Berita Nasional

Utang RI Nyaris Rp 10.000 Triliun, Menteri Purbaya Sebut Masih Aman, Beda dengan Jepang dan AS

Purbaya Yudhi Sadewa kemudian membandingkan rasio utang Indonesia dengan sejumlah negara lain yang dinilai memiliki angka jauh lebih tinggi.

Tayang: | Diperbarui:
Instagram @pyudhisadewa
PENERBITAN PANDA BOND- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berencana menerbitkan Panda Bond. Panda Bond adalah obligasi atau surat utang yang diterbitkan dalam mata uang yuan (renminbi) oleh entitas asing di pasar keuangan domestik China. 

TRIBUN-MEDAN.com - Jumlah utang pemerintah Indonesia mendekati Rp10.000 triliun, dianggap masih aman dan terkendali oleh Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa.

Pernyataan tersebut disampaikan Purbaya Yudhi Sadewa saat memberikan media briefing di Kementerian Keuangan pada Senin (11/5/2026).

Menurutnya, kenaikan nominal utang pemerintah masih tergolong wajar karena rasio utang terhadap produk domestik bruto atau PDB Indonesia masih berada jauh di bawah batas maksimal yang ditetapkan Undang-Undang Keuangan Negara.

“Masih aman, masih sekitar 40 persen lebih sedikit,” kata Purbaya Yudhi Sadewa.

Baca juga: LIGA INGGRIS - 2 Syarat Arsenal Juara Lebih Cepat, Siap-siap Berpesta Pekan Depan

Ia menjelaskan bahwa rasio utang Indonesia saat ini berada di level 40,75 persen, sedangkan batas maksimal yang diperbolehkan undang-undang mencapai 60 persen dari PDB.

Purbaya Yudhi Sadewa kemudian membandingkan rasio utang Indonesia dengan sejumlah negara lain yang dinilai memiliki angka jauh lebih tinggi.

Menurutnya, beberapa negara di Asia hingga negara maju memiliki rasio utang yang melampaui Indonesia.

“Singapura 180 persen, Malaysia 60 persen lebih, Thailand juga tinggi. Kita termasuk paling hati-hati dibanding negara-negara sekeliling kita. Dibanding AS juga, dibanding Jepang,” katanya.

Baca juga: Pria di Medan Amplas Ditangkap, Polisi Amankan 100 Gram Ganja yang Siap Diedarkan

Purbaya Yudhi Sadewa menilai selama ini pemerintah telah mengelola utang secara hati-hati dan terukur demi menjaga stabilitas fiskal negara.

Karena itu, ia menyayangkan masih adanya pihak yang hanya menyoroti besarnya nominal utang tanpa melihat rasio maupun kemampuan pemerintah dalam mengelola pembiayaan negara.

“Harusnya Anda puji-puji kita. Cuma enggak pernah kan? Kenapa Anda lihat dari sisi negatif terus?” ujarnya.

Berdasarkan laporan Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko atau DJPPR, sebagian besar utang pemerintah berasal dari instrumen surat berharga negara atau SBN.

Per akhir Maret 2026, nilai outstanding SBN tercatat mencapai Rp8.652,89 triliun atau sekitar 87,22 persen dari total utang pemerintah.

Baca juga: Fakta Nenek 80 Tahun Disekap Calon Menantu, Pelaku Gasak Tabungan Rp 2 M dan Emas Demi Foya-fota

Sementara itu, pinjaman pemerintah tercatat sebesar Rp1.267,52 triliun atau sekitar 12,78 persen dari total keseluruhan utang.

Dengan demikian, total utang pemerintah Indonesia hingga akhir Maret 2026 mencapai Rp9.920,42 triliun.

Jumlah tersebut mengalami kenaikan sekitar Rp282,52 triliun dibanding posisi akhir Desember 2025 yang berada di angka Rp9.637,90 triliun.

Pemerintah sebelumnya juga menegaskan bahwa strategi pembiayaan utang akan tetap diarahkan untuk menjaga kesinambungan fiskal nasional, memperluas basis investor, serta mengurangi ketergantungan terhadap pembiayaan luar negeri berbasis dolar Amerika Serikat.

(Tribun-Medan.com)

Artikel ini telah tayang di Tribuntrends.com

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved