 Km saat Hendak Melahirkan
Perjalanan dengan ditandu warga sekitar enam jam itu yang dibutuhkan Tuti Daulay agar bisa sampai ke Sipirok.
Penulis: Azis Husein Hasibuan | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN-MEDAN.COM, TAPSEL- Bupati Tapanuli Selatan (Tapsel) Gus Irawan Pasaribu merasakan penderitaan Tuti Daulay dengan berjalan kaki untuk sampai ke Dusun Aek Nabara, Desa Dalihan Natolu, Kecamatan Arse.
Tuti Daulay merupakan seorang ibu hamil viral ditandu warga berjalan kaki sejauh 30 kilometer saat hendak melahirkan pada Sabtu 9 Mei 2026 kemarin.
Perjalanan dengan ditandu warga sekitar enam jam itu yang dibutuhkan Tuti Daulay agar bisa sampai ke Sipirok.
Saat itu kondisinya tak bisa dilakukan persalinan di kampung dan harus dibawa ke rumah sakit.
Inilah yang kemudian dirasakan Gus Irawan Pasaribu. Ia dan rombongan kecilnya pada Selasa (12/5/2026), harus berjibaku menerobos hutan agar bisa sampai di Dusun Aek Nabara dan Dusun Tano Ponggol, Desa Dalihan Natolu, Kecamatan Arse.
"Kami berjalan kaki menuju Desa Dalihan Natolu malam-malam dengan medan yang cukup ekstrem," ujar Gus Irawan sambil berjalan kaki.
Dalam tayangan video itu, Gus Irawan tampak berjalan kaki sembari memegang sebuah kayu untuk memudahkan kaki saat berjalan. Hanya ada senter dari ponsel sebagai penerangannya selama perjalanan menuju Desa Dalihan Natolu.
Gus Irawan mengakui, ia dan rombongannya memang sempat menaiki sepeda motor, namun hanya beberapa jam saja disebabkan jalan menuju desa tersebut semakin esktrem.
"Perjalanan kami lanjutkan dengan berjalan kaki karena sepeda motor sudah gak kuat. Di tenga hutan lindung ini kondisi medannya semakin ke atas semakin ekstrem," ujar Gus irawan.
Selain menerobos hutan, jalan terjal dan berlumpur, orang nomor satu di Pemkab Tapsel ini juga harus melewati kegelapan malam saat beranjak kembali ke rumah dinas di Kecamatan Sipirok.
Diketahui, Gus Irawan dan rombongan beranjak dari Kecamatan Sipirok sekitar pukul 12.00 Wib, dan tiba di Dusun Aek Nabara sekitar pukul 17.30 Wib.
Beberapa saat berbincang menyahuti aspirasi warga, Gus Irawan pun menuju ke Dusun Tano Ponggol dan tiba pukul 00.00 WIB.
Tak lama kemudian, Bupati Gus Irawan yang diikuti beberapa pejabatnya, beranjak pulang dan tiba di Kecamatan Sipirok sekira pukul 05.00 WIB.
Akui Jalan Terjal
Menurutnya, Desa Dalihan Natolu terdiri dari tiga dusun dengan jumlah penduduk yang relatif sedikit. Dusun Aek Nabara dihuni 19 kepala keluarga (KK), Dusun Nanggoluan sebanyak tujuh KK, dan Dusun Tano Ponggol yang merupakan pusat pemerintahan desa dihuni 35 KK.
"Di Desa Dalihan Natolu, Kecamatan Arse ini ada tiga dusun. Di Dusun Nanggoluan ada 7 Kepala Keluarga (KK) yang bermukim. Sedangkan di Dusun Tano Ponggol ada 35 KK paling besar dan juga Kantor Desa Dalihan Natolu di sana. Dan di Dusun Aek Nabara ini ada 19 KK," ujar Gus Irawan.
Gus mengaku, medan menuju Aek Nabara sangat berat. Jalan yang terjal, licin, dan berada di tengah kawasan hutan lindung membuat akses menuju dusun itu nyaris mustahil dilalui kendaraan.
Bahkan, berdasarkan penuturan warga, selama Kabupaten Tapsel berdiri, baru kali ini ada seorang Bupati yang datang langsung ke Aek Nabara.
Kunjungan tersebut dilakukan setelah video seorang ibu hamil bernama Tuti Daulay yang ditandu sejauh puluhan kilometer menuju rumah sakit viral di media sosial.
2 Opsi untuk Warga Aek Nabara
Atas situasi itu, Bupati menyebut ada dua opsi untuk mengatasi keterisolasian Aek Nabara. Solusi pertama adalah relokasi warga ke lokasi yang lebih mudah dijangkau. Namun upaya itu belum mendapat dukungan penuh dari masyarakat.
"Tadinya, kami coba cari peluang untuk merelokasi masyarakat di sana. Tapi, sepertinya belum mendapat sambutan positif yang massif dari masyarakat itu sendiri. Mungkin ada anak-anak muda yang kepengen pindah dari sana, tapi secara keseluruhan belum mendapat sambutan positif untuk direlokasi," sebutnya.
Menurut Gus Irawan, alasan utama warga enggan pindah karena mereka telah tinggal secara turun-temurun di wilayah tersebut.
