Sumut Terkini
Petani di Toba Bernafas Lega, Hujan Datang Setelah Alami Musim Kemarau Panjang
Para petani harus menanam kembali pada bulan April karena jagung tak kunjung tumbuh dan berkembang.
Penulis: Maurits Pardosi | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN-MEDAN.com, BALIGE- Petani di Toba bernafas lega setelah hujan turun beberapa waktu terakhir ini. Hampir dua bulan, petani alami musim kemarau dan satu bulan terakhir ini hujan datang.
Di Kecamatan Habinsaran, petani sudah mulai menanam jagung pada bulan Januari 2026. Namun, sejak pertengahan Januari hingga Maret, musim kemarau panjang datang.
Para petani harus menanam kembali pada bulan April karena jagung tak kunjung tumbuh dan berkembang.
Setelah hujan pada bulan April 2026, petani kembali menanam dan pertumbuhan tanamannya sudah mulai terlihat. Mereka sudah yakin, tanamannya bisa bertahan dan tumbuh subur.
"Mulai pertengahan Januari, kita sudah mulai menanam tanaman muda (holtikultura) sebagai tanaman tambahan di lahan kopi. Namun, harus kita ganti lagi karena hujan tak kunjung datang," ujar Alpared Pardosi, seorang petani di Habinsaran, Kamis (23/4/2026).
"Teman-teman yang menanam jagung juga seperti itu. Akhirnya mereka tanam ulang lagi setelah hujan beberapakali turun. Tanaman kerdil kalau tak cukup air," sambungnya.
Kini, mereka sudah bisa bernafas lega karena kebutuhan air untuk tanaman sudah mencukupi.
"Kita sudah kembali bisa menanam dan pemupukan sudah bisa dilakukan karena ketersediaan air pada tanah sudah lumayan," sambungnya.
Walaupun demikian, para petani sawah di beberapa lokasi yang ada di Habinsaran tetap mengeluh karena ketersediaan air. Pasalnya, sejumlah sumber airnya sudah mengering.
Mereka tidak bisa pastikan, apakah ini proses alam atau memang ketersediaan air bawah tanah di kawasan tersebut mulai menipis.
"Walau hujan beberapa waktu ini, tapi sejumlah persawahan di kawasan ini mengering. Sumber airnya mengering. Kita tidak tahu apakah ini adalah bagian dari proses alam atau memang ketersediaan air bawah tanah sudah menipis," terangnya.
Terlihat para petani di sawah hanya mengandalkan turunnya hujan. Sehingga, proses penanaman padi tak bisa lagi berlangsung serentak.
Hingga saat ini, pihaknya masih waspada terjadinya musim kemarau panjang. Sehingga, ia juga senantiasa melihat bagaimana prakiraan cuaca yang dikeluarkan oleh BMKG.
"Kita tetap waspada kemarau panjang seperti tahun lalu. Sejak bulan September hingga Desember, kemarau panjang dan disertai angin kencang. Mayoritas petani gagal panen," terangnya.
"Bunga kopi yang sudah muncul pun tak jadi buah. Terpaksa, kopi tua harus diprunning agar memunculkan tunas baru dan menunggu bunga kembali," terangnya.
Kini, para petani di Habinsaran tengah menanam setelah yakin ketersediaan air dalam tanah cukup.
(cr3/tribun-medan.com)
Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News
Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter dan WA Channel
Berita viral lainnya di Tribun Medan
| Harga LPG Non Subsidi Naik, Pengamat Nilai UMKM Tertekan dan Rawan Pengoplosan |
|
|---|
| Ketum Hipmi Akbar Buchari Disebut Kutip Uang Rp 3,5 Milliar dari Proyek DJKA untuk Pilkada |
|
|---|
| BNI Tuntaskan Pengembalian Dana CU Paroki Aek Nabara |
|
|---|
| Instruksi Mendagri, Pemko Siantar Hibahkan Rp 25 Miliar Untuk Bener Meriah |
|
|---|
| Babak Baru, Polda Sumut Segera Naikan Penyidikan Kasus Jaksa Todong Pistol ke Sekuriti di Medan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Sebuah-areal-pertanian-kopi-di-Desa-Parsoburan-Tengah.jpg)