PDI Perjuangan Sumut
Ketua DPD PDIP Sumut Salurkan Sembako Partai untuk Petani Garoga yang Krisis Air dan Gagal Panen
Ketua DPD PDI Perjuangan Sumatera Utara, Rapidin Simbolon (tengah), menyerahkan bantuan sembako kepada petani di Aula Gereja HKBP Garoga
TRIBUN-MEDAN.COM, SAMOSIR-Aula Gereja HKBP Garoga, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, tampak penuh pada Senin Petang, Senin (27/04/2026).
Warga, sebagian besar petani, duduk berderet sambil menunggu pembagian bantuan sembako. Di wajah mereka, tersisa kelelahan setelah berbulan-bulan menghadapi musim kering yang memukul hasil pertanian.
Ketua DPD PDI Perjuangan Sumatera Utara, Rapidin Simbolon, datang bersama sejumlah kader partai dan anggota DPRD. Antara lain, Osvaldo Ardiles Simbolon Ketua DPC PDIP Samosir yang juga wakil ketua DPRS, serta fraksi PDIP lainnya seperti Gimbet Situmorang, Hannes Sihotang, Jeger Situmorang. Turut juga menampung aspirasi warga, Sorta Ertaty Siahaan Ketua Komisi B DPRD Sumut fraksi PDIP.
Kehadirannya menjadi lanjutan dari kunjungan awal April lalu, ketika ia mendengar langsung keluhan warga tentang gagal panen, kekeringan, hingga kerusakan infrastruktur desa.
Bantuan yang disalurkan berupa kebutuhan pokok seperti beras, gula, dan minyak goreng. Bagi warga, bantuan itu bukan sekadar soal nilai, tetapi tanda bahwa kondisi mereka mendapat perhatian.
“Dua bulan lalu kami sudah mendengar langsung apa yang dialami warga di sini. Hari ini kami datang untuk meringankan beban itu, meski belum bisa menyelesaikan semuanya,” kata Rapidin.
Krisis yang dihadapi petani Garoga tidak datang tiba-tiba. Dalam beberapa bulan terakhir, hujan nyaris tidak turun. Sumber air yang selama ini mengaliri sawah dan ladang mengering. Saluran irigasi tidak lagi berfungsi optimal.
Benny Rumahorbo, salah satu petani, menggambarkan situasi yang mereka alami. Ia menyebut hampir seluruh lahan pertanian di desa itu gagal panen.
“Kami gagal panen sampai 99 persen. Sawah kering, tanaman tidak tumbuh karena tidak ada air,” ujarnya.
Kondisi geografis Garoga yang bergantung pada sumber air alami memperparah situasi. Ketika sumber air menyusut, tidak ada alternatif lain yang bisa diandalkan. Beberapa warga bahkan menduga perubahan lingkungan turut memengaruhi berkurangnya debit air.
Keluhan serupa disampaikan Hostiani Sinaga. Ia mengatakan musim tanam tahun ini nyaris tidak memberi hasil.
“Padi kami tanam tidak tumbuh, jagung juga tidak tumbuh. Kekeringan kali ini lebih parah,” katanya.
Di tengah kondisi itu, beban ekonomi warga terus berjalan. Anak-anak tetap harus bersekolah, sementara penghasilan dari pertanian hampir tidak ada. Sebagian warga mengandalkan sisa panen tahun sebelumnya untuk bertahan.
“Untuk makan saja kami sudah kesulitan. Satu kilogram beras pun sangat berarti,” kata Benny.
Persoalan lain muncul dari infrastruktur desa. Jalan utama yang menghubungkan permukiman warga dengan pusat aktivitas ekonomi dalam kondisi rusak. Permukaan jalan bergelombang, dipenuhi batu lepas, dan sulit dilalui kendaraan.
Rohiana Rumahorbo mengatakan kondisi itu membuat biaya transportasi meningkat. Pengemudi ojek dan becak sering enggan masuk ke desa.
“Kalau pulang dari pasar, kadang tidak ada yang mau antar karena takut kendaraan rusak,” ujarnya.
Situasi tersebut berdampak langsung pada aktivitas ekonomi warga. Distribusi hasil pertanian yang tersisa menjadi terhambat, sementara akses terhadap kebutuhan sehari-hari semakin sulit.
Dalam dialog dengan Rapidin, warga juga menyampaikan kekhawatiran yang lebih mendasar: ancaman kekurangan pangan. Mereka mengaku tidak lagi memiliki kepastian untuk musim tanam berikutnya.
