Ramadan 2026

Ramadan Jauh dari Keluarga, Eko Purdjianto Anggap PSMS Medan sebagai Keluarga di Tanah Rantau

Bulan suci Ramadan biasanya identik dengan kebersamaan bersama keluarga. Namun bagi pelatih kepala PSMS Medan, Eko Purdjianto

TRIBUN MEDAN/Aprianto Tambunan
Pelatih PSMS Medan Eko Purdjianto saat memberikan arahan kepada pemainnya di sesi latihan. Eko Purdjianto harus menjalani Ramadan jauh dari keluarga ditengah profesinya sebagai pelatih PSMS Medan di Pegadaian Championship musim 2025/2026. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN – Bulan suci Ramadan biasanya identik dengan kebersamaan bersama keluarga. Namun bagi pelatih kepala PSMS Medan, Eko Purdjianto, Ramadan tahun ini dijalani dengan suasana yang berbeda.

Ia harus menjalani ibadah puasa jauh dari keluarga tercinta karena tuntutan profesinya sebagai pelatih sepak bola profesional. Saat ini, Eko memilih tetap berada di Kota Medan untuk memimpin tim berjuluk Ayam Kinantan yang tengah berjuang di kompetisi Pegadaian Championship musim 2025/2026.

Bagi Eko, kondisi tersebut bukanlah hal yang baru. Pengalaman panjang di dunia sepak bola membuatnya sudah terbiasa melewati berbagai momen penting jauh dari keluarga, termasuk saat Ramadan maupun Hari Raya Idul Fitri.

“Kalau saya ini profesional, jadi sudah biasa. Dulu saat masih pemain bahkan pernah Lebaran tidak pulang. Sebagai pelatih juga pernah merayakan Lebaran di luar negeri. Itu bagian dari risiko pekerjaan secara profesional, jadi kita nikmati saja,” ujar Eko kepada Tribun Medan.

Pelatih asal Jawa Tengah ini menilai perjalanan karier di dunia sepak bola memang sering kali menuntut pengorbanan, termasuk harus meninggalkan keluarga untuk sementara waktu. Namun ia mencoba menyikapi hal tersebut dengan cara yang lebih positif.

Bagi Eko, keluarga tidak selalu harus dimaknai secara harfiah sebagai orang-orang yang berada di rumah. Di Medan, ia merasa memiliki keluarga baru, yakni para pemain dan ofisial PSMS yang setiap hari berjuang bersama di dalam tim.

“Sekarang saya punya keluarga di sini. Ada pemain dan ofisial, mereka semua keluarga saya juga. Saya sudah berpengalaman dengan situasi seperti ini, jadi saya anggap ini bagian dari pekerjaan yang harus dinikmati,” katanya.

Menurut Eko, menjalani pekerjaan dengan penuh keikhlasan menjadi kunci agar segala tantangan terasa lebih ringan. Ia percaya jika seseorang mampu menikmati proses yang dijalani, maka hasil yang baik juga akan mengikuti.

“Kalau pekerjaan kita nikmati, hasilnya insyaAllah juga baik. Bismillah mudah-mudahan semuanya berjalan lancar,” ucapnya.

Selama menjalani Ramadan di Medan, Eko juga mengaku sudah cukup beradaptasi dengan kehidupan di kota ini. Termasuk dalam urusan makanan untuk berbuka puasa maupun sahur.

Ia bahkan sudah memiliki beberapa tempat langganan yang kerap menjadi pilihan untuk menikmati hidangan sehari-hari selama Ramadan.

“Saya sudah punya langganan makanan di sini, jadi sudah nyaman. Menunya juga cocok,” ungkapnya.

Meski begitu, Eko memiliki preferensi tersendiri dalam memilih makanan. Ia mengaku tidak terlalu menyukai hidangan yang bersantan, sehingga lebih sering memilih menu yang ringan.

“Kalau pagi biasanya ada sop Sipirok. Itu enak. Saya memang tidak terlalu suka makanan bersantan,” jelasnya.

Selain itu, pelatih berpengalaman ini juga mulai menikmati berbagai kuliner khas yang ada di Kota Medan. Ia sering mencoba makanan yang dikenalkan oleh manajemen klub maupun rekan-rekan pelatih lainnya.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved