Sumut Terkini

Pengamat Politik Sumut Menilai Konflik Israel-Iran Berdampak ke Sistem Perekonomian di Indonesia

Konflik itu semakin ramai saat pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei beserta keluarganya meninggal dunia akibat peperangan tersebut. 

Tayang:
Penulis: Anisa Rahmadani | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN MEDAN/X
Citra satelit dari Airbus Defence and Space memperlihatkan kondisi bangunan utama di kompleks kediaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, di Beit-e Rahbari, saat terjadi serangan udara masif yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel, Sabtu (28/2/2026). 

Apalagi, lanjutnya, Board Office belum melakukan langkah-langkah yang cukup konkret untuk penanganan Gaza.

"Jadi saya melihat bahwa dengan terjadinya perjanjian internasional itu, tidak menutup kemungkinan juga Board Office memperluas peran terkait dengan perdamaian di Iran atau misalnya pengambil alihan situasi politik oleh Amerika di Iran, misalnya, seperti itu. Tapi masih kecil kemungkinan,"jelasnya. 

Namun, Board Office tersebut bisa juga menunjukkan sebaliknya.tidak berperan dalam konflik Israel-Iran.

"Karena bagaimanapun fokus dari Board Office juga hanya untuk menyelesaikan persoalan di Gaza, pembangunan di Gaza, kemudian menyelesaikan konflik di Gaza. Jadi untuk merembet kepada persoalan Iran, saya rasa itu tidak begitu masuk dalam persoalan ini,"ucapnya.

Untuk itu, ia menyarankan Presiden Indonesia harus bersikap jelas. Jangan memihak siapapun.

"Jadi bagaimanapun Indonesia, ya, sikapnya harusnya jelas ya. Kita juga tidak terlalu terlibat dalam konflik antara Amerika, Israel, dan Iran, " ucapnya.

Menurutnya permasalahan ini, menjadi beban politik untuk Indonesia. Jika Indonesia ingin bergabung, harus memiliki organisasi yang cukup besar.

Untuk itu, katanya secara politik tidak berpengaruh secara langsung. Tetapi perang ini akan berdampak di perekonomian di Indonesia.

"Misalnya, pergerakan emas dan minyak, terutama minyak ya, karena kan Selat Hormuz juga menjadi titik krusial perdagangan minyak di dunia internasional. Di geopolitik sendiri, terutama di Timur Tengah, nah, ini menjadi ancaman ya, karena kan ini juga melibatkan banyak negara-negara Arab yang juga terkena dampak dari serangan Iran,"tuturnya.

Ia berharap, seluruh negara di Dunia membantu dengan jalur perdamaian. Bukan dengan keberpihakan.

"Mudah-mudahan, banyak negara tersebut tidak ikut memanaskan situasi konflik di Timur Tengah ini karena dampaknya cukup besar," jelasnya. 

Disinggung mengenai Presiden Prabowo dikabarkan hendak datang ke dua negara tersebut untuk melakukan perdamaian. Ia menilai tindakan tersebut belum perlu dilakukan.

"Sebenarnya peran kita dilakukan apabila itu cukup krusial. Namun harus diketahui komunikasi yang selama ini terjalin antara Amerika dengan Iran juga masih buntu," katanya.

Dari kacamata politik, katanya memang perlu ada negara ketiga untuk menengahi permasalahan tersebut

"Kalau saya lihat positif-positif saja ya, Pak Prabowo ingin menjadi penengah dalam konflik ini. Tapi bagaimanapun posisi Indonesia dalam konflik Timur Tengah ini selalu menjadi pihak yang tidak memihak siapapun ya. Dan biasanya kita hanya mengirim tentara perdamaian,"ujarnya.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved