Sumut Terkini

Warga Asahan Mengaku Diculik hingga Dianiaya dari Lokasi Perkebunan

Selanjutnya, korban melihat dari kejauhan ada seseorang yang melambaikan tangan seperti memanggil dirinya.

Penulis: Alif Al Qadri Harahap | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN MEDAN/Alif Al Qadri Harahap
Muhammad Ilham Syahputra mengalami luka di bagian wajah setelah diduga mendapatkan penganiayaan dari beberapa orang oknum di areal perkebunan yang dikelola kelompok tani Permata Gambut Jaya, Rawa Sari, Aek Kuasan, Kabupaten Asahan, Rabu (4/2/2026). 

TRIBUN-MEDAN.COM, KISARAN- Seorang warga yang juga merupakan anggota kelompok tani di Desa Rawa Sari, Aek Kuasan, Kabupaten Asahan mengaku menjadi korban penculikan dan penganiayaan yang diduga dilakukan oleh beserta beberapa orang, Rabu (4/2/2026)

Pemukulan dan dugaan penculikan ini diduga akibat adanya perselisihan soal penguasaan lahan eks PT Grahadura Leidong Prima antara Kelompok Tani Pemata Gambut Jaya.

Menurut korban Muhammad Ilham Syahputra, peristiwa itu bermula saat dirinya hendak membeli rokok di warung dekat kawasan tanah yang di kelola oleh kelompok tani.

Selanjutnya, korban melihat dari kejauhan ada seseorang yang melambaikan tangan seperti memanggil dirinya.

Korban yang tak menghiraukan akhirnya di datangi oleh orang yang melambaikan tangan tersebut dan akhirnya sejumlah orang mendatangi korban.

"Datang pak Buaya, kemudian datang pak BD (diduga oknum) mempertanyakan apa alasan kami memanen di objek areal yang kelompok tani kuasai. Saya tunjukan nomor SK yang kebetulan saya pakai bajunya," ujar Ilham, Kamis (5/2/2026) dini hari.

Tak ingin memperpanjang, korban Ilham kembali ke sepeda motornya dan mencoba menghindari pertikaian.

"Tiba-tiba datang BN (diduga oknum lainnya) menarik tangan saya. Saya reflek melepaskan tarikannya dengan lambaikan tangan ke belakang. Disitu BN membanting saya ke tanah dan langsung beberapa orang memijak-mijak kepala dan badan saya," ujar Ilham.

Tak puas sampai disitu, dua orang oknum tersebut langsung mengangkat korban menggunakan sepeda motor dan memborgol paksa tangan korban.

"Saya gelap saat jatuh itu. Seingat saya, setelah diinjak-injak saya dibawa ke sepeda motor, saya sempat memberontak hingga jatuh, kemudian tangan saya diborgol paksa sama si BN," ujarnya.

Tak sampai disitu, korban dibawa keluar areal perkebunan yang dikelola oleh kelompok tani, dan dipindahkan lagi ke dalam mobil Xenia bewarna merah.

"Saya dibawa keliling-keliling, hingga sampai kemari. Ke Polres Asahan. Didalam mobil saya diancam karena tadi tangan saya refleks melepaskan tarikannya, dibilang jatah dia (BN) belum. Yang mana artian jatah ini, jatah mukul," ujarnya.

"Di dalam itu juga tadi dia bersama beberapa orang dibilangnya disitu (menunjuk salah satu ruang Satreskrim Polres Asahan), ada ga polisi, jatahku belum ada ini. Saya disini dituduh mereka saya mencuri," tambahnya.

Akibat ulah dua orang oknum dan beberapa warga sipil itu, korban mengalami luka di wajah dan lebam dibagian leher.

Sementara Erianto, ketua Kelompok Tani Pemata Gambut Jaya sekaligus ayah dari korban Muhammad Ilham Syahputra mengaku saat ini pihaknya sudah melaporkan kejadian tersebut ke Denpom Asahan.

"Kami sudah membuat laporan ke Denpom Asahan, agar kasus ini segera diproses. Kami juga akan membuat laporan ke Polres Asahan agar penganiayaan yang terjadi kepada anak saya segera di proses," kata Erianto.

Terangnya, pihaknya mengelola lahan tersebut bukan tanpa alas dasar hak, melainkan berdasarkan SK kementrian kehutanan yang mengizinkan kelompok tani Permata Gambut Jaya seluas 2.288 hektare lahan.

"Kami diizinkan mengelola itu berdasarkan hak SK kementrian kehutanan sejak satu Desember 2023," pungkasnya.

(cr2/tribun-medan.com)

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan 

 

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved