Berita Viral

Tanggapan MPR SMAN 1 Pontianak Tolak Tanding Ulang LCC, Federasi Guru Beber Kesalahan Juri Penyebab

Ditolak tanding ulang. Sementara MPR sudah mempersiapkan jadwal ulang pelaksanaan lomba.

Tayang:
Editor: Salomo Tarigan
IST
VIRAL CERDAS CERMAT: MPR Siapkan jadwal tanding ulang Lomba Cerdas Cermat imbas viral kesalahan juri. SMAN Pontianak menolak 

TRIBUN-MEDAN.com - Meski merasa dicurangi juri, SMAN 1 Pontianak menolak pelaksanaan final ulang Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat.

Sementara MPR sudah mempersiapkan jadwal ulang pelaksanaan lomba.

Bagaimana Tanggapan MPR?

Baca juga: Lomba Cerdas Cermat MPR Diulang, SMAN 1 Pontianak tak Mau Ikut, Dampak Psikologis Kesalahan Juri

Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno menghormati keputusan SMAN 1 Pontianak, yang menolak pelaksanaan ulang Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat.

MC DAN JURI - 3 Sosok Kontroversial Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar, MC Sindy, juri dari kepegawaian MPR Indri dan Dyastasita Buat Publik Geram (Tribun Medan Kolase)
MC DAN JURI - 3 Sosok Kontroversial Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar, MC Sindy, juri dari kepegawaian MPR Indri dan Dyastasita Buat Publik Geram (Tribun Medan Kolase) (Tribun Medan Kolase)


Eddy mengungkapkan, pihak MPR RI saat ini masih menunggu surat resmi dari SMAN 1 Pontianak untuk selanjutnya dibahas dalam rapat internal guna menentukan keputusan lanjutan terkait permintaan tersebut.

Baca juga: Keracunan MBG Ratusan Siswa Korban di Cakung, Investigasi Dinkes Ada Cemaran Mikrobiologi


“Kan secara terbuka ke publik sudah disampaikan sesuai dengan statement publik yang disampaikan oleh SMAN 1. Nah tentu kami selaku penyelenggara dari LCC menunggu dari SMAN 1 untuk bisa mengirimkan juga kepada MPR secara resmi,” kata Eddy, kepada wartawan, Jumat (15/5/2026).

.


Eddy menyebut, surat resmi tersebut diperlukan agar MPR RI dapat segera mengambil keputusan baru terkait polemik pelaksanaan ulang lomba.


“Sehingga nanti di MPR kita bisa rapatkan keputusan dan membuat keputusan baru agar apa yang diminta oleh teman-teman SMAN 1 itu bisa tentu kita penuhi berdasarkan surat permintaan yang mereka kirimkan,” katanya.


Eddy juga mengapresiasi sikap SMAN 1 Pontianak yang tetap mendukung SMA Sambas untuk melaju ke babak final LCC.


Ia menilai, langkah tersebut menunjukkan sikap legawa dan jiwa kesatria dari pihak sekolah.


“Kami menghormati dan mengapresiasi apa yang sudah diputuskan oleh SMAN 1, apalagi mengatakan bahwa SMAN 1 akan mendukung SMA Sambas untuk maju nanti di final. Saya kira ini sebuah sikap legowo dan kesatria yang ditunjukkan oleh pimpinan SMAN 1,” ujarnya.


Selain itu, Eddy juga menyambut baik komitmen SMAN 1 Pontianak yang menyatakan tetap akan mengikuti ajang LCC pada tahun-tahun mendatang.


“Apalagi mereka juga mengatakan bahwa tahun-tahun depan akan tetap ikut menjadi peserta di LCC. Jadi artinya semangatnya tidak surut dan ini kami sangat hargai,” ucapnya.


Eddy menilai, sikap yang ditunjukkan SMAN 1 Pontianak mencerminkan semangat kebangsaan yang menjadi tujuan utama sosialisasi Empat Pilar MPR RI.


“Dan inilah sesungguhnya semangat keindonesiaan yang kami ingin bangun melalui sosialisasi empat pilar kebangsaan MPR RI,” tandasnya.

Untuk diketahui, SMAN 1 Pontianak memberikan tanggapan resmi terkait polemik Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI di Kalimantan Barat pada Sabtu (9/5/2026) lalu.

Mereka menegaskan tidak akan mengikuti tanding ulang LCC yang sebelumnya diumumkan oleh MPR RI.

Sebaliknya, pihak sekolah memilih menghormati hasil akhir lomba dan mendukung SMAN 1 Sambas untuk maju mewakili Kalbar ke tingkat nasional.

Baca juga: Awalnya Kenal di Medsos Bertengkar soal Wanita, Anak 13 Tahun Tewas Ditikam Temannya

Tanggapan Federasi Guru soal Penolakan

Federasi Seluruh Guru Indonesia (FSGI) merespons rencana MPR RI untuk mengulang final Lomba
Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar di Kalimantan Barat.
MPR menyebut langkah tersebut sebagai upaya perbaikan dan menjaga kepercayaan publik.
Ketua Umum FSGI, Fahriza Marta Tanjung, menambahkan, pihak menolak gelaran LCC 4 pilar itu karena kesalahan juri seharusnya menjadi tanggung jawab penyelenggara.
Dikatakan, bukan dibebankan kepada peserta dengan cara mengulang kompetisi.
 
"Kesalahan juri tidak boleh dibebankan kepada peserta. Anak-anak sudah berjuang secara sportif dan hasil lomba seharusnya tetap dihormati," ujar Fahriza di Jakarta, Kamis (14/5).
 
Ditambahkan Ketua Dewan Pakar FSGI Retno Listyarti, pengulangan lomba bukan langkah tepat karena berpotensi psikologis pada peserta didik.
 
“Keputusan ini sekilas terlihat adil, tetapi justru dapat menjadikan anak-anak sebagai korban kebijakan,” ujar Retno.
 
FSGI menegaskan sejumlah alasan penolakan pengulangan, di antaranya: kemenangan peserta merupakan hasil kerja keras.

Kesalahan Juri Berdampak pada Psikologis

Walau SMAN 1 Sambas mungkin diuntungkan dengan ketidakcermatan dewan juri, namun itu bukan kesalahan peserta didik dari SMAN 1 Sambas ini, itu kesalahan Dewan Juri yang tidak profesional. 
"Jangan karena kesalahan dewan juri, anak-anak ini menjadi korban," ujar Fahriza.
Jika kecurangan dari peserta, maka langkahnya bukan diulang tapi peserta yang curang itu di diskualifikasi.
Di sisi lain, jika LCC 4 Pilar di Kalimantan Barat akan diulang, maka dapat dipastikan seluruh
peserta didik, semua sekolah harus mempersiapkan ulang dan bisa jadi yang menang
bukan SMAN 1 Sambas dan mungkin juga bukan SMAN 1 Pontianak. 
"Ada potensi dampak psikologis, beban biaya tambahan bagi negara dan sekolah, serta kemungkinan munculnya sengketa hukum," jelas dia.
FSGI meminta MPR untuk fokus pada evaluasi sistem dan perbaikan mekanisme penjurian agar kejadian serupa tidak terulang, bukan dengan mengulang lomba yang sudah selesai.
“Yang paling penting adalah memastikan kejadian ini tidak terulang kembali,” tegas Komisioner KPAI Periode 2017-2022 itu.

Tuai Kritik, Juri Belum Minta Maaf

Hingga saat ini, kedua dewan juri tersebut belum menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada publik.

Sikap diam kedua juri ini menuai kritik dari Pengamat Pendidikan, Indra Charismiadji.

Ia menilai sikap tersebut sebagai bentuk arogansi karena hingga kini belum ada pernyataan resmi dari Indri Wahyuni maupun Dyastasita Widya Budi.

“Saya belum melihat dari para juri yang melakukan misalnya membuat pernyataan maaf secara resmi kan begitu.

Baca juga: Cuaca Medan Hari Ini 15 Mei 2026, Hujan Merata di Malam Hari

Jadi sepertinya masih sangat arogan dengan keputusan mereka,” ucap Indra sebagaimana dikutip dari YouTube Kompas TV.

Baca juga: Muncul Santriwati Senior Korban Kiai Ashari, 13 Tahun Bungkam Bongkar Prilaku Bejat Pelaku

Baca juga: Awalnya Kenal di Medsos Bertengkar soal Wanita, Anak 13 Tahun Tewas Ditikam Temannya

*/tribun-medan.com

Sumber: Kompastv/ Tribunnews

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan

 

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved