Berita Viral

Duduk Perkara Siswi SMAN 1 Pontianak Josepha Diancam, Tolak Tanding Ulang Cerdas Cermat MPR

Siswi SMAN 1 Pontianak,  Josepha Alexandra alias Ocha mendapatkan ancaman dari orang tak dikenal.

Tayang:
Editor: Salomo Tarigan
Tangkapan layar
DAPAT ANCAMAN - Siswi SMAN 1 Pontianak,  Josepha Alexandra alias Ocha mendapatkan ancaman dari orang tak dikenal. Josepha merupakan satu dari peserta tim kelompok C  yang sempat memprotes keputusan juri dari kepegawaian MPR. 

TRIBUN-MEDAN.com - Polemik Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR tingkat Kalimantan Barat (Kalbar) masih menyisakan permasalahan.

Kini siswi SMAN 1 Pontianak,  Josepha Alexandra alias Ocha mendapatkan ancaman dari orang tak dikenal.

Josepha merupakan satu dari peserta tim kelompok C  yang sempat memprotes keputusan juri dari kepegawaian MPR.

Josepha mempertanyakan jawabannya yang disalahkan juri hingga mendapat minus 5.

Sementara grup B (SMAN 1 Sambas)  yang selanjutnya mendapat lemparan pertanyaan, memberi jawaban yang sama dengan Josepha.

Jawaban Grub B dibenarkan dan mendapat nilai 10.

JURI LCC - Juri final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI Indri Wahyuni dan Dyastasita Widya Budi.
JURI LCC - Juri final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI Indri Wahyuni dan Dyastasita Widya Budi. (TRIBUN MEDAN/MPRGOID)

 Video Ocha protes ke juri mendapatkan dukungan dari masyarakat luas. 

MPR juga sudah mengakui bahwa juri telah melakukan kesalahan dengan menyalahkan jawaban dari Ocha. 

Kini Ocha mendapatkan pesan ancaman dari OTK di ponselnya. 

Imbas dari pesan ancaman itu, Ocha mengalami tekanan mental dan sering mengurung diri di kamar. 

Informasi mengenai ancaman ini pertama kali diunggah oleh akun Threads @zvanniisygg yang mengaku sebagai pihak keluarga.

Dalam unggahan tersebut, terlihat pesan singkat yang bernada peringatan hukum kepada Ocha.

“Selamat pagi, kami infokan kembali untuk hapus video yang ada di IG, jika tidak kami akan layangkan somasi,” demikian isi pesan WhatsApp yang ditunjukkan akun tersebut.

Kabar mengenai memburuknya kondisi psikologis Ocha juga sempat ramai setelah akun @will_bertus1996 menyebut keponakannya itu menjadi murung.

Sosok Siswi SMAN 1 Pontianak bernama Josepha Alexandra atau akrab disapa Ocha menjadi sorotan publik belakangan ini usai memprotes keputusan juri dalam Final Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat.
Sosok Siswi SMAN 1 Pontianak bernama Josepha Alexandra atau akrab disapa Ocha menjadi sorotan publik belakangan ini usai memprotes keputusan juri dalam Final Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat. (TRIBUN MEDAN/YOUTUBE)

Dalam narasinya, ia meminta keadilan karena Ocha disebut sering mengurung diri di kamar akibat situasi yang memanas pasca-perlombaan.

"Mohon keadilan untuk keponakan saya khususnya ananda Ocha. ybs yg menjawab pertanyaan dgn benar dari kelompok C dan umum utk SMAN 1 yg harusnya mewakili Kalbar, ponakan saya skrg jd murung dan mengurung diri di kamar," tulis akun tersebut.

Menanggapi kegaduhan itu, pihak SMAN 1 Pontianak segera mengeluarkan pernyataan resmi untuk memberikan klarifikasi.

Melalui akun Instagram sekolah, mereka membantah seluruh kabar yang menyebut Ocha sedang dalam kondisi tertekan atau diintimidasi.

Sekolah menegaskan bahwa informasi yang beredar di Threads dan platform lainnya terkait kesehatan mental Ocha adalah tidak benar.

"Terimakasih atas atensi besar dan kepedulian terhadap Yosepha. Kami mengonfirmasi bahwa berita ini hoax dan tidak bersangkutan dengan Yosepha," tulis akun resmi SMAN 1 Pontianak.

Pihak sekolah juga meminta masyarakat untuk lebih bijak dalam menyaring informasi agar tidak dimanfaatkan oleh pihak yang memiliki kepentingan tertentu.

Meski diterpa isu ancaman, Ocha justru mendapatkan perhatian langsung dari tingkat pusat dengan diundang bertemu Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di Jakarta.