“Tahun ini kami tidak tahu mau makan apa. Tanaman semua layu,” kata Rohiana.
Menanggapi hal itu, Rapidin menilai persoalan di Garoga bersifat kompleks dan saling berkaitan. Namun ia menegaskan, krisis air menjadi akar utama dari berbagai masalah yang muncul.
“Kalau air tidak ada, pertanian berhenti. Kalau pertanian berhenti, ekonomi warga ikut berhenti,” katanya.
Menurut dia, bantuan sembako yang diberikan saat ini hanya bersifat jangka pendek. Untuk jangka panjang, diperlukan intervensi yang lebih sistematis, termasuk perbaikan infrastruktur dan solusi penyediaan air.
Rapidin mengatakan akan mendorong pemerintah daerah untuk menindaklanjuti persoalan tersebut melalui pengajuan program dan proposal pembangunan. Namun ia mengingatkan keterbatasan anggaran yang dimiliki pemerintah saat ini.
“Kita akan dorong ke provinsi. Tapi kondisi fiskal memang terbatas, jadi harus dicari solusi bersama,” ujarnya.
Sebagai langkah awal, ia menyatakan siap membantu kebutuhan mendesak warga, termasuk penyediaan satu unit traktor untuk kelompok tani.
Tokoh masyarakat Desa Garoga, Madiun Rumahorbo, menyampaikan apresiasi atas kehadiran Ketua DPD PDI Perjuangan Sumatera Utara, Rapidin Simbolon, di tengah situasi sulit yang dihadapi petani setempat.
Menurut Madiun, kehadiran Rapidin dan rombongan bukan sekadar membawa bantuan sembako, tetapi juga menunjukkan perhatian langsung terhadap kondisi warga yang tengah mengalami gagal panen akibat kekeringan.
“Kami berterima kasih karena Bapak Rapidin mau datang langsung melihat keadaan kami. Ini sangat berarti bagi warga di sini,” kata Madiun dalam pertemuan.
Ia menilai, di tengah keterbatasan yang dialami petani, perhatian dari pemangku kepentingan menjadi hal penting, terutama untuk memastikan bahwa persoalan yang mereka hadapi tidak terabaikan.
Madiun juga mengapresiasi langkah Rapidin yang sebelumnya datang mendengar keluhan warga, lalu kembali dengan membawa bantuan sebagai tindak lanjut.
“Bukan hanya datang mendengar, tapi juga kembali untuk membantu. Itu yang kami rasakan,” ujarnya.
Meski demikian, ia berharap perhatian tersebut dapat terus berlanjut, terutama dalam mendorong solusi jangka panjang bagi persoalan krisis air dan pertanian di Desa Garoga.
Bagi Madiun, kehadiran langsung pemimpin di tengah warga menjadi penguat moril di saat kondisi ekonomi sedang tertekan. “Setidaknya kami merasa tidak sendiri menghadapi keadaan ini,” katanya.
Di akhir pertemuan, warga tetap menyampaikan harapan agar perhatian terhadap Desa Garoga tidak berhenti pada bantuan sesaat. Mereka berharap ada upaya konkret untuk mengatasi krisis air dan memperbaiki akses jalan, agar aktivitas pertanian bisa kembali berjalan.
Bagi warga, persoalan yang mereka hadapi bukan hanya tentang gagal panen satu musim, tetapi tentang keberlangsungan hidup di tahun-tahun mendatang.(Jun-tribun-medan.com).
Pimpin PDI Perjuangan Sumut
Dipercaya Megawati Pimpin PDI Perjuangan Sumut
Satgas PDI Perjuangan Sumut
Rakerda IV PDI Perjuangan Sumut
| Ketua DPD PDIP Sumut Kembali Bagikan Benih P-32, Petani Marlumba Samosir: Tanaman Kami Berhasil Baik |
|
|---|
| Ketua DPD PDIP Sumut Hadiri Pemberkatan Gereja Katolik Lumban Malau di Samosir, Dukung Pembangunan |
|
|---|
| Ketua PDIP Sumut Serahkan SK DPC PDIP Medan dan Tapteng yang Diteken Megawati, Simalungun Menunggu |
|
|---|
| Ketua DPD PDI-P Sumut Bersama DPC PDIP Taput Melayat Simpatisan di Siborongborong |
|
|---|
| Temui Akar Rumput PARNA Taput, Ketua PDIP Sumut Serap Keluhan Petani soal Pupuk Mahal dan Langka |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/sebagai-tindak-lanjut-kunjungan-sebelumnya-saat-menyerap-aspirasi-petani.jpg)