Puluhan Hektare Sawah Siap Panen Diterjang Banjir, Butuh Alat Berat untuk Membersihkan Lahan 

Namun, pasca banjir bandang yang melanda Kecamatan Tukka pada Selasa (25/11) lalu, desa ini hancur lebur.

Penulis: Anisa Rahmadani | Editor: Eti Wahyuni
TRIBUN MEDAN/Anisa Rahmadani
Penampakan puluhan hektare sawah yang terendam banjir  dan lumpur di Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapteng, Minggu (7/12/2025). Padahal padinya sudah menguning dan siap panen. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Kecamatan Tukka Kabupaten Tampan Tengah, satu diantara kecamatan yang subur di Kabupaten Tapanuli Tengah.

Buah-buahan, sayur-sayuran, ikan sungai, padi semua bisa dihasilkan dari tanah Kecamatan Tukka ini. Warga menyebutnya, Tukka adalah hidden gem-nya Kabupaten Tapanuli Tengah.

Di kecamatan ini, ada ratusan hektare sawah, puluhan kebun buah-buahan mulai dari durian, rambutan, kelapa, dan lain-lain. Air mata air dari pegunungan pun hanya didapat di kecamatan ini.

Namun, pasca banjir bandang yang melanda Kecamatan Tukka pada Selasa (25/11/2025) lalu, desa ini hancur lebur. Padi-padi  yang siap panen pun gagal karena telah disapu banjir.  

Misalnya sawah milik, Juwita (32). Sambil menunjukkan lokasi sawah miliknya seluas 1 hektare, ia bercerita, hari banjir itu seharusnya mereka mulai memanen sawah.

"Satu hektare sawah kami udah jadi tinggal siap panen habis diterjang  banjir. Dari 2 hari sebelumnya sudah mau kami panen kian. Tapi, hujan terus kami tundalah sampai ternyata bukan rejeki kami sawah kami habis disapu banjir," cerita Juwita kepada Tribun Medan, Minggu (7/12/2025).

Baca juga: JANJI Prabowo Bantu Korban Banjir di Sumatera, Rehabilitasi Sawah hingga Rp 60 Juta Ganti Hunian

Menurutnya, satu hektare sawah miliknya itu bisa menghasilkan Rp 5 juta untuk sekali panen.

"Tanah kami ini (Tukka) tanah subur. Di sinilah semua beras, buah-buahan, ikan sungai, di sinilah semua. Ini banjir terparah  pertama kali terjadi, sepanjang saya tinggal di sini," jelasnya.

Hal senada juga dirasakan oleh Mistera. Ia juga memiliki sawah seluas 1 hektare yang siap panen. Namun juga ludes terbawa banjir.

"Payah bilanglah, sudah enggak terpikirkan lagi. Yang penting selamat semua. Harta benda biarlah hilang," katanya.

Hal senada juga disampaikan warga Desa Maratua Keluarga Tukka Kecamatan Tukka. Ada 5 hektare sawahnya yang terendam banjir. Bahkan ia sudah membayar orang di awal untuk memanen hasil padinya yang sudah menguning tersebut.

"Pas mau panen sebenarnya, kalau enggak gara-gara hujan sudah dipanen kian sebagian. Karena sudah menguning betul. Tapi beginilah gagal panen," ucapnya.

Ia pun enggan mendetailkan berapa kerugian yang didapat. Namun, padi ini juga menjadi lumbung  pangan masyarakat Kabupaten Tapteng.

"Selain itu, berasnya juga sebagian kami konsumsi untuk makan sehari-hari. Tapi apalagi mau dikata. Tinggal waktulah itu yang menyelesaikan, yang penting sehat selamat semua keluarga ini," ucapnya.  

Hingga kini, seluruh area sawah itu masih dipenuhi lumpur.  Tak banyak yang bisa dilakukan warga setempat karena lumpurnya cukup tinggi dan butuh alat berat untuk membersihkannya kembali.

 

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved