Berita Viral

ALASAN Oknum BAIS TNI Serang Andrie Yunus dengan Siram Air Keras: Supaya Lebih Cepat dan Praktis

Terungkap alasan oknum BAIS TNI serang aktivis KontraS Andrie Yunus dengan disiram pakai air keras

Tayang:
TRIBUN MEDAN/TRIBUNNEWS
AIR KERAS: Wajah dua terduga pelaku penyiraman air keras ke Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus yang diungkap Polda Metro Jaya dalam konferensi pers, Kamis (18/3/2026). 

Aksi penyiraman itu akhirnya dilakukan di Jalan Salemba, Jakarta Pusat, pada 12 Maret 2026 malam dengan cara membuntuti korban dan melakukan aksi putar balik melawan arah untuk melakukan penyiraman secara presisi.

Akibat campuran bahan kimia tersebut, korban dilaporkan mengalami efek panas dan gatal. Bahkan, Terdakwa 2 pun mengaku ikut merasakan dampak senjatanya sendiri saat melakukan eksekusi.

"Yang dirasakan saat itu adalah panas. Gatal keesokan harinya," pungkasnya.

Baca juga: Dirut PUD Pasar Serahkan Laporan ke Kejari Medan soal Dugaan Korupsi Pengelolaan Aset


Penyiraman Air Keras ke Andrie Yunus Cuma Dianggap Kenakalan

Pada sidang sebelumnya di Pengadilan Militer II-08 Jakarta Kamis (7/5/2026) lalu, mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI Laksamana Muda (Purn) Ponto dihadirkan sebagai ahli oleh tim penasihat hukum keempat terdakwa.

Dalam persidangan, majelis hakim menanyakan pendapat Ponto terkait tindakan keempat terdakwa yakni Serda (Mar) Edi Sudarko, Lettu (Mar) Budhi Hariyanto Widhi, Kapten (Mar) Nandala Dwi Prasetia, dan Lettu (Pas) Sami Lakka terhadap Andrie.

Hal itu mengingat menurut majelis hakim, tindakan keempat terdakwa kontradiktif dengan apa yang disampaikan Ponto di awal persidangan terkait standar operasi intelijen strategis atau intelijen militer di BAIS TNI setidaknya 13 tahun lalu.

Menjawab hal itu, Ponto menyebut tindakan para terdakwa kenakalan.

"Jadi kalau dilihat ini, itu sama sekali tidak masuk operasi intelijen. Kalau saya sebagai Kepala BAIS saat itu, atau sekarang misalkan saya atasannya, ya melihat itu kenakalan. Kita akan melihat itu kenakalan. Itulah kenakalan orang-orang yang terpilih, terdidik, terlatih," kata Ponto dalam persidangan saat itu.

"Ketika dia menemukan sesuatu pemicu, kita sambung tadi apa yang disampaikan ahli 2 (psikolog forensik Reza Undragiri Amriel), kita tidak tahu di hatinya ini ada apa yang sedang bergejolak. Tetapi ketika menemukan pemicu, maka muncullah ide-ide kenakalan seperti ini," lanjut Ponto.

*/tribun-medan.com

artikel ini telah tayang di Tribunnews

Sumber: Tribunnews
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved