Ramadan 2026

Toge Panyabungan, Primadona Takjil Ramadan di Medan yang Obati Rindu Kampung Halaman

Kehadiran Toge Panyabungan di berbagai sudut Kota Medan setiap bulan Ramadan bukan sekadar melengkapi deretan takjil berbuka puasa.

|
TRIBUN MEDAN/Husna Fadilla Tarigan
TOGE PANYABUNGAN - Pedagang menyiapkan sajian Toge Panyabungan di lapak takjil kawasan Kota Medan, Jumat (20/2/2026). Minuman khas Mandailing dengan aneka isian dan kuah santan gula aren ini menjadi salah satu menu favorit warga yang selalu diburu saat bulan Ramadan. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN – Kehadiran Toge Panyabungan di berbagai sudut Kota Medan setiap bulan Ramadan bukan sekadar melengkapi deretan takjil berbuka puasa. Bagi banyak warga, minuman khas Mandailing ini telah menjadi bagian dari tradisi yang selalu dirindukan setiap tahunnya.

Di salah satu lapak penjual takjil, antrean pembeli terlihat silih berganti menjelang waktu berbuka. Toge Panyabungan yang berisi aneka bahan seperti lupis, pulut hitam, tape singkong, candil, dan cendol, disiram kuah santan serta gula aren, menjadi pilihan favorit karena rasanya yang manis, gurih, sekaligus mengenyangkan.

Salah seorang pembeli, Hidayat (34), mengaku hampir setiap Ramadan dirinya selalu menyempatkan diri membeli Toge Panyabungan. Baginya, minuman ini menghadirkan nostalgia suasana kampung halaman di Panyabungan, Mandailing Natal.

“Kalau sudah minum Toge Panyabungan, rasanya seperti pulang kampung. Aromanya dan rasanya mengingatkan suasana buka puasa dulu bersama keluarga,” ujar Hidayat kepada Tribun Medan, Selasa (24/2/2026).

Menurut Hidayat, di tengah banyaknya pilihan takjil modern, Toge Panyabungan tetap memiliki tempat tersendiri karena cita rasanya yang autentik dan tidak berubah sejak dulu. Ia bahkan menjadikannya menu wajib berbuka beberapa kali selama Ramadan.

Cerita serupa disampaikan pembeli lainnya, Meysarah (29), warga Medan. Ia mengaku selalu membeli Toge Panyabungan sejak masih kecil karena kebiasaan tersebut sudah menjadi tradisi keluarga setiap bulan puasa.

“Dari kecil kalau Ramadan pasti cari ini sama orang tua. Sekarang sudah kerja, tetap lanjut kebiasaan itu. Rasanya beda, lebih ‘Ramadan’ saja kalau ada Toge Panyabungan,” katanya.

Meysarah menambahkan, selain rasanya yang khas, porsi Toge Panyabungan yang lengkap membuatnya cukup mengenyangkan sehingga cocok menjadi menu pembuka sebelum menyantap makanan utama.

Fenomena ramainya pembeli menunjukkan bahwa Toge Panyabungan bukan hanya sekadar minuman manis, tetapi juga simbol nostalgia bagi para perantau asal Mandailing dan Tapanuli Selatan yang tinggal di Medan.

Kehadirannya setiap Ramadan seolah membawa kembali suasana kampung halaman di tengah hiruk-pikuk kota.

Bagi banyak warga, Ramadan terasa belum lengkap tanpa menikmati segelas Toge Panyabungan rasa tradisi yang terus hidup dari generasi ke generasi.

(cr26/tribun-medan.com)

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan 

 

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved