Sekolah Semi Permanen Dibangun Dua Minggu Lagi , Siswa Belajar Gunakan Sistem Gabungan Kelas
Hal itu dilakukan, kata Johannes, agar tidak ada lagi kelas gabungan. Dan bisa dipisah sesuai dengan urutan kelas rendah atau pun tinggi.
Penulis: Anisa Rahmadani | Editor: Eti Wahyuni
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Ratusan siswa di Tapanuli Tengah belajar di tenda pengungsian yang telah dibangun oleh pemerintah pasca-bencana banjir dan longsor pada November 2025 lalu.
Ratusan siswa ini sudah belajar di tenda selama 4 hari berturut-turut sejak Senin (5/1) lalu. Seluruh siswa yang belajar di tenda pengungsian menggunakan sistem gabungan kelas, namun guru yang mengajar sesuai dengan siswa kelas rendah atau tinggi.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Tapteng, Johannes Simanjuntak mengatakan, pihaknya sedang merencanakan pembangunan sekolah semi permanen.
Hal itu dilakukan, kata Johannes, agar tidak ada lagi kelas gabungan. Dan bisa dipisah sesuai dengan urutan kelas rendah atau pun tinggi.
"Kalau tidak salah saya mudah-mudahan tidak salah itu ada 505 siswa yang belajar di tenda. Ada 4 tenda kita buat yang menyebar di Hutanabalon I, Hutanabolon II, dan di desa Kebun pisang. Dan mereka belajar di satu tenda dengan sistem shift kelas rendah dan kelas atas," jelasnya kepada Tribun Medan, Kamis (8/1/2026).
Baca juga: Bupati Masinton Beri Bantuan Peralatan Sekolah di Sekolah Darurat di Posko Pengungsian Badiri
Untuk itu, katanya, pihaknya bersama pihak swasta sedang memetakan pembangunan sekolah semi permanen. Namun tetap menggunakan tenda.
"Kita upayakan sekarang sekolah darurat semi permanen. Itu sedang kita bicarakan. Jadi siswa tidak lagi sekolah dengan sistem shift. Nantinya akan ada 4 kelas. Dan semua siswa belajar sesuai dengan kelasnya. Untuk lahan sudah dapat. Mudah-mudahan dua minggu ke depan sudah terbangun sekolah semi permanen ini," ucapnya.
Meski masih sekolah di tenda darurat, lanjutnya, kurikulum yang digunakan pun kurikulum bencana darurat.
"Pada umumnya pendekatan pembelajaran di daerah terdampak adalah pelajaran menyenangkan. Ada kegiatan trauma healing dan psycho sosial dengan relawan," jelasnya.
Dikatakannya,siswa yang belajar di tenda ini karena sekolahnya sudah tidak bisa digunakan bahkan ada yang sudah hilang ditimpa longsor.
"Misal sekolah di Kebun Pisang itu habis tertimpa longsor. Di sana ada 101 siswa. Makanya itulah mereka belajar di tenda pengungsian. Sementara di Hutanabalon itu, sekolahnya masih ada, tapi belum bisa dibersihkan karena aliran sungai masih mengalir di sekolah itu," tuturnya.
Saat ini, katanya, ada 11 siswa dan 3 guru yang meninggal akibat bencana. Namun seluruh sekolah yang tidak kena bencana sudah mulai aktif belajar mengajar.
"Untuk siswa yang mengungsi di Pandan atau beberapa kecamatan lainnya itu kita merger ke sekolah terdekat di sana. Artinya semua sudah belajar normal seperti biasanya," ucapnya.
Diketahui, sebanyak 368 sekolah rusak di Tapteng itu terdiri dari, 126 Paud, 192 SD dan 50 SMP.
Target Akhir Januari Sudah Keluar dari Pengungsian
| Dua Sungai di Kecamatan Kuala Meluap, Puluhan Rumah Terendam Banjir |
|
|---|
| Fokus Pemulihan Bencana, Komisi C Dukung Reformulasi APBD Pemprov |
|
|---|
| Percepat Pemulihan, Siswa MAN 3 Tapteng Gotong-royong di Lingkungan Madrasah |
|
|---|
| Belajar Mengajar Tetap Lanjut, Beberapa Sekolah di Langkat Masih Terendam Banjir |
|
|---|
| Aktivitas Hari Pertama setelah Libur, Beberapa Sekolah di Langkat Masih Terendam Banjir |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Tinjau-Sekolah-Bupati-Tapteng-Masinton-saat.jpg)