Berita Viral

SOSOK Monica Witt Eks Agen AS Membelot ke Iran, Kini Diburu FBI, AS Buka Sayembara Rp 3,2 Miliar

Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) memburu Monica Witt, eks intelijen AS yang membelot ke Iran. 

Tayang:
TRIBUN MEDAN
FBI menawarkan USD 200 ribu atau sekitar Rp3,2 miliar untuk informasi keberadaan Monica Witt.  

TRIBUN-MEDAN.com - Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) memburu Monica Witt, eks intelijen AS yang membelot ke Iran. 

FBI menawarkan USD 200 ribu atau sekitar Rp3,2 miliar untuk informasi keberadaan Monica Witt

Monica Witt merupakan mantan agen militer dan kontraintelijen AS yang dituduh memata-matai untuk Iran.

Dalam pernyataannya pada Kamis (14/5/2026) waktu setempat, kantor lapangan FBI di Washington menyebut Witt masih berstatus buron meski telah didakwa oleh dewan juri federal di Distrik Columbia sejak Februari 2019.

Ia menghadapi sejumlah dakwaan serius, termasuk spionase dan transfer informasi pertahanan nasional Amerika Serikat kepada pemerintah Iran.

Baca juga: KELAKUAN Dokter Nakal di RSUD, Antrean Sudah Panjang, Tapi Dokter Masih Sarapan Hingga Jelang Siang

Baca juga: TRAGIS Bocah 13 Tahun di Bekasi Bunuh Teman Sebaya Gegara Perempuan, Bermula Saling Ejek di Medsos

Pernah Bertugas di Intelijen Angkatan Udara AS

Monica Witt merupakan mantan spesialis intelijen Angkatan Udara AS sekaligus agen khusus di Kantor Investigasi Khusus Angkatan Udara (Air Force Office of Special Investigations).

Ia bertugas di militer AS antara 1997 hingga 2008 sebelum melanjutkan pekerjaan sebagai kontraktor pemerintah Amerika Serikat hingga 2010.

Menurut FBI, posisi tersebut memberinya akses terhadap informasi rahasia tingkat tinggi terkait intelijen asing dan kontraintelijen, termasuk identitas asli agen rahasia di komunitas intelijen AS.

Akses terhadap data sensitif itu membuat kasus Witt dipandang sebagai salah satu pembelotan paling serius yang melibatkan mantan personel intelijen Amerika dalam beberapa tahun terakhir.

FBI menyebut Witt membelot ke Iran pada 2013 dan sejak saat itu diduga memberikan berbagai informasi sensitif kepada pemerintah Iran.

Menurut dakwaan, tindakan tersebut membahayakan program pertahanan nasional AS dan mengancam keselamatan personel intelijen Amerika beserta keluarga mereka yang berada di luar negeri.

Ia juga dituduh membantu rezim Iran melakukan riset dan identifikasi terhadap mantan koleganya di pemerintahan AS untuk dijadikan target operasi intelijen.

CNN sebelumnya melaporkan bahwa pejabat AS meyakini Witt direkrut oleh Iran sebelum akhirnya membelot. Setelah pindah ke Iran, ia disebut membocorkan keberadaan program intelijen rahasia Amerika dan identitas seorang perwira intelijen AS.

Baca juga: KRONOLOGI Driver Ojek Online Tewas Kecelakaan Bersama Ibu, Tinggal Berdua Sejak Sang Ayah Meninggal

Diduga Dapat Fasilitas oleh Pemerintah Iran

Berdasarkan dokumen dakwaan, setelah membelot Witt menerima berbagai fasilitas dari pejabat Iran, termasuk tempat tinggal dan perangkat komputer untuk mendukung aktivitasnya.

Dakwaan tersebut juga menyeret empat warga negara Iran yang dituduh terlibat dalam konspirasi, percobaan peretasan komputer, dan pencurian identitas yang diperberat.

Kasus ini memperlihatkan bagaimana perang intelijen antara Amerika Serikat dan Iran tidak hanya berlangsung melalui operasi siber dan diplomasi, tetapi juga melalui perekrutan aset manusia di dalam institusi strategis.

Simbol Rivalitas Intelijen AS-Iran

Kasus Monica Witt menjadi simbol meningkatnya rivalitas keamanan dan intelijen antara Washington dan Teheran dalam satu dekade terakhir.

Di tengah ketegangan geopolitik yang terus meningkat, terutama terkait program nuklir Iran dan konflik di Timur Tengah, pembelotan mantan agen intelijen dianggap sebagai ancaman serius terhadap keamanan nasional AS.

Langkah FBI menawarkan hadiah besar juga menunjukkan bahwa pemerintah AS masih menganggap Witt sebagai target prioritas tinggi dalam operasi kontraintelijen mereka.

Hingga kini, keberadaan Monica Witt belum diketahui secara pasti dan otoritas AS menduga ia masih berada di Iran atau berada dalam perlindungan jaringan yang terkait dengan pemerintah Teheran.

(*/tribun-medan.com)

Artikel sudah tayang di tribunnews.com

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved