Berita Nasional
Sentilan Ekonom untuk Prabowo: Kalau Dolar Naik, Orangutan Juga Kena
Sindiran itu muncul setelah Rupiah kembali menyentuh titik terlemah baru terhadap dolar AS pada perdagangan Jumat (15/5/2026),
TRIBUN-MEDAN.com - Pernyataan Presiden Prabowo Subianto soal warga desa yang “tidak memakai dolar” justru memantik kritik tajam dari ekonom Prof. Ferry Latuhihin di tengah melemahnya nilai tukar Rupiah.
Ferry menilai dampak penguatan dolar Amerika Serikat tetap dirasakan seluruh lapisan masyarakat, termasuk warga pedesaan yang sehari-hari tidak pernah memegang mata uang asing.
"Salah Pak, kalau dolar naik semua orang kena, Pak. Orangutan juga kena, Pak," kata Ferry, dikutip dari video yang diunggah di akun media sosial X (dulu Twitter) milik founder lembaga survei Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI) Hendri Satrio, @satriohendri, Sabtu (16/5/2026), dilansir Tribunnews.com.
Sindiran itu muncul setelah Rupiah kembali menyentuh titik terlemah baru terhadap dolar AS pada perdagangan Jumat (15/5/2026), yakni di level Rp17.601 per dolar AS.
Sebelumnya, Rupiah juga sempat ditutup di angka Rp17.529 per dolar AS pada Selasa (12/5/2026), menjadi salah satu level terendah sepanjang sejarah.
Di tengah kekhawatiran publik soal tekanan ekonomi, Prabowo sebelumnya mencoba menenangkan situasi saat berpidato dalam peresmian Museum Marsinah.
Ia menilai kondisi pangan dan energi Indonesia masih aman dibanding banyak negara lain.
"Saya yakin sekarang ada yang selalu, itu apa saya nggak mengerti ya, sebentar sebentar Indonesia akan kolaps, akan chaos, akan apa, iya kan?" ujar Prabowo saat berpidato dalam peresmian Museum Marsinah dan Rumah Singgah di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026) pagi.
"Rupiah begini, rupiah begini, apa, dolar begini, dolar begini. Orang, rakyat di desa enggak pakai dolar kok, iya kan?"
"Pangan aman, energi aman, ya. Banyak negara panik, Indonesia masih oke. Kita banyak, banyak yang diberikan Yang Maha Kuasa."
Namun menurut Ferry, logika tersebut tidak tepat karena pelemahan Rupiah akan memengaruhi harga barang, biaya produksi, hingga kebutuhan pokok yang menggunakan komponen impor.
Artinya, masyarakat desa tetap ikut menanggung efeknya meski tidak bertransaksi langsung menggunakan dolar AS.
Kenaikan kurs dolar biasanya berdampak pada harga bahan bakar, pupuk, pangan impor, obat-obatan, hingga biaya distribusi barang yang akhirnya merembet ke harga kebutuhan sehari-hari.
Karena itu, Ferry menilai persoalan nilai tukar tidak bisa dianggap jauh dari kehidupan masyarakat kecil.
Sorotan terhadap nilai tukar Rupiah sendiri terus menguat dalam beberapa hari terakhir, seiring munculnya kekhawatiran publik terhadap tekanan ekonomi global dan kondisi fiskal nasional.
Bergantung Pada Impor
Di sisi lain, Ferry juga menyebut, bahwa Indonesia masih bergantung pada impor untuk berbagai kebutuhan penting, seperti bahan bakar minyak (BBM), kedelai, gula, bahkan jagung dan beras.
Kata Ferry, semua barang yang diimpor dibayar dengan menggunakan dolar. Maka, harga barang impor akan ikut semakin mahal jika nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS melemah.
"Bapak inget, impor BBM itu bayar pakai apa Pak, kalau bukan dolar? Kalau dolar naik, apalagi harga minyak naik, semua orang kena, Pak," ujar alumnus Erasmus University Rotterdam itu.
"Dolar naik, harga minyak naik, emang produksi enggak pakai minyak, Pak? Itu akan dipasang ke harga konsumen akhir ya, sampai sekarang minyak goreng aja Pak, itu udah naik 25 persen, lho. Yang harga Rp36 ribu, udah Rp45 ribu, itu akibat dolar naik, harga minyak naik."
"Kita membayar minyak yang kita impor itu, pakai dolar, Pak."
"Apakah orang desa itu tidak pakai minyak goreng? Kan pakai minyak goreng, Pak. Di mana-mana orang pakai minyak goreng."
"Belum lagi, Pak gula kita masih impor, belum lagi yang namanya kacang kedelai, untuk tahu tempe yang makanan orang kampung, orang desa, itu, kalau kita impor, bayarnya dalam dolar, Pak."
"Belum lagi, jagung, belum lagi beras kalau kita masih impor, itu semua bayarnya pakai dolar, Pak.
Ferry Latuhihin yang pernah menjadi Penasihat Ahli di Tim Kampanye Nasional (TKN) Koalisi Indonesia Maju (KIM) yang mengusung Prabowo Subianto - Gibran Rakabuming Raka pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 itu juga menjelaskan, jika nilai dolar dan harga minyak dunia naik, maka masyarakat selaku konsumen, termasuk warga pedesaan, akan terkena dampaknya.
Sebab, biaya produksi barang kebutuhan sehari-hari terpengaruh dengan kurs Rupiah terhadap dolar AS.
"Jadi, Bapak salah kalau Bapak bilang orang kampung, orang desa tidak pegang dolar, tidak berpengaruh pada mereka." tegas Ferry.
Ferry lantas menggarisbawahi, warga desa terutama yang berada di kelas menengah ke bawah akan semakin terdampak oleh melemahnya nilai tukar Rupiah.
"Memang mereka tidak pegang dolar —pegang rupiah juga kadang-kadang kok, namanya orang desa enggak punya income apa-apa— Tapi, kalau Bapak bilang, orang desa tidak pegang dolar dan tidak menjadi korban daripada dolar, Bapak salah," papar Ferry.
Kemudian, Ferry menduga, kemungkinan Prabowo mendapat informasi yang tidak tepat dari orang-orang di sekitarnya.
"Bapak dibohongin oleh orang-orang Bapak," tegasnya.
(*/ Tribun-medan.com)
Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News
Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter dan WA Channel
Berita viral lainnya di Tribun Medan
| 5 Fakta Ucapan Prabowo soal Rupiah Anjlok: Warga Desa Tak Pakai Dolar, Singgung Titiek Soeharto |
|
|---|
| PRABOWO Balas Sindiran RI Bakal Kolaps Karena Nilai Tukar Rupiah Loyo, Bandingkan Negara Lain |
|
|---|
| Pengakuan Nadiem Makarim Bongkar Cara Jaksa Hitung Kerugian Negara: Kenapa Dilempar ke Saya? |
|
|---|
| Soal Larangan Nobar Film Pesta Babi, Yusril Ihza Mahendra: Biarkan Masyarakat Menonton |
|
|---|
| Nasib Nadiem Makarim Jika Tak Bayar Rp 5,6 Triliun Dalam Waktu 1 Bulan, Harta Bedanya Akan Disita |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/PIDATO-PENUTUPAN-RETRET-Presiden-Prabowo.jpg)