"Kalau istilah adatnya, pusar dan pusaranya sudah di sana," ucapnya.
Solusi kedua adalah meminta pemerintah pusat memberikan izin khusus untuk membuka akses jalan di kawasan hutan lindung.
"Mungkin kami bisa dibantu dengan diberi izin membuat rabat beton misalnya, sehingga roda dua atau tiga bisa lewat begitu. Itupun sudah sangat membantu masyarakat di sana," jelasnya.
Upaya Tahun Lalu
Bukan tak berupaya, tahun lalu, Pemkab Tapsel telah mencoba membuka jalan melalui program TMMD (TNI Manunggal Membangun Desa).
Namun, rencana tersebut tidak mendapat izin karena lokasi Dusun Aek Nabara berada di kawasan hutan lindung.
"Tapi, karena tidak mendapat izin, maka (TMMD) pindah (dialihkan) ke (Desa) Pasir Bidang (Kecamatan Angkola Sangkunur, Kabupaten Tapsel). (Pembukaan jalannya) itu dari Angkola Sangkunur ke Angkola Barat. Di situ pun sesungguhnya (kawasan) hutan juga. Tapi hutan produksi," terang Bupati.
Menurutnya, karena status hutan lindung yang sangat ketat, pemerintah pusat memiliki kewenangan penuh untuk menentukan apakah pembangunan jalan dapat dilakukan.
Gus Irawan mengungkapkan betapa berat perjalanan menuju Aek Nabara. Ia berangkat dari Kantor Bupati pada Selasa (12/05/2026) pukul 10.00 WIB dan baru tiba kembali di rumah dinas pada Rabu (13/05/2026) sekitar pukul 05.00 WIB.
"Tapi memang, medan di sana sangat berat. Saya berangkat dari Kantor Bupati Selasa (12/5/2026) pukul 10.00 Wib dan baru sampai lagi ke rumah dinas Rabu (13/5/2026) sekira pukul 05.00 Wib," tuturnya.
Ketiadaan Nakes
Selain persoalan akses, ketiadaan tenaga kesehatan di Aek Nabara juga menjadi sorotan. Menurut Gus Irawan, sebelumnya terdapat bidan desa yang bertugas di sana. Namun, bidan tersebut lulus seleksi PPPK dan tidak lagi bertugas di dusun tersebut.
"Tapi, kami sudah menyiasati itu dengan semacam perintah penugasan dari Bupati begitu. Jadi bukan mutasi namanya, tapi penugasan," tegasnya.
Bidan yang dimaksud diketahui merupakan putri asli Desa Dalihan Natolu yang kini telah menetap di Batang Toru.
Pemkab akan melakukan pendekatan dengan mengedepankan rasa cinta terhadap kampung halaman agar yang bersangkutan bersedia kembali bertugas.
"Kami juga mendorong misalnya warga asal Desa Dalihan Natolu ini kalau ada yang bersekolah sebagai bidan, bisa kiranya ditugaskan tenaga kesehatan desa di sana begitu," tandasnya.
Perhatian terhadap Aek Nabara mencuat setelah Tuti Daulay, seorang ibu hamil asal dusun tersebut, terpaksa ditandu warga sejauh sekitar 30 kilometer pada Sabtu (9/5/2026).
Karena akses jalan tidak memungkinkan kendaraan masuk, proses evakuasi dilakukan secara manual menuju rumah sakit.
Dalam perjalanan, janin yang dikandung Tuti dinyatakan meninggal dunia. Pada Selasa (12/5/2026), Gus Irawan mendatangi Tuti di rumah keluarganya di Pining Nabaris, dekat Pasar Sipirok. Selain menyampaikan belasungkawa, Bupati juga memberikan bantuan tali asih.
Setelah itu, ia bersama rombongan langsung menuju Aek Nabara untuk melihat sendiri kondisi medan yang selama ini menyulitkan warga untuk mendapatkan layanan kesehatan, pendidikan, dan kebutuhan dasar lainnya.
Kini, harapan masyarakat tertuju pada pemerintah pusat agar memberikan izin khusus untuk membuka akses jalan yang layak, sehingga tragedi serupa tidak kembali terjadi di pelosok Tapsel.
(ase/ Tribun-medan.com)
Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News
Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter dan WA Channel
Berita viral lainnya di Tribun Medan
| Vietnam Diringkus di Langkat, Sempat Injak Ganja untuk Kelabui Polisi |
|
|---|
| Resahkan Warga dan Picu Balap Liar, 117 Knalpot Brong Dimusnahkan Polres Samosir |
|
|---|
| Harga Pupuk Subsidi di Langkat Beratkan Petani, Bupati Minta Inspektorat Lakukan Pemeriksaan |
|
|---|
| Profil Direktur RSUD Amri Tambunan, dr Erlinda Yani, Rumah Sakitnya Diduga Sempat Tahan Kakek Lansia |
|
|---|
| Ketum PSBI Lantik Pengurus Wilayah dan 38 Sektor, Bupati Samosir Siap Support Program |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/BERJALAN-Bupati-Tapsel-Gus-Irawan-Pasaribu-malam-berjalan-kaki.jpg)