Sumut Terkini

Pra-POPNAS 2026 Resmi Dibatalkan, PJSI Sumut Soroti Dampak pada Pembinaan Atlet Muda

Pemerintah resmi membatalkan pelaksanaan Pra Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Pra-POPNAS) tahun 2026.

Tayang: | Diperbarui:
TRIBUN MEDAN/ISTIMEWA
ATLET SUMUT - Skuat judo Sumut foto bersama seusai pelepasan kontingen atlet Popnas dan Peparpenas Sumut di Aula Raja Inal Sumut, Kamis (30/10/2025) lalu. PJSI Sumut menyayangkan pembatalan Pra-POPNAS 2026. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN – Pemerintah resmi membatalkan pelaksanaan Pra Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Pra-POPNAS) tahun 2026.

Keputusan ini diambil menyusul kebijakan penajaman anggaran kementerian/lembaga yang berdampak langsung pada program di sektor olahraga, khususnya di bawah naungan Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia.

Pembatalan tersebut merujuk pada Surat Menteri Keuangan Nomor S-181/MK.03/2026 tertanggal 1 April 2026 tentang Penajaman Belanja Kementerian/Lembaga Tahun Anggaran 2026. 

Dalam surat itu dijelaskan bahwa alokasi anggaran untuk penyelenggaraan Pra-POPNAS tahun ini belum dapat disediakan, sehingga agenda yang seharusnya menjadi bagian penting dalam kalender pembinaan olahraga pelajar nasional terpaksa ditiadakan.

Pra-POPNAS selama ini dikenal sebagai ajang kualifikasi sekaligus wadah kompetisi bagi atlet pelajar dari berbagai daerah untuk menuju Pekan Olahraga Pelajar Nasional (POPNAS). Selain menjadi arena unjuk prestasi, kejuaraan ini juga berfungsi sebagai sarana pembinaan berjenjang bagi atlet usia dini.

Menanggapi pembatalan tersebut, Ketua Pengurus Provinsi Persatuan Judo Seluruh Indonesia (PJSI) Sumatera Utara, M. Arif Fadhillah, mengaku sangat menyayangkan keputusan tersebut. Menurutnya, Pra-POPNAS memiliki peran penting dalam meningkatkan jam terbang atlet muda.

“Terus terang kami sangat menyayangkan event ini batal. Anak-anak butuh jam terbang untuk belajar dan berkembang. Pra-POPNAS ini merupakan rangkaian penting dalam pembinaan olahraga pelajar, terutama bagi daerah yang memiliki program seperti SPOBDA,” ujar Arif kepada Tribun Medan.

Ia menegaskan, esensi dari ajang tersebut bukan semata-mata soal menang atau kalah, melainkan sebagai proses pembelajaran bagi atlet. Minimnya kompetisi dinilai dapat menghambat perkembangan atlet, khususnya di cabang olahraga yang sedang fokus pada regenerasi.

Arif mencontohkan kondisi di Sumatera Utara, di mana pembinaan saat ini lebih menitikberatkan pada atlet usia muda. Bahkan, di cabang judo, komposisi atlet didominasi oleh kelompok junior dibandingkan senior.

“Kami di Sumut saat ini banyak bertumpu pada atlet muda. Di judo misalnya, jumlah atlet junior jauh lebih banyak. Jadi ajang seperti ini sangat penting untuk mengasah kemampuan mereka,” tambahnya.

Meski memahami adanya kebijakan efisiensi anggaran pemerintah, Arif berharap sektor olahraga tetap mendapat perhatian yang proporsional. Ia menilai, pembinaan olahraga tidak boleh terhambat karena keterbatasan anggaran, mengingat dampaknya terhadap prestasi jangka panjang.

“Kami memahami adanya efisiensi, tetapi harapannya jangan terlalu ketat di bidang olahraga. Mungkin bisa disiasati di sektor lain, karena olahraga ini menyangkut masa depan atlet dan prestasi daerah maupun nasional,” pungkasnya.

(Cr29/tribun-medan.com)

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved