Berita Viral

DISERBU Netizen, MC LCC 4 Pilar MPR, Shindy Lutfiana Muncul Minta Maaf: Tidak Patut Saya Sampaikan

MC Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI, Shindy Lutfiana meminta maaf atas ucapan dan sikapnya yang tidak netral. 

Tayang:
Tangkapan layar
VIRAL CERDAS CERMAT MPR: Master of ceremony (MC) lomba cerdas cermat MPR RI kena mental usai viral. Di sisi lain, penonton membongkar kisah di balik layar lomba. 

TRIBUN-MEDAN.com - MC Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI, Shindy Lutfiana meminta maaf atas ucapan dan sikapnya yang tidak netral. 

Lomba Cerdas Cermat di Kalimantan Barat ini menjadi sorotan media sosial karena menyalahkan siswa yang benar menjawab. 

Akun medsos Shindy mendadak hilang setelah menjadi sorotan warganet.  

Lantas, bagaimana dengan 2 juri, Dyastasita Widya Budi dan Indri Wahyuni, yang dianggap menyalahkan peserta yang mengajukan protes atas jawabannya?

Sayangnya, hingga kini, belum kedua juri tersebut belum muncul ke publik untuk memberi penjelasan atas apa yang telah disampaikan dalam acara tersebut.

Dalam polemik tersebut, Dyastasita bersikeras bahwa peserta dari SMAN 1 Pontianak tidak menyebut unsur DPD dalam jawabannya, meski peserta merasa telah menyampaikan kalimat yang sama dengan tim lawan.

Sementara Indri Wahyuni menilai persoalan terjadi karena artikulasi peserta dianggap tidak jelas.

“Artikulasi itu penting. Jadi biasakan menjawab itu dengan artikulasi yang jelas,” ujar Indri saat lomba berlangsung.

Dikutip dari Tribunnews.com, merespons polemik yang terus membesar, Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia akhirnya mengambil langkah tegas.

Baca juga: Polsek Saipar Dolok Hole Gelar Santunan Anak Yatim, Perkuat Kedekatan dengan Warga

Baca juga: Dalam Semalam, Sat Narkoba Polres Pelabuhan Belawan Gerebek Dua Lokasi dan Tangkap Tiga Tersangka

MPR RI mengumumkan penonaktifan seluruh juri dan pembawa acara yang terlibat dalam LCC Empat Pilar 2026 tingkat Kalimantan Barat.

Selain Dyastasita dan Indri, dua MC yakni Shindy Lutfiana dan Said Akmal juga ikut dinonaktifkan sementara.

“Terkait ramainya pemberitaan di media sosial tentang LCC Empat Pilar 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Barat, mengenai penilaian jawaban peserta pada salah satu sesi lomba, panitia pelaksana dari Sekretariat Jenderal MPR RI telah menonaktifkan Dewan Juri dan MC pada kegiatan LCC ini,” tulis pernyataan resmi MPR RI.

MPR RI juga memastikan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap mekanisme penilaian, sistem verifikasi jawaban peserta, hingga tata kelola keberatan dalam perlombaan agar kasus serupa tidak kembali terjadi.

MC Shindy Minta Maaf

Sementara itu, seusai menjadi sorotan, setelah dianggap tidak netral saat peserta dari SMAN 1 Pontianak memprotes keputusan dewan juri, Shindy muncul dan menyampaikan permintaan maafnya.

Saat itu, peserta mempertanyakan alasan jawaban mereka dinyatakan salah, sementara tim lain yang memberi jawaban serupa justru mendapat poin penuh.

Namun di tengah perdebatan tersebut, Shindy sempat melontarkan kalimat yang kemudian memicu kritik luas dari publik.

“Mungkin itu hanya perasaan adik-adik saja,” ujar Shindy kala itu.

Ucapan tersebut dinilai sebagian netizen meremehkan keberatan peserta yang merasa dirugikan.

Setelah video lomba viral, Shindy akhirnya menyampaikan permintaan maaf melalui akun Instagram pribadinya pada Selasa (12/5/2026).

“Dengan segala kerendahan hati, saya menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas semua ucapan saya, terutama yaitu: ‘mungkin itu hanya perasaan adik-adik saja’ yang seharusnya tidak patut saya sampaikan dalam kapasitas saya sebagai MC pada kegiatan tersebut,” tulis Shindy.

Ia mengaku menyesali ucapannya dan memahami adanya pihak yang merasa kecewa atas pernyataan tersebut.

“Atas kejadian tersebut, dari lubuk hati saya yang paling dalam, saya memohon maaf kepada seluruh pihak yang merasa kecewa, tersakiti, maupun terdampak oleh ucapan-ucapan saya,” lanjutnya.

Shindy juga berjanji akan menjadikan insiden itu sebagai evaluasi pribadi agar lebih berhati-hati saat membawakan acara di masa mendatang.

Kronologis Singkat

Polemik ini berawal ketika peserta dari SMAN 1 Pontianak memprotes keputusan dewan juri yang menyebut jawabannya salah terkait pertanyaan yang menyangkut mekanisme pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Protes tersebut disampaikan setelah jawaban sama persis yang disampaikan oleh tim dari SMAN 1 Sambas justru dinyatakan benar.

"Mohon maaf, jawaban yang kami sampaikan sama," kata peserta tersebut.

Lalu, salah satu juri yakni Dyastasita, membantah jawaban dari peserta SMAN 1 Pontianak sama dengan SMAN 1 Sambas.

Perbedaan yang dimaksud tentang tidak adanya penyebutan DPD dalam pertimbangan pemilihan anggota BPK.

Namun, peserta SMAN 1 Pontianak meyakini telah menjawab sama seperti yang disampaikan oleh peserta dari SMAN 1 Sambas.

"Tadi disebutkan regu C (SMAN 1 Pontianak) itu (jawabnya) pertimbangan dari DPD-nya tidak ada. DPR tadi (jawabnya)," kata Dyastasita.

"Ada (jawaban pertimbangan DPD). Tadi saya jawabnya seperti ini anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan oleh Presiden," jawab peserta.

Hanya saja, Dyastasita tetap tidak yakin peserta dari SMAN 1 Pontianak menjawab seperti yang disampaikan tersebut.

Lalu, peserta ingin meminta pandangan lain seperti dari penonton untuk mengkonfirmasi terkait jawabannya.

Kemudian, Dyastasita menegaskan keputusan dewan juri adalah mutlak. Lalu, pembawa acara juga meminta agar peserta menerima keputusan dari juri.

Jika masih ingin melakukan protes, pembawa acara meminta agar peserta mengecek tayangan ulangnya.

"Mohon diterima adik-adik terkait keputusan dewan juri karena tentunya dewan juri yang hadir hari ini sudah sangat berkompeten dan sangat teliti untuk mendengarkan jawaban dari adik-adik. Mungkin itu hanya perasaan adik-adik saja," kata Shindy.

"Nanti mungkin bisa dilihat tayangan ulangnya setelah acara selesai," imbuhnya.

Selanjutnya, ada juri lain, yakni Kepala Badan Sekretariat Badan Sosialisasi MPR RI, Indri Wahyuni, yang menganggap artikulasi peserta SMAN 1 Pontianak tidak jelas saat menjawab pertanyaan.

Dia menilai hal tersebut menjadi penyebab jawaban peserta dianggap salah oleh dewan juri.

"Kan sudah diperingatkan sejak awal. Artikulasi itu penting. Jadi biasakan menjawab itu dengan artikulasi yang jelas. Dewan juri kalau menurut kalian sudah (terdengar) tetapi dewan juri menilai kalian tidak (benar) karena tidak mendengar artikulasi kalian dengan jelas ya artinya dewan juri berhak memberikan (pengurangan) nilai -5," katanya.

Di sisi lain, peserta dari SMAN 1 Sambas dinyatakan sebagai juara dalam kompetisi ini dan berhak mewakili Provinsi Kalbar di tingkat nasional.

(*/tribun-medan.com)

Artikel sudah tayang di tribun-lampung.com

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved