Sumut Terkini

SPPG di Langkat dan Pantai Gemi Diduga Buang Limbah Sembarangan

Namun pembangunan hingga beroperasinya SPPG menjadi momok, khususnya masyarakat sekitar Kecamatan Stabat, Kabupaten Langkat. 

|
Penulis: Muhammad Anil Rasyid | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN MEDAN/Muhammad Anil Rasyid
SPPG - Suasana SPPG Pantai Gemi 2 di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, Senin (23/2/2026).  

TRIBUN-MEDAN.com, LANGKAT- Pembangunan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) atau biasa yang disebut dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), kian bertambah di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.

Pembangunan SPPG yang kian diperbanyak agar target kepada penerima menjadi merata. 

Namun pembangunan hingga beroperasinya SPPG menjadi momok, khususnya masyarakat sekitar Kecamatan Stabat, Kabupaten Langkat. 

Pasalnya SPPG nekat beroperasi tanpa adanya Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang memadai. 

Akibatnya, pencemaran di lingkungan sekitar pun kian meluas.

Hal ini seperti yang terjadi di SPPG Kwala Bingai Langkat dan SPPG Pantai Gemi 2. 

Untuk SPPG Kwala Bingai di Langkat, belum terdengar adanya keluhan.

Saat wartawan meninjau ke lapangan, faktanya drinase diduga digenangi limbah berwarna pekat dan berbau busuk.

Pengelola SPPG terkesan acuh dengan kelangsungan ekosistem dan kenyamanan warga sekitar.

Informasi dari salahseorang oknum relawan di SPPG tersebut, tak ada IPAL yang baik di sana. Limbah dari aktivitas di dapur, hanya disaring menggunakan jaring kawat. 

Selama berbulan-bulan, tak ada sistem pengolahan limbah yang baik. Termasuk pemisah lemak (grease trap) agar air limbahnya bisa dialiri ke lingkungan sekitar.

Tak hanya SPPG ini, aroma berbau busuk juga sangat mengganggu penciuman masyarakat sekitar SPPG Pantai Gemi 2. 

Bahkan petani di sekitar lokasi salah satu dapur MBG itu juga sudah resah. Areal pertaniannya sempat tercemar limbah beberapa waktu lalu.

“Beberapa waktu lalu, sawah kami ini tercemar limbah dari dapur MBG itu (SPPG Pantai Gemi 2). Waktu itu mereka memanggil mobil pemadam kebakaran untuk menyemprot saluran limbah mereka,” ujar seorang petani yang meminta identitasnya tak disebutkan dalam pemberitaan, Senin (23/2/2026). 

Petani di sana pun merasa sangat terganggu. Aktivitas SPPG tersebut tak semestinya mengusik kenyamanan warga sekitar. 

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved