Berita Viral
AMIEN RAIS Kembali Muncul Lontarkan Komentar Pedas ke Pemerintah: Saya Melihat Memang Makin Rusak
Mantan Ketua MPR RI, Amien Rais kembali muncul mengkritik kebijakan pemerintah.
TRIBUN-MEDAN.com - Mantan Ketua MPR RI, Amien Rais kembali muncul mengkritik kebijakan pemerintah.
Amien Rais tampaknya tidak kapok meski sudah dilaporkan kasus UU ITE setelah menuduh Seskab Teddy Indra Wijaya sebagai penyuka sesama jenis.
Kini Amien Rais menyebut bahwa negara makin tidak bermoral di Akun YouTube Forum Keadilan TV,Minggu (17/5/2026) malam.
Menurut Amien Rais nilai demokrasi di negara ini semakin redup.
Di usia 82 tahun, Amien mengaku melihat adanya kecenderungan memburuk dalam tata kelola negara.
"Jadi saya tidak ada pretensi lebih tahu dari presiden atau para menteri ya. Saya mengamati secara insyaallah jernih ya proporsional. Saya melihat memang pertumbuhan negara kita ini sebagai negara demokrasi, apalagi dengan Pancasila sebagai ideologi negara itu nampaknya bukan semakin bersih dari apa, cacat-cacat moral ya," katanya.
"Kemudian juga, sepertinya orang yang sedang di pucuk kekuasaan itu, lantas jadi lupa ya, bahwa kita sebagian besar itu masih belum bisa hidup seperti yang semestinya," ujar Amien lagi.
Baca juga: GUBERNUR BI Perry Warjiyo Kena Semprot di DPR RI, Diminta Jangan Takut Ungkap Penyebab Rupiah Lemah
Baca juga: Dituntut 5 Tahun Penjara, Noel Bandingkan dengan Koruptor Rp75 M: Mending Korupsi Sebanyak-banyaknya
Ia menyoroti ketimpangan sosial yang semakin tajam, penegakan hukum yang dianggap tidak adil, hingga dominasi oligarki terhadap kekuasaan politik nasional.
Menurutnya, kondisi tersebut mencapai titik yang paling terasa dalam satu dekade pemerintahan Presiden Joko Widodo.
“Saya melihat memang lebih rusak. Politiknya ada nuansa pecah belah, hukumnya tidak ditegakkan secara adil, dan ekonominya dikuasai oligarki,” ujar Amien.
Ia menilai kekayaan sumber daya alam Indonesia justru lebih banyak dinikmati pihak asing dibanding rakyat sendiri.
Amien menyinggung sektor pertambangan seperti emas, tembaga, timah, batu bara, hingga gas alam yang menurutnya “dijual murah” dan tidak memberikan manfaat optimal bagi bangsa.
Soroti Ketimpangan dan Ancaman Gejolak Sosial
Amien juga mengaku khawatir dengan meningkatnya kesenjangan antara kelompok kaya dan miskin.
Ia menyebut jurang ketimpangan itu semakin melebar dari tahun ke tahun.
Menurut dia, generasi muda saat ini jauh lebih kritis dibanding era sebelumnya karena derasnya arus informasi digital dan media sosial.
Ia memperingatkan pemerintah agar tidak menganggap remeh kemarahan publik.
"Rakyat kita semakin pintar, jangan dicoba dibohongi lagi,” katanya.
Amien bahkan menyinggung potensi munculnya people power apabila rakyat merasa negara tidak lagi berpihak pada keadilan.
Ia menilai situasi sekarang berbeda dengan tahun 1998. Generasi muda dinilai lebih cepat memahami persoalan politik dan sosial, serta lebih berani menyuarakan ketidakpuasan.
“Kalau mereka sampai berkesimpulan rezim ini sudah cukup, lalu rakyat bergerak, nobody knows ke mana arahnya,” ucapnya.
Kritik Moralitas Elite Politik
Dalam wawancara tersebut, Amien berkali-kali menekankan pentingnya moralitas dalam kepemimpinan nasional. Ia menyebut kerusakan moral sebagai akar utama persoalan bangsa.
Menurutnya, hukum tidak bisa dipisahkan dari moralitas dan agama.
“Tidak ada hukum tanpa moralitas. Tidak ada moralitas tanpa agama,” katanya.
Amien menilai banyak elite politik terlalu berorientasi pada kekuasaan dan kepentingan duniawi semata.
Akibatnya, praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme tetap tumbuh subur meski reformasi sudah berjalan lebih dari dua dekade.
