Puasa di Negeri Orang

Cerita Liska Rahayu, Caregiver Asal Medan Jalani Ramadan Pertama di Jepang

Liska yang tinggal di kota kecil seperti Ise merasakan suasana Ramadan berjalan seperti bulan biasa.

|
Penulis: Tria Rizki | Editor: Ayu Prasandi
IST
Liska Rahayu (34), Warga Negara Indonesia (WNI) yang saat ini bekerja sebagai caregiver di Rumah Kelompok Lansia dengan Demensia, Jepang. Ramadan tahun 2026 menjadi ramadan pertamanya jauh dari keluarga. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN- Ramadan tahun ini menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi Liska Rahayu (34).

Perempuan asal Medan itu untuk pertama kalinya menjalani ibadah puasa jauh dari keluarga, tepatnya di Kota Ise, Prefektur Mie, Jepang.

Liska kini bekerja sebagai caregiver atau perawat lansia di sebuah rumah kelompok khusus penderita demensia. Ia berangkat ke Jepang pada April 2025 menggunakan visa Tokutei Ginou (Specified Skilled Worker/SSW).

"Biasanya kalau di rumah, waktu sahur ada yang bangunin. Di sini bangun modal alarm saja," ujar Liska saat diwawancarai.

Dari Lulusan Sastra Jepang hingga Bekerja sebagai Caregiver

Liska Rahayu kelahiran 1991. Ia merupakan anak ketiga dari empat bersaudara.

Angkatan Sastra Jepang Universitas Sumatera Utara (USU) tahun 2010 itu sempat berkarier sebagai jurnalis di salah satu media di Kota Medan selama tujuh tahun.

Keputusan meninggalkan dunia jurnalistik dan bekerja di luar negeri, menurutnya, didorong keinginan untuk merasakan pengalaman tinggal di negara lain.

"Saya hobi jalan-jalan. Dari dulu ingin bisa bekerja sambil melihat tempat-tempat baru," kata Liska.

Rencana bekerja di Jepang sebenarnya sudah muncul sejak 2022. Namun baru pada 2024 ia memantapkan diri untuk serius mempersiapkan keberangkatan.

Liska kembali memperdalam bahasa Jepang, mengikuti ujian kompetensi, wawancara, hingga akhirnya diterima bekerja sebagai caregiver atau kaigo.

Maret 2025 ia resmi mengundurkan diri dari pekerjaannya di Medan, lalu berangkat ke Jepang sebulan kemudian.

Ramadan Pertama di Jepang, Suasana Berbeda

Berpuasa di negara yang mayoritas penduduknya non-Muslim menghadirkan pengalaman berbeda.

Tidak ada penjual takjil di sore hari, tidak ada sirene imsak, dan tidak ada tradisi sahur bersama keluarga.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved