PDI Perjuangan Sumut
Sipange Terisolir 10 Hari, Bantuan PDIP Sumut Terhalang, Cemas Warga Kelaparan Rapidin Warning PUPR
Jalan berlumpur dan guguran gelondongan kayu menjadi pemandangan sepanjang perjalanan menuju Kelurahan Sipange
TRIBUN-MEDAN.COM, TAPTENG-Jalan berlumpur dan guguran gelondongan kayu menjadi pemandangan sepanjang perjalanan menuju Kelurahan Sipange, Tapanuli Tengah, Jumat (5/12/2025).
Ketua DPD PDI Perjuangan Sumut, Drs Rapidin Simbolon MM, akhirnya tiba di bekas pemukiman yang luluh lantak setelah menempuh jarak sekitar 3 km dari Hutanabolon dengan berjaan kaki dan terkadang naik sepeda motor.
Banjir bandang dan longsor yang menerjang pekan lalu memutus tiga ruas jalan utama. Beberapa titik jalan bahkan patah total, membuat warga terisolir dan kesulitan memperoleh bantuan logistik.
Di lokasi, Rapidin datang bersama Sutrisno Pangaribuan dan rombongan PDI Perjuangan untuk memastikan kondisi ribuan warga yang terjebak di wilayah terdampak.
Rapidin Simbolon menyatakan kekhawatiran mendalam saat melihat kondisi Sipange yang sudah terisolir sepuluh hari dan persediaan pangan warga semakin menipis, ia mengatakan bahwa jika akses tetap tertutup, akan ada risiko kelaparan di tengah masyarakat.
Setelah menempuh jalan berlumpur dan patahan aspal sejauh lebih dari satu kilometer untuk membawa bantuan, Rapidin mengaku hatinya teriris melihat anak-anak dan orang tua bertahan dengan makanan seadanya.
“Kalau begini terus, saya khawatir warga bisa kelaparan,” ujarnya di tengah perkampungan yang porak-poranda.
Ia menegaskan bahwa pemerintah pusat harus segera membuka akses jalan agar bantuan bisa masuk, karena menurutnya, “ini bukan lagi soal logistik terlambat, ini soal keselamatan dan perut masyarakat yang sudah mulai kosong,"tegasnya.
Pemandangan Mencekam
Rumah-rumah warga tampak porak poranda. Sebagian hanya menyisakan puing, sebagian lain hilang tersapu air. Tiang listrik tumbang, lumpur dan kayu gelondongan memenuhi perkampungan.
Di sudut kampung, beberapa warga tampak berusaha tegar. Mereka mencangkul lumpur dengan tenaga seadanya untuk menyelamatkan yang masih tersisa.
“Untuk mendapatkan 5 kilogram beras saja warga harus menempuh jarak panjang,” ujar Rapidin. “Saya benar-benar merasakan penderitaan mereka,"sebutnya lagi.
Muara Sitompul, salah satu korban yang kehilangan rumah, menyambut kunjungan rombongan dengan mata berkaca-kaca. Ia mengatakan sudah 11 hari mereka terisolasi, tidak dapat keluar dan sulit memperoleh bantuan.
“Rumah-rumah sudah hilang, jalan pun putus. Ada 100 rumah rubuh, gereja juga hancur,” kata Muara.
Muara menunjukkan lokasi longsor dan jalan yang tertimbun material. Di wilayah itu, menurutnya, ada sekitar 6.000 jiwa yang terdampak.
“Kami terharu dikunjungi. Semoga Pak Rapidin bisa memperjuangkan nasib kami di pemerintah pusat,” ujarnya.
Desak Pemerintah Pusat Buka Akses
Setelah berdialog dengan warga, bantuan kemanusiaan yang dibawa rombongan akhirnya dipikul bergotong royong untuk mencapai titik pengungsian di Sipange.
Rapidin menegaskan, penanganan bencana harus segera dilakukan oleh pemerintah pusat.
“Saya akan memperjuangkan agar ini ditetapkan sebagai bencana nasional,” kata Rapidin. “Tanpa itu, pemulihan mustahil dilakukan.”
Ia juga meminta Kementerian PUPR segera membuka akses jalan utama yang tertimbun longsor.
“Buka tiga jalur itu dulu. Kalau aksesnya tidak dibuka, bantuan pasti terhambat,” tegasnya.(Jun-tribun-medan.com).
| Ketua PDIP Sumut Serahkan SK DPC PDIP Medan dan Tapteng yang Diteken Megawati, Simalungun Menunggu |
|
|---|
| Ketua DPD PDI-P Sumut Bersama DPC PDIP Taput Melayat Simpatisan di Siborongborong |
|
|---|
| Temui Akar Rumput PARNA Taput, Ketua PDIP Sumut Serap Keluhan Petani soal Pupuk Mahal dan Langka |
|
|---|
| PDI-P Komisi XIII Dengar Jeritan Petani Garoga, Peladang Khawatir Kelaparan, Gagal Panen 99 Persen |
|
|---|
| Ibu Pelajar yang Akhiri Hidup di Samosir Kenang Anaknya Tiap Hari Pulang Sekolah Jalan Kaki 10 Km |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/terhambat-bantuan-kemanusian-dari-pdi.jpg)