Kecelakaan Bus ALS di Muratara
Ratapan Anwarudin Rekam Video Detik-detik Anak-Menantu-Cucu Naik Bus ALS, Jadi Kenangan Selamanya
Sambil mengarahkan kamera ponsel, Anwarudin merekam detik-detik putranya, menantu, dan sang cucu beranjak naik Bus ALS
TRIBUN-MEDAN.com - Sambil mengarahkan kamera ponsel, Anwarudin (54) merekam detik-detik putranya, menantu, dan sang cucu beranjak naik Bus ALS rute Semarang menuju Medan, Sumatra Utara (Sumut).
Nahas, hitungan jam Anwarudin menerima kabar buruk. Bus ALS yang ditumpangi ketiganya menabrak truk tangki lalu terbakar hebat di Muratara, Sumatera Selatan (Sumsel), Rabu (6/5/2026) siang.
Tiga penumpang bus ALS itu adalah pasangan muda Aldi Sulistiawan (26) dan Rani (24), serta putri kecil mereka yang baru berusia 1 tahun 8 bulan, bernama Bela.
Ketiganya berangkat dari wilayah Way Tuba, Kabupaten Way Kanan, Lampung. Tujuannya menuju Pekanbaru, untuk memulai kehidupan baru yang mandiri.
Takdir berkata lain. Belum sampai tujuan, ketiganya meninggal dunia.
Usai kejadian nahas tersebut, rekaman video yang ada di ponsel Anwarudin, beredar di media sosial (medsos). Ucapan duka cita pun mengalir terhadap keluarga besar Aldi.
Dalam rekaman video yang beredar, suasana di area pintu bus awalnya tampak seperti keberangkatan biasa.
Terlihat seorang awak bus berjaket merah sedang sibuk mencatat manifes penumpang, sementara beberapa pria lain saling bantu memasukkan barang bawaan ke dalam bagasi.
Di tengah kesibukan itu, kamera menangkap sosok Rani yang tengah menggendong erat buah hatinya, Bela.
Rani tampak bersiap melangkah naik ke dalam bus. Menyusul di belakangnya, Aldi Sulistiawan yang terlihat sigap membantu.
Mengenakan setelan berwarna hitam, Aldi tampak membawa cukup banyak barang bawaan. Di antaranya, selimut bayi milik Bela.
Baca juga: Baru Nikah, Permintaan Terakhir Ariyanto Sopir Tangki Tewas Adu Kambis vs Bus ALS
Dokumentasi Perpisahan
Anwarudin, ayah kandung Aldi, tidak menyangka jika niatnya mendokumentasikan keberangkatan sang anak menjadi momen perpisahan untuk selamanya.
"Saya yang antar langsung sampai ke loket. Saya sempat rekam momen mereka berangkat. Aldi itu tinggal di Way Kanan, Lampung, sehari-hari kerja serabutan," kenang Anwarudin di RS Bhayangkara Palembang, Kamis (7/5/2026).
Anwarudin menceritakan bahwa hari itu ia mengantarkan anak, menantu, dan cucunya untuk merantau ke Pekanbaru.
Mereka berharap bisa memperbaiki nasib dengan bekerja di perkebunan sawit setelah diajak oleh kerabat.
Berdasarkan komunikasi terakhir, Anwarudin mengungkapkan bahwa perjalanan tersebut memang sudah terasa tidak nyaman sejak awal.
Sang anak sempat mengirim kabar melalui pesan singkat mengenai kondisi di dalam bus.
"Anak saya sempat kasih kabar. Katanya bus sempat mogok cukup lama, dan dia mengeluhkan sopir yang membawa bus secara ugal-ugalan," ungkapnya.
Kini, di tengah duka yang mendalam, Anwarudin hanya berharap adanya keadilan dan tanggung jawab dari pihak manajemen bus.
"Harapan saya, mudah-mudahan PO ALS bertanggung jawab penuh kepada para korban. Kami mohon bantuannya untuk pertanggungjawaban mereka," pungkasnya.
Sudah Beli Tiket Bus Handoyo
Hambali, ayah Rani, menuturkan perjalanan Aldi beserta istri dan anaknya, sempat beberapa kali tertunda sebelum akhirnya berangkat menggunakan bus yang mengalami kecelakaan.
Awalnya, mereka telah memesan tiket Bus Handoyo, namun gagal berangkat karena bus tidak mau menunggu saat kereta api melintas terlalu lama.
Upaya keberangkatan berikutnya juga tertunda lantaran tidak adanya jadwal bus.
“Awalnya bukan bus itu yang mau ditumpangi. Tapi karena tertunda terus, akhirnya naik bus yang kecelakaan itu,” ujar Hambali.
Ia menjelaskan, anak dan menantunya sempat hendak menggunakan bus lain dari wilayah Way Tuba, Lampung.
Namun berbagai kendala, termasuk keterlambatan akibat perjalanan kereta, membuat keberangkatan kembali tertunda hingga akhirnya mereka memilih bus nahas tersebut pada Rabu (6/5/2026).
Dalam kecelakaan itu, Hambali kehilangan tiga anggota keluarganya sekaligus, yakni anaknya Rani, menantunya Aldi, dan cucunya Bela yang masih balita.
Di tempat yang sama, paman korban, Ramdi, juga mengungkapkan kesedihan mendalam atas kepergian keponakannya.
Menurutnya, Aldi dan Rani berangkat ke Pekanbaru dengan niat hidup mandiri di sana.
“Aldi pergi bersama Rani ke sana hendak usaha di Pekanbaru. Sempat kami larang, namun mereka ingin hidup mandiri di sana,” katanya.
Ramdi menambahkan, seminggu sebelum keberangkatan, keluarga sebenarnya telah menyiapkan bahan bangunan seperti pasir dan semen agar Aldi dan Rani membangun rumah di kampung halaman.
Namun pasangan tersebut tetap memutuskan merantau.
“Kami awalnya tidak memberikan izin mereka untuk berangkat. Seminggu sebelumnya kami sudah membelikan pasir dan semen untuk mereka bangun rumah di sini. Namun mereka tetap mau pergi, kami juga tidak menyangka adanya peristiwa ini,” ujarnya. (*/tribunmedan.com)
Artikel ini sudah tayang di TribunSumsel.com
Multiangle
Kecelakaan Bus ALS di Muratara
ALS
16 Korban Tewas kecelakaan bus als
Aldi Sulistiawan
pasutri dan anak tewas kecelakaan Bus ALS
| SOSOK Maleh Sopir Cadangan ALS Kecelakaan, Sedang Istirahat dalam Bus: Keluarga Sempat tak Percaya |
|
|---|
| ALS Koreksi Jumlah Korban Laka Maut di Sumsel Jadi 18 Orang, Seluruh Penumpang Dijamin Jasa Raharja |
|
|---|
| Jalan Berlubang Jadi Penyebab Kecelakaan Adu Kambing Bus ALS vs Truk Tangki di Muratara |
|
|---|
| Bus ALS yang Kecelakaan di Muratara Sumsel Ternyata Armada Berusia 24 Tahun, Beroperasi sejak 2002 |
|
|---|
| Berakhir di Jalur Lintas, Bus ALS Nahas Ternyata Sudah Beroperasi Sejak Tahun 2002 Lalu |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Aldi-dan-keluarganya-korban-kecelakaan-terekam-naik-bus-ALS.jpg)