Sumut Terkini
Gegara Tuntutan Ekonomi Warga di Binjai Meninggal Dunia di Kamboja, Harap Bantuan Gubsu dan Presiden
Pasalnya tahun lalu anak pertama hasil pernikahannya pada tahun 2019 silam, juga meninggal dunia.
Penulis: Muhammad Anil Rasyid | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN-MEDAN.com, BINJAI - Karena tuntutan ekonomi, Rasdy Fauzi (39) warga Jalan Nenas, Gang Nenas I, Kelurahan Sukaramai, Kecamatan Binjai Barat, Kota Binjai, Sumatera Utara, harus berangkat ke Kamboja untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya.
Namun setelah satu tahun tiga bulan, tepatnya pada Minggu (3/5/2025) Rasdy meninggal dunia di kos-kosannya yang berada di Poipet, Kamboja.
Kepergian Rasdy membuat istrinya Kiki Tresia (30) kian terpukul.
Pasalnya tahun lalu anak pertama hasil pernikahannya pada tahun 2019 silam, juga meninggal dunia.
Hal ini diungkapkan oleh Kiki saat diwawancarai wartawan dirumah duka di Jalan Nenas.
"Awal mula suami saya ini kerja di Kota Binjai sebagai sales dan habis kontrak pada tahun 2025 lalu. Dan kalau mau masuk kerja lagi, kontraknya pada tahun ini. Dan empat bulan nganggur, akhirnya dia memutuskan berangkat ke Kamboja," ujar Kiki, Selasa (5/5/2026).
Lanjut Kiki, karena buntu dan ekonomi yang sulit, teman Rasdy yang sebelumnya sudah di Kamboja pun menelepon menawarkan pekerjaan.
"Kata kawannya gaji enggak terlalu besar, tapi setidaknya ada. Memang kerjanya scam, dan suami saya mau. Dan kawannya dari sana juga ngabari, kalau nanti ada agen yang nelepon, dan suruh foto untuk buat paspor. Gak lama paspor siap, dan dua Minggu kemudian berangkat ke Kamboja," ucap Kiki.
Kiki pun mengaku, beberapa waktu yang lalu ia dan suaminya masih saling teleponan.
Rasdy bahkan mengabarkan jika di Kamboja ada razia besar-besaran.
Dan paspor mereka pekerja scam dibagikan oleh perusahaan.
"Paspor dibagikan, saya bilang pulang. Cuma kata suami, bentar nunggu bonus. Dan ternyata bonus yang diharapkan dilarikan, jadi suami saya seperti stres. Dan habis itu kata kawannya, suami saya enggak makan-makan," kata Kiki.
"Tapi memang suami saya ini minum kopi instan atau botol itu memang kuat. Karena gak makan, mungkin ke asam lambung dan naik ke jantung. Saya dapat foto terakhir suami saya badannya biru. Katanya kalau biru itu kena serangan jantung mendadak," sambungnya.
Naasnya lagi jasad Rasdy ditinggalkan di kos-kosan tempat tinggalnya di Poipet, Kamboja.
"Info terakhir kawan-kawan suami saya yang visanya juga sudah berakhir, lari ke KBRI. Sedangkan hari ini hari ketiga, jasad suami saya ditinggal di kos-kosan itu di Poipet, Kamboja," ucap Kiki.
Gitupun Kiki mengaku, ia selaku istri dan keluarga besar sudah berulang kali berkomunikasi dengan pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kamboja.
Namun komunikasi tersebut, tak ada membuahkan atau memberi keputusan yang pasti, agar jasad Rasdy bisa dibawa pulang ke tanah air.
"Kami terus menghubungi pihak KBRI, cuma mereka bilang nanti tunggu polisi. Dan teman suami saya yang sudah di KBRI sempat minta surat kematian, katanya ada yayasan yang mau urus. Tapi ya gitulah kata KBRI ke polisi, macam di bola-bola gitu. Terakhir semalam, Senin (4/5/2026) sekitar pukul 15.00 WIB, masih komunikasi sama KBRI. Cuma sampai hari ini mereka sudah enggak ada kasih kabar lagi," kata Kiki.
Komunikasi Kiki dengan pihak KBRI sudah terjalin sejak dua hari yang lalu. Begitu Kiki mendapat kabar suaminya meninggal dunia, ia langsung mencari nomor telepon KBRI yang dapat dihubungi.
Meski hingga hari ketiga hasilnya belum ada kepastian dari KBRI.
"Harapan saya kepada pemerintah terkhusus kepada Bapak Presiden Indonesia, Prabowo Subianto dan Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, agar dapat membantu memulangkan jenazah suami saya di Kamboja. Karena kalau kami mau ziarah ke makamnya, kami tau letaknya di mana," ujar Kiki sembari menahan tangisnya.
Menurut Kiki, sampai saat ini ia sudah berulang kali mengirimkan pesan via WhatsApp ke KBRI, tapi sudah tidak dibalas.
"Suami berangkat ke Kamboja bulan Februari 2025. Terakhir kami Video Call (VC) sebelum meninggal dunia, suami bilang dia baru pangkas. Dan saya bilang, apa yang bisa kita jual, kita jual untuk beli tiket. Kalau visanya mati dan kena denda, kita bayar. Karena memang belakangan dia sakit pada bagian kakinya, tiba-tiba keram gak bisa jalan," ucap Kiki.
Kiki pun menegaskan, kepergian Rasdy ke Kamboja sebenarnya mendapat larangan dari keluarga besar.
"Tanggapan keluarga saya dan saat suami mau berangkat ke Kamboja mereka melarang. Cuma suami saya bilang, kalian bisa bantu kalau ekonomi kami seperti ini. Sementara kami semua ekonominya tak begitu ada," ujar Kiki.
Gitupun Kiki menjelaskan selama suaminya kerja di Kamboja, Rasdy mengaku baik-baik saja.
Setiap mau berangkat dan pulang kerja, Rasdy selalu menelepon istrinya untuk memberi kabar.
"Kalau dianiaya gitu, suami saya enggak pernah cerita. Dan malam ini acara malam tahlilan malam ketiga," tutup Kiki.
(cr23/tribun-medan.com)
| DAFTAR 6 Kajari Baru Dilantik oleh Kajati Sumut Muhibuddin, Edmond Purba Resmi Jabat Kajari Karo |
|
|---|
| Kelakuan ASN Padangsidimpuan Nongkrong saat Jam Kerja, Anggota DPRD Marini: Masih Jam 9 Pagi |
|
|---|
| Gubuk Tempat Pengguna Sabu Digerebek di Langkat, Polisi Sita 29 Mancis dan 5 Bong |
|
|---|
| Gerebek Gubuk Tempat Isap Sabu di Langkat, Polisi Hanya Sita 29 Mancis dan 5 Bong |
|
|---|
| Eks Ketua dan Sekretaris KPU Tanjungbalai Didakwa Korupsi Rp 1,2 Milliar |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/WAFAT-Kiki-Tresia-saat-menunjukkan-foto.jpg)