Ia bahkan menyebut birokrasi Indonesia masih bercorak “kleptokrasi”.
“Birokrasi para maling. Tikus-tikus berdasi,” katanya tajam.
Beri Peringatan untuk Prabowo
Meski keras mengkritik pemerintahan sebelumnya, Amien mengaku masih menyimpan harapan terhadap Presiden Prabowo Subianto.
Ia menyebut mengenal Prabowo cukup lama dan pernah mendampingi selama sekitar 10 tahun.
Amien mengatakan Prabowo memiliki wawasan kebangsaan dan pemahaman geopolitik yang kuat.
Namun ia khawatir Presiden mulai terpengaruh lingkar kekuasaan di sekitarnya.
Ia secara khusus menyoroti keberadaan orang-orang dekat Presiden yang dinilai terlalu dominan dalam mengatur akses dan komunikasi di lingkungan Istana.
Menurut Amien, kondisi itu berpotensi menciptakan personalisasi kekuasaan dan menyaring informasi yang diterima Presiden.
“Kegagalan seorang presiden sering kali datang dari orang-orang di sekelilingnya,” ujarnya.
Ia bahkan mendorong agar dilakukan “reshuffle total” dalam kabinet dan lingkar inti pemerintahan apabila dinilai tidak produktif.
Singgung Pengaruh Oligarki
Salah satu kritik paling keras Amien tertuju pada pengaruh oligarki terhadap kekuasaan politik.
Ia mengatakan presiden akan sulit menjalankan agenda kerakyatan apabila terlalu dekat dengan para pemilik modal besar.
Menurutnya, keberanian menolak tekanan oligarki menjadi kunci utama kepemimpinan nasional.
“Selama presiden tidak mempan sogokan oligarki, dia akan berdiri kokoh,” kata Amien.
Ia mengingatkan bahwa oligarki memiliki cara untuk memengaruhi penguasa, termasuk melalui dukungan finansial maupun akses kekuasaan.
Karena itu, Amien meminta Prabowo kembali pada idealisme awal yang selama ini disampaikan saat kampanye, terutama terkait kedaulatan pangan, energi, dan penguasaan sumber daya alam nasional.
Usul Dewan Perbaikan Bangsa
Dalam bagian lain wawancara, Amien mengusulkan pembentukan semacam dewan nasional yang berisi tokoh politik, intelektual, budayawan, dan pemuka agama untuk membantu memberikan arah moral bagi bangsa.
Ia juga mengusulkan adanya forum rutin seperti Face the Nation yang disiarkan secara nasional agar pemerintah lebih terbuka kepada publik.
Menurutnya, keterbukaan dan komunikasi yang sehat penting untuk menjaga kepercayaan rakyat terhadap negara.
“Indonesia Belum Terlambat”
Meski melontarkan banyak kritik tajam, Amien menegaskan dirinya belum kehilangan harapan terhadap masa depan Indonesia.
Ia percaya Indonesia tetap memiliki peluang menjadi negara besar apabila berani memperbaiki tata kelola pemerintahan dan menjauh dari praktik korupsi serta oligarki.
“Indonesia belum terlambat. Kita bangsa besar dan masih punya harapan,” katanya.
Amien menutup pandangannya dengan ajakan agar elite nasional kembali mengutamakan kepentingan rakyat dan menjaga moralitas dalam kekuasaan.
"Mungkin di situlah inti dari seluruh percakapan kita kali ini. Negara ini terlalu besar untuk diserahkan pada bisik-bisik lingkar dalam dan rakyat terlalu berharga untuk hanya diminta diam. Terima kasih," tutup Amien.
(*/tribun-medan.com)
Artikel sudah tayang di wartakota.com
| GUBERNUR BI Perry Warjiyo Kena Semprot di DPR RI, Diminta Jangan Takut Ungkap Penyebab Rupiah Lemah |
|
|---|
| Dituntut 5 Tahun Penjara, Noel Bandingkan dengan Koruptor Rp75 M: Mending Korupsi Sebanyak-banyaknya |
|
|---|
| PRIMUS Tak Percaya Alasan BI Sebut Rupiah Lemah Karena Situasi Perang: Ke Mata Uang Lain Juga Lemah |
|
|---|
| DILAPORKAN Menganiaya ART, Erin Pengin Kasus Ini Dibawa Sampai Pengadilan: Saya Punya Bukti CCTV |
|
|---|
| PURBAYA Sebut Nilai Rupiah Anjlok Saat Ini Tak Sama dengan Krisis 1998: Ekonomi Masih Terkendali |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Amien-Rais-pendukung-Prabowo.jpg)