Pertemuan tertutup selama satu jam di Istana Wakil Presiden pada Rabu tersebut fokus pada pemberian motivasi.

Gibran disebut memberikan arahan mengenai cara menghadapi perdebatan publik dan teknik berbicara yang baik.

"Ini menjadi suatu harapan dan semangat bagi kami untuk terus melangkah maju dan berkembang," ujar Ocha usai pertemuan.

Ia menjelaskan bahwa Wakil Presiden memberikan banyak masukan terkait mentalitas saat berada di hadapan umum.

"Di dalam tadi kami diberi motivasi sama Pak Wapres untuk terus belajar dan berprestasi. Tadi kami diberi motivasi dan tips and trik juga bagaimana caranya nanti untuk ber-public speaking atau untuk berdebat di muka umum," tambahnya.

Selain dukungan dari Wakil Presiden, anggota DPR/MPR RI Rifqinizamy Karsayuda juga dilaporkan memberikan apresiasi berupa tawaran beasiswa pendidikan ke China.

Hingga saat ini, polemik mengenai hasil LCC Empat Pilar MPR di Kalimantan Barat masih menjadi sorotan.

Namun pihak sekolah memastikan kondisi Ocha tetap terpantau dengan baik di tengah dukungan publik yang terus mengalir.

Respons MPR, SMAN 1 Pontianak Tolak Tanding Ulang

 Meski merasa dicurangi juri, SMAN 1 Pontianak menolak pelaksanaan final ulang Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat.

Sementara MPR sudah mempersiapkan jadwal ulang pelaksanaan lomba.

Bagaimana Tanggapan MPR?

Baca juga: Lomba Cerdas Cermat MPR Diulang, SMAN 1 Pontianak tak Mau Ikut, Dampak Psikologis Kesalahan Juri

Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno menghormati keputusan SMAN 1 Pontianak, yang menolak pelaksanaan ulang Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat.

MC DAN JURI - 3 Sosok Kontroversial Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar, MC Sindy, juri dari kepegawaian MPR Indri dan Dyastasita Buat Publik Geram (Tribun Medan Kolase)
MC DAN JURI - 3 Sosok Kontroversial Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar, MC Sindy, juri dari kepegawaian MPR Indri dan Dyastasita Buat Publik Geram (Tribun Medan Kolase) (Tribun Medan Kolase)


Eddy mengungkapkan, pihak MPR RI saat ini masih menunggu surat resmi dari SMAN 1 Pontianak untuk selanjutnya dibahas dalam rapat internal guna menentukan keputusan lanjutan terkait permintaan tersebut.

Baca juga: Keracunan MBG Ratusan Siswa Korban di Cakung, Investigasi Dinkes Ada Cemaran Mikrobiologi


“Kan secara terbuka ke publik sudah disampaikan sesuai dengan statement publik yang disampaikan oleh SMAN 1. Nah tentu kami selaku penyelenggara dari LCC menunggu dari SMAN 1 untuk bisa mengirimkan juga kepada MPR secara resmi,” kata Eddy, kepada wartawan, Jumat (15/5/2026).

.


Eddy menyebut, surat resmi tersebut diperlukan agar MPR RI dapat segera mengambil keputusan baru terkait polemik pelaksanaan ulang lomba.


“Sehingga nanti di MPR kita bisa rapatkan keputusan dan membuat keputusan baru agar apa yang diminta oleh teman-teman SMAN 1 itu bisa tentu kita penuhi berdasarkan surat permintaan yang mereka kirimkan,” katanya.


Eddy juga mengapresiasi sikap SMAN 1 Pontianak yang tetap mendukung SMA Sambas untuk melaju ke babak final LCC.


Ia menilai, langkah tersebut menunjukkan sikap legawa dan jiwa kesatria dari pihak sekolah.


“Kami menghormati dan mengapresiasi apa yang sudah diputuskan oleh SMAN 1, apalagi mengatakan bahwa SMAN 1 akan mendukung SMA Sambas untuk maju nanti di final. Saya kira ini sebuah sikap legowo dan kesatria yang ditunjukkan oleh pimpinan SMAN 1,” ujarnya.


Selain itu, Eddy juga menyambut baik komitmen SMAN 1 Pontianak yang menyatakan tetap akan mengikuti ajang LCC pada tahun-tahun mendatang.


“Apalagi mereka juga mengatakan bahwa tahun-tahun depan akan tetap ikut menjadi peserta di LCC. Jadi artinya semangatnya tidak surut dan ini kami sangat hargai,” ucapnya.


Eddy menilai, sikap yang ditunjukkan SMAN 1 Pontianak mencerminkan semangat kebangsaan yang menjadi tujuan utama sosialisasi Empat Pilar MPR RI.


“Dan inilah sesungguhnya semangat keindonesiaan yang kami ingin bangun melalui sosialisasi empat pilar kebangsaan MPR RI,” tandasnya.

Untuk diketahui, SMAN 1 Pontianak memberikan tanggapan resmi terkait polemik Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI di Kalimantan Barat pada Sabtu (9/5/2026) lalu.

Mereka menegaskan tidak akan mengikuti tanding ulang LCC yang sebelumnya diumumkan oleh MPR RI.

Sebaliknya, pihak sekolah memilih menghormati hasil akhir lomba dan mendukung SMAN 1 Sambas untuk maju mewakili Kalbar ke tingkat nasional.

Baca juga: Awalnya Kenal di Medsos Bertengkar soal Wanita, Anak 13 Tahun Tewas Ditikam Temannya

Tanggapan Federasi Guru soal Penolakan

Federasi Seluruh Guru Indonesia (FSGI) merespons rencana MPR RI untuk mengulang final Lomba
Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar di Kalimantan Barat.
MPR menyebut langkah tersebut sebagai upaya perbaikan dan menjaga kepercayaan publik.
Ketua Umum FSGI, Fahriza Marta Tanjung, menambahkan, pihak menolak gelaran LCC 4 pilar itu karena kesalahan juri seharusnya menjadi tanggung jawab penyelenggara.
Dikatakan, bukan dibebankan kepada peserta dengan cara mengulang kompetisi.
"Kesalahan juri tidak boleh dibebankan kepada peserta. Anak-anak sudah berjuang secara sportif dan hasil lomba seharusnya tetap dihormati," ujar Fahriza di Jakarta, Kamis (14/5).
Ditambahkan Ketua Dewan Pakar FSGI Retno Listyarti, pengulangan lomba bukan langkah tepat karena berpotensi psikologis pada peserta didik.
“Keputusan ini sekilas terlihat adil, tetapi justru dapat menjadikan anak-anak sebagai korban kebijakan,” ujar Retno.
FSGI menegaskan sejumlah alasan penolakan pengulangan, di antaranya: kemenangan peserta merupakan hasil kerja keras.

Kesalahan Juri Berdampak pada Psikologis

Walau SMAN 1 Sambas mungkin diuntungkan dengan ketidakcermatan dewan juri, namun itu bukan kesalahan peserta didik dari SMAN 1 Sambas ini, itu kesalahan Dewan Juri yang tidak profesional. 
"Jangan karena kesalahan dewan juri, anak-anak ini menjadi korban," ujar Fahriza.
Jika kecurangan dari peserta, maka langkahnya bukan diulang tapi peserta yang curang itu di diskualifikasi.
Di sisi lain, jika LCC 4 Pilar di Kalimantan Barat akan diulang, maka dapat dipastikan seluruh
peserta didik, semua sekolah harus mempersiapkan ulang dan bisa jadi yang menang
bukan SMAN 1 Sambas dan mungkin juga bukan SMAN 1 Pontianak. 
"Ada potensi dampak psikologis, beban biaya tambahan bagi negara dan sekolah, serta kemungkinan munculnya sengketa hukum," jelas dia.
FSGI meminta MPR untuk fokus pada evaluasi sistem dan perbaikan mekanisme penjurian agar kejadian serupa tidak terulang, bukan dengan mengulang lomba yang sudah selesai.
“Yang paling penting adalah memastikan kejadian ini tidak terulang kembali,” tegas Komisioner KPAI Periode 2017-2022 itu.

Tuai Kritik, Juri Belum Minta Maaf

Hingga saat ini, kedua dewan juri tersebut belum menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada publik.

Sikap diam kedua juri ini menuai kritik dari Pengamat Pendidikan, Indra Charismiadji.

Ia menilai sikap tersebut sebagai bentuk arogansi karena hingga kini belum ada pernyataan resmi dari Indri Wahyuni maupun Dyastasita Widya Budi.

“Saya belum melihat dari para juri yang melakukan misalnya membuat pernyataan maaf secara resmi kan begitu.

Baca juga: Cuaca Medan Hari Ini 15 Mei 2026, Hujan Merata di Malam Hari

Jadi sepertinya masih sangat arogan dengan keputusan mereka,” ucap Indra sebagaimana dikutip dari YouTube Kompas TV.

(*/tribun-medan.com)

Sumber: tribun-bogor.com/Kompastv/ Tribunnews

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved