PSMS Medan

Jebolan PSMS U-21 Sanzai Hutajulu Ukir Sejarah, Juara Liga 4 Sumut Dua Musim Beruntun

Pada musim 2024/2025, Sanzai menjadi bagian penting dalam keberhasilan Victory Dairi menjuarai Liga 4 Sumatera Utara.

Penulis: Aprianto Tambunan | Editor: Ayu Prasandi
IST
Pemain Paya Bakung FC Sanzai Hutajulu menggiring bola melewati adangan pemain PS Kwarta di laga final Liga 4 Piala Gubernur Sumatera Utara di Stadion Mini Disporasu, Deliserdang, Jumat (17/4/2026). Sanzai Hutajulu sukses meraih gelar juara Liga 4 Sumut dua musim berturut-turut.  

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN– Sebuah catatan langka berhasil ditorehkan oleh pesepak bola asal Sumatera Utara, Sanzai Hutajulu. Ia sukses meraih gelar juara Liga 4 Sumatera Utara dalam dua musim berturut-turut, namun bersama dua klub yang berbeda, sebuah pencapaian yang tak mudah di level kompetisi regional.

Pada musim 2024/2025, Sanzai menjadi bagian penting dalam keberhasilan Victory Dairi menjuarai Liga 4 Sumatera Utara.

Perannya di lini depan begitu vital. Ia bukan hanya sekadar penyerang, tetapi juga motor serangan yang kerap membuka ruang dan menciptakan peluang bagi rekan setimnya.

Setahun berselang, pemain yang dikenal haus gol ini kembali membuktikan kualitasnya.

Bersama Paya Bakung FC, Sanzai kembali mengangkat trofi juara Liga 4 Piala Gubernur Sumatera Utara musim 2025/2026.

Keberhasilan tersebut mengukuhkan namanya sebagai salah satu pemain paling konsisten di kompetisi kasta regional tersebut.

Kontribusi Sanzai di dua tim juara itu tidak bisa dipandang sebelah mata. Ia hampir selalu tampil sebagai starter di setiap pertandingan, serta mencetak sejumlah gol krusial yang menentukan langkah timnya hingga ke tangga juara.

Perjalanan dari Kampung ke Lapangan Kompetitif

Perjalanan Sanzai menuju titik ini tidak instan.

Ia memulai segalanya dari lapangan-lapangan sederhana di kampung halamannya, Desa Bandar Selamat, Belang Malum, Sidikalang, Kabupaten Dairi.

Sejak kecil, Pria kelahiran Sidikalang 8 September 1996 itu sudah akrab dengan sepak bola, meski awalnya hanya sebatas permainan kampung.

Dukungan orang tua saat itu pun belum sepenuhnya mengalir karena kekhawatiran terhadap risiko cedera.

“Dulu masih sekadar main bola kampung. Orang tua juga masih was-was, jadi belum terlalu mendukung penuh,” kata Sanzai kepada Tribun Medan melalui seluler, Minggu (19/4/2026).

Keseriusannya mulai tumbuh saat duduk di bangku SMP. Ia sempat mengikuti turnamen antar-SMP se-Kabupaten Dairi, Sampet Cup, mewakili SMP Negeri 2 Sidikalang. Dari sana, kecintaannya terhadap sepak bola semakin kuat, meski prestasi awalnya baru sebatas peringkat ketiga.

Sanzai baru benar-benar masuk Sekolah Sepak Bola (SSB) saat duduk di bangku kelas 2 SMK. Ia bergabung dengan SSB Tapanuli yang kemudian berkembang menjadi Dairi United. Menariknya, keputusan itu sempat ia ambil tanpa sepengetahuan orang tuanya.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved