Berita Nasional

Imbas Rupiah Tertekan, Harga Obat Berpotensi Naik, Begini Penjelasan Menkes soal Komponen Biaya

Kementerian Kesehatan memperkirakan secara umum harga obat berpotensi mengalami kenaikan sekitar 10 hingga 20 persen

Tayang:
Dok. Antara
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin memberikan keterangan usai memantau kesiapan RSUD Komodo sebagai salah satu rumah sakit rujukan ASEAN Summit, Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT, Ahad (30/4/2023). 

TRIBUN-MEDAN.com - Kekhawatiran masyarakat terkait potensi kenaikan harga obat kembali menguat seiring pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan apakah fluktuasi kurs akan berdampak langsung pada harga obat di apotek maupun layanan kesehatan di rumah sakit.

Kementerian Kesehatan memperkirakan secara umum harga obat berpotensi mengalami kenaikan sekitar 10 hingga 20 persen akibat tekanan nilai tukar.

Namun, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa dampak tersebut tidak serta-merta dirasakan sebesar itu oleh masyarakat, karena struktur biaya obat tidak sepenuhnya bergantung pada dolar AS.

Ia menjelaskan bahwa industri kesehatan Indonesia saat ini tengah bergerak menuju kemandirian, termasuk dalam produksi vaksin dan obat-obatan penting yang sebelumnya masih bergantung pada impor.

Sejumlah komponen seperti IVIG dan albumin yang dahulu sepenuhnya diimpor kini mulai diproduksi di dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan terhadap kurs dolar.

Pertanyaan besar yang kini muncul di tengah masyarakat. Seberapa jauh dampaknya benar-benar terasa di apotek dan rumah sakit?

Sebagian Obat Masih Bergantung Impor, Tapi Tidak Seluruhnya

Budi menjelaskan, industri kesehatan Indonesia saat ini berada dalam fase transisi menuju kemandirian.

Sejumlah produk yang sebelumnya sepenuhnya impor kini mulai diproduksi di dalam negeri, mulai dari vaksin hingga alat kesehatan.

Ia mencontohkan perkembangan industri vaksin nasional.

"Ya saya kasih contoh tadi di sana kan, perusahaan vaksin tadi ada satu, biopharma sekarang udah ada tiga," kata Budi pada awak media saat dijumpai di kantor Kementerian Kesehatan Jakarta, Senin (22/6/2026)

Perubahan juga terjadi pada obat-obatan tertentu yang sangat vital di rumah sakit.

"Intravenous Immunoglobulin (IVIG) albumin kalau saya lihat di rumah sakit-rumah sakit ini adalah obat-obatan yang banyak dibeli dan rupiahnya besar sekali. Ini 100 persen impor. Sekarang kita udah bikin pabriknya satu, 600 ribu liter ya, pabrik kedua akan datang juga itu 1 juta liter," ujarnya.

Produk seperti IVIG dan albumin selama ini dikenal sebagai obat mahal dan krusial untuk pasien dengan kondisi tertentu.

Alat Kesehatan Mulai Diproduksi di Dalam Negeri

Tak hanya obat, alat kesehatan (alkes) juga mulai banyak diproduksi di Indonesia.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup J - Matchday 2
Selasa, 23 Juni 2026 | 00:00 WIB
Argentina
Argentina
2 - 0
Austria
Austria
Grup I - Matchday 2
Selasa, 23 Juni 2026 | 04:00 WIB
France
Prancis
3 - 0
Iraq
Irak
Grup I - Matchday 2
Selasa, 23 Juni 2026 | 07:00 WIB
Norway
Norwegia
Live
Senegal
Senegal
Grup J - Matchday 2
Selasa, 23 Juni 2026 | 10:00 WIB
Jordan
Yordania
VS
Algeria
Aljazair
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved