Tanggapi Video Viral, BPBD Bantah Persulit Bantuan untuk Korban Bencana
Dijelaskannya, ia bersama timnya adalah relawan, semua biaya dilakukan dengan gotong-royong.
Penulis: Anisa Rahmadani | Editor: Eti Wahyuni
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Sebuah video yang menarasikan barang bantuan milik Relawan Posko Malang Bersatu Gimbal Alas Indonesia dipersulit di Sumut viral di sosial media.
Dalam video yang beredar di sosial media terlihat sejumlah orang sedang memindahkan barang bantuan ke dalam truk. Kemudian dalam video itu salah satu relawan menjelaskan kronologi dipersulitnya bantuan yang mereka kirim sebanyak 2 kontainer.
"Ketika kami mau mengambil barang itu masih ada kendala biaya pemindahan barang dari Pelabuhan Belawan ke Kota Medan," jelas seorang relawan dalam video itu
Dijelaskannya, ia bersama timnya adalah relawan, semua biaya dilakukan dengan gotong-royong.
"Kami ini relawan semua biaya operasional dilakukan dengan gotong-royong. Dan akadnya (bantuan logistik untuk korban bencana di Aceh) akadnya di Pelabuhan Belawan," jelasnya.
Sementara dalam narasi yang beredar di sosial media, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumut dan PT Pelni Cabang Medan membebankan biaya pengangkutan sebesar Rp 2,4 juta per kontainer untuk pengantaran ke gudang logistik Pemprov Sumut yang diperbantukan di Gedung Serbaguna.
Baca juga: Penyaluran Bantuan untuk Korban Bencana Dikebut, Bulog Jamin Stok Beras Sumut Tetap Terpenuhi
Menanggapi itu, Kepala BPBD Sumut Tuahta Saragih membantah hal tersebut. Dijelaskannya juga saat ini, ia bersama Pihak PT Pelni sedang melakukan rapat untuk membahas hal tersebut.
Dijelaskan Tuahta, BPBD Sumut tak pernah mempersulit atau memperlambat bantuan untuk korban bencana dari pihak mana pun.
"Pemprov Sumut tidak pernah menahan bantuan dari pihak mana pun, termasuk bantuan yang dikirim dari Malang, Jawa Timur bernama Gimbal Alas. Dan saat ini rapat (soal Masalah itu dengan Pelni) masih berlangsung," jelasnya saat dikonfirmasi Tribun Medan, Senin (29/12).
Dikatakannya, yang menjadi persoalan, kontainer tersebut diangkut bersamaan dengan bantuan yang dikirim oleh Pemprov Jawa Timur.
"Jadi koordinasi kami antar Pemprov akan datang 10 kontainer. Namun sampai di Medan ada 12 kontainer. Nah, dua kontainer itu ternyata milik relawan Gimbal Alas yang mau disalurkan ke Aceh Tamiang," jelasnya.
Tuahta menerangkan, PT Pelni memiliki aturan tersendiri dan meminta agar 12 kontainer diterima Pemprov Sumut serta dibayarkan administrasinya.
"Jadi baik Jatim dan Sumut tidak tau ada dua kontainer tersebut. Karena yang akan dikirim hanya 10 kontainer. Pun begitu saya inisiatif mau bayar administrasinya, agar bisa segera dikeluarkan dari pelabuhan dan disalurkan. Tapi PT Pelni punya pandangan dan aturannya sendiri," jelasnya.
| Waspada Potensi Cuaca Ekstrem, BPBD Samosir Imbau Masyarakat Tingkatkan Kesiapsiagaan |
|
|---|
| MISTERI Kematian Kepala BPBD Fransiskus Xaverius Asten: Kacamata di Rumah, Tapi Mayatnya di Jurang |
|
|---|
| 6 Bulan Berlalu, Kasus Kematian Kepala BPBD Frans Asten Masih Misteri |
|
|---|
| Ratusan Rumah Kembali Alami Banjir di Tapteng, Berikut Keterangan BPBD |
|
|---|
| Edukasi Interaktif Penyelamatan Diri, Siswa SD Helvetia Belajar Langsung dengan BPBD Medan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/creenshot-foto-Salah-seorang-relawan-Gimbal-Alas.jpg)