Puasa di Negeri Orang

Ramadan di Korea, Thia Syafira Mahasiswi Medan Rindu Takjil hingga Kenalkan Sop Buah

Keterbatasan penggunaan dapur membuatnya harus pandai mengatur waktu untuk memanaskan makanan sebelum waktu sahur tiba.

Penulis: Dedy Kurniawan | Editor: Ayu Prasandi
IST
Thia Syafira mahasiswi asal Kota Medan yang menjalani Ramadan jauh dari kampung halaman, tepatnya di Korea Selatan. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN – Bagi sebagian besar warga Indonesia, Ramadan identik dengan sahur bersama keluarga, berburu takjil menjelang berbuka, dan tarawih di masjid yang ramai.

Namun suasana berbeda dirasakan Thia Syafira Zulfi (23), mahasiswi asal Kota Medan yang menjalani Ramadan jauh dari kampung halaman, tepatnya di Korea Selatan.

Thia yang saat itu masih duduk di semester enam Universitas Sumatera Utara mendapatkan kesempatan mengikuti program pertukaran pelajar selama satu semester di Namseoul University, Korea Selatan.

Kesempatan tersebut menjadi pengalaman pertama baginya merantau jauh dari orang tua. Sebagai anak tunggal, Thia mengaku terbiasa dimanjakan keluarga, tetapi sejak kecil ia juga diajarkan untuk mandiri.

“Ini pertama kalinya saya tinggal jauh dari orang tua. Banyak hal yang harus saya lakukan sendiri dan itu jadi pengalaman berharga,” ujarnya, Minggu (22/2/2026) 

Sahur Sendiri di Negeri Empat Musim

Ramadan tahun itu bertepatan dengan musim semi.

Jika biasanya ia menikmati sahur hangat bersama keluarga di Medan, kali ini Thia harus menjalani sahur seorang diri di kamar asrama.

Keterbatasan penggunaan dapur membuatnya harus pandai mengatur waktu untuk memanaskan makanan sebelum waktu sahur tiba.

“Kadang makanan sudah dingin saat dimakan, tapi tetap saya nikmati karena ini pengalaman baru,” katanya.

Untuk mengusir rasa sepi, Thia bahkan sempat membuat video vlog sederhana yang diunggah ke YouTube sebagai kenangan pribadi.

Suasana Ramadan di Korea Selatan terasa jauh berbeda dibandingkan Indonesia. Tidak ada hiruk-pikuk penjual takjil atau suasana ramai menjelang berbuka seperti yang biasa ia jumpai di Kota Medan.

Karena tinggal di kawasan yang bukan daerah wisata, makanan halal dan takjil tidak mudah ditemukan.

Beruntung, ia memiliki beberapa teman Muslim asal Uzbekistan yang sudah lebih lama tinggal di Korea.

Melalui pertemanan itu, Thia belajar banyak tentang cara menjalani Ramadan di negeri minoritas Muslim